Lonjakan harga bahan baku, kenaikan biaya administrasi marketplace, serta tarif logistik yang ikut meningkat jadi tekanan berlapis bagi pelaku usaha online. Situasi ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah, yang menyebabkan harga bahan baku dan kemasan plastik naik hingga 40–100 persen, bahkan sebagian hampir dua kali lipat.
Hal ini juga memicu efek domino ke kebijakan marketplace. Sejumlah platform marketplace secara bersamaan menaikkan biaya administrasi menjadi di atas 10 persen. Di sisi lain, ongkos logistik dan biaya retur barang juga mengalami kenaikan.
Rincian Kenaikan Biaya Logistik
Dilansir dari akun Instagram @asiantigerschool, mulai 1 Mei 2026 biaya logistik mengalami penyesuaian di berbagai rute pengiriman. Untuk pengiriman dari Jawa ke berbagai wilayah, kenaikan terlihat pada beberapa kategori layanan:
- Jawa ke Jawa:
Pengiriman standar Rp260–Rp3.000 (rata-rata Rp950), ekonomi Rp100–Rp3.000, kargo Rp1,25–Rp3.000.
- Jawa ke Nusa Tenggara:
Standar Rp920–Rp3.000, ekonomi Rp790–Rp3.000 (rata-rata Rp1.450), kargo Rp1,25–Rp3.000.
- Jawa ke Sumatera:
Standar Rp630–Rp3.000, ekonomi Rp790–Rp3.000 (rata-rata Rp1,75), kargo Rp1,25–Rp3.000.
- Jawa ke Sulawesi:
Standar Rp1,49–Rp3.000, ekonomi Rp1,58–Rp3.000, kargo Rp1,25–Rp3.000.
- Jawa ke Kalimantan:
Standar Rp1,62–Rp3.000, ekonomi Rp730–Rp3.000, kargo Rp1,25–Rp3.000.
- Jawa ke Maluku:
Standar Rp3.000, ekonomi Rp2,83–Rp3.000, kargo Rp3.000.
- Jawa ke Papua:
Standar Rp1,78–Rp3.000, ekonomi Rp3.000, kargo Rp3.000.
Secara keseluruhan, kenaikan biaya berkisar ratusan hingga ribuan rupiah per paket, dengan wilayah Indonesia timur mencatat tarif tertinggi.
Tekanan Baru bagi Pelaku Usaha
Perubahan ini sekaligus menandai pergeseran strategi marketplace. Jika sebelumnya platform gencar memberikan subsidi seperti gratis ongkir dan voucher, kini beban biaya mulai dialihkan ke penjual.
Akibatnya, pelaku usaha yang tidak memiliki cadangan modal besar mulai kesulitan bertahan. Biaya administrasi yang dulu sekitar 5 persen kini bisa mencapai hingga 20 persen, belum termasuk ongkos kirim dan risiko ongkir retur.
Omzet Tinggi Belum Tentu Untung
Namun, banyak penjual masih berfokus pada tingginya penjualan atau omzet, tanpa menghitung biaya secara rinci. Padahal, omzet, GMV, dan keuntungan bersih merupakan hal yang berbeda.
Dalam kondisi biaya yang meningkat, bisnis hanya dapat bertahan jika memiliki margin keuntungan yang sehat, bukan sekadar volume penjualan tinggi.
Margin Keuntungan Menipis
Sebagai contoh, produk makanan dengan harga jual Rp50.000 dan biaya bahan Rp20.000 sebelumnya bisa menghasilkan keuntungan 20–50 persen. Namun kini, setelah ditambah biaya admin 10–20 persen (Rp5.000–Rp10.000), kenaikan kemasan sekitar Rp3.500, dan Logistik dan retur sekitar Rp4.500.
Keuntungan bersih bisa turun drastis hingga di bawah Rp2.000 per produk, belum termasuk biaya operasional seperti gaji, listrik, dan sewa.
Dalam kondisi ini, seller hanya punya dua pilihan, yaitu beralih ke toko offline atau harus pintar-pintar dalam menentukan harga pokok penjualan (HPP) dan mengelola biaya. Tanpa strategi yang tepat, bisnis berisiko merugi meski penjualan terlihat tinggi.


