Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) menilai oditur melanggar hukum sepanjang sidang kasus penyiraman air keras yang digelar di Pengadilan Militer II-08 Jakarta.
“Kami melihat sidang ini sama sekali tidak mewakili kepentingan korban. Itu sangat bertentangan dengan sistem ataupun prinsip hukum pidana Indonesia,”
kata perwakilan TAUD, Daniel Winarta di pengadilan, Senin, 11 Mei 2026.
Daniel menegaskan Andrie memiliki hak sebagai korban dalam kasus yang menimpanya dan hak tersebut diatur dalam hukum nasional, namun sikap oditur menjadi tanda tanya.
“Tapi dalam peradilan militer, oditurat militer itu kepentingan siapa yang diwakili? Apakah kepentingan korban yang merupakan sipil atau kepentingan militer?”
ujar Daniel.
Dalam prinsip hukum pidana, korban semestinya dilibatkan dalam sistem peradilan umum. Kenyatannya, oditur maupun jajaran Pusat Polisi Militer TNI belum pernah meminta keterangan Andrie hingga akhirnya sidang bergulir.






