Dalam menjalani kehidupan tentunya kita kerap dipertemukan dengan berbagai individu beserta sikapnya. Tanpa disadari beragam respon muncul sebagai tanda adanya sebuah interaksi antar individu.
Namun, tidak semua interaksi sesuai atas apa yang diharapkan oleh kedua belah pihak. Sehingga muncul berbagai fenomena sosial salah satunya adalah Toxic Relationship.
Toxic realtionship merupakan sebuah tindakan kurang menyenangkan yang terjadi di dalam sebuah hubungan baik di dalam keluarga, persahabatan dan pasangan.
Toxic relationship atau hubungan beracun merujuk pada hubungan yang merugikan salah satu pihak sehingga dapat berpengaruh pada kondisi psikologis, psikis, maupun dampak merugikan lainnya.
Dikutip dari unair.ac.id, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) Margaretha SPsi PGDip Psych MSc, menjelaskan bahwa ada tiga ciri-ciri toxic relationship.
Pertama, terjadinya isolasi sosial. Isolasi sosial terjadi pada salah satu pihak. Jadi, salah satu pihak ini akan terbatas interaksi sosialnya dengan orang lain.
Membatasi interaksi sosial menjadi salah satu pihak lebih terisolasi. Isolasi ini terjadi supaya saat terjadi kekerasan, pelaku bisa lebih punya kuasa. Keterbatasan interaksi ini membuat korban kehilangan tempat curhat, karena relasi antar teman yang terganggu,”
terangnya.
Kedua, terjadinya perselisihan secara terus menerus dan berpola. Perselisihan memang biasa terjadi dalam sebuah hubungan. Akan tetapi, jika hal ini terjadi terus menerus dan berpola maka harus terus waspada.
Misalnya setiap pasangan kita tersinggung, ia akan bersikap kasar dan tidak suka mendapat kritikan. Konflik sering menjadi cara untuk mengendalikan pasangan. Kalau ingin mengontrol pasangan, maka ia akan marah. Sehingga, agar tidak berselisih korban akan menuruti keinginan pasangannya,”
paparnya.
Ketiga, terjadi penelantaran dan pengabaian. Salah satu bentuk pengabaian adalah penyangkalan atas segala yang terjadi dalam sebuah hubungan.
Pasangan yang tidak mau mengakui adanya kerugian berupa luka terhadap orang lain merupakan bentuk penyangkalan. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan berpikir pasangan.
Istilahnya gaslighting atau memanipulasi. Jadi, ia meragukan kemampuan pasangannya dalam berpikir dan mengambil keputusan,”
tutur Margaretha.
Hubungan yang toxic selalu mengarah pada suatu hal yang negatif pada salah satu pihak. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari jika ia sedang berada di dalam hubungan yang toxic.
Perasaan cinta biasanya diawali dengan suatu yang indah-indah sampai terabaikannya kesadaran akan munculnya toxic relationship.
Karena itu tidak semua hubungan melahirkan adanya toxic relationship. akan tetapi kita harus mengetahui dan menyadari akan adanya toxic relationship agar meminimalisir terjadinya kekerasan termasuk menjadi korban dan tersangka.
Dalam hubungan yang sehat, segala hal yang terjadi seperti rasa tidak nyaman atau bahkan perselisihan akan selalu menemukan jalan keluar. Jalan keluar ini hasil dari proses diskusi antar pasangan yang tengah menjalin asmara.
Kalau ada perasaan tidak nyaman kalau hubungan yang sehat pasti sama-sama akan mencari jalan keluar. Kalau toxic relationship itu terjadi isolasi, konflik, dan juga penyangkalan, penelantaran yang sifatnya berulang,”
tambahnya.


