Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran mengungkapkan sektor pariwisata nasional mulai mengalami pelemahan di tengah tekanan geopolitik global dan menurunnya daya beli masyarakat. Kondisi tersebut terlihat dari tingkat okupansi hotel atau tingkat pemesanan kamar hotel yang mengalami penurunan pada awal 2026, jika dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau kita analisa data BPS dan kondisi real di lapangan. Memang sebenarnya kalau kita lihat kondisi month to month, Januari Februari memang terjadi penurunan sisi okupansi,”
kata Yusran kepada Owrite.
Ia menjelaskan tingkat okupansi sempat mengalami kenaikan pada Maret 2026. Hal ini terjadi karena adanya momentum libur Lebaran dan cuti bersama. Apalagi Ramadan tahun ini berakhir lebih cepat dibandingkan 2025.
“Karena tahun 2025 bulan puasa jatuh pas satu bulan, mulai tanggal 1 Maret sampai tanggal 30 Maret. Sementara di tahun 2026, puasa berakhir pada tanggal 20 maret, sehingga ada sisa kurang lebih seminggu lebih untuk peningkatan yang terjadi,”
ujar Yusran.
Setelah masa libur berakhir, pada April 2026 tingkat okupansi kembali melemah. Selain penurunan kunjungan, industri hotel dan restoran juga dihadapkan dengan kenaikan biaya operasional akibat naiknya harga gas dan minyak dunia.






