Film Ghost in the Cell karya sutradara Joko Anwar terus jadi buah bibir netizen, bahkan sebelum tayang di bioskop.
Tak hanya sukses menarik jutaan penonton, film horor komedi ini juga mencuri perhatian dunia setelah hak distribusinya terjual ke 148 negara.
Kesuksesan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno yang menyebut pencapaian itu sebagai bukti bahwa karya kreatif Indonesia kini mampu bersaing di pasar internasional.
Tak hanya itu sejumlah tokoh dan penonton juga menilai film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dibandingkan film horor Indonesia pada umumnya. Lantas, apa saja yang membuat Ghost in the Cell begitu menarik hingga menuai pujian? Dirangkum dari berbagai sumber berikut tujuh keunikannya.
1. Gabungkan Horor, Komedi, dan Kritik Sosial
Salah satu daya tarik utama Ghost in the Cell adalah keberaniannya memadukan tiga elemen sekaligus, yakni horor, komedi, dan kritik sosial.
Di tengah suasana mencekam, penonton disuguhi berbagai adegan kocak yang mencairkan ketegangan.
Namun di saat yang sama, film ini juga menyelipkan sindiran terhadap isu korupsi, keserakahan, hingga kondisi sosial yang terjadi di masyarakat.
Kombinasi tersebut membuat film ini terasa berbeda dari kebanyakan film horor yang hanya mengandalkan jumpscare atau teror supranatural.
2. Mengangkat Latar Penjara
Jika film horor Indonesia identik dengan rumah tua, desa terpencil, atau bangunan angker, Ghost in the Cell justru mengambil latar utamanya di sebuah penjara.
Konsep ini menghadirkan nuansa baru, karena penjara menjadi tempat berkumpulnya para narapidana dengan berbagai latar belakang dan konflik. Situasi tersebut menciptakan banyak peluang untuk menghadirkan ketegangan sekaligus humor yang tidak terduga.
3. Premisnya yang Unik
Film ini menghadirkan konsep makhluk misterius yang memburu korbannya berdasarkan aura negatif yang dimiliki seseorang.
Premis tersebut menjadi menarik karena ancaman tidak hanya datang dari sosok gaib, tetapi juga dari sifat dan emosi para karakter itu sendiri. Penonton diajak melihat bagaimana para penghuni penjara berusaha mengendalikan kemarahan, dendam, dan kebencian demi bertahan hidup.
4. Humor Absurd yang Mengundang Tawa
Banyak penonton mengaku humor absurd jadi salah satu kekuatan film ini.
Mulai dari adegan pertarungan yang tiba-tiba berubah arah, karakter yang mendadak menari di tengah perkelahian, hingga dialog-dialog kocak yang muncul di saat tidak terduga, yang semuanya memberikan warna tersendiri.
Nuansa komedi seperti ini membuat Ghost in the Cell terasa segar dan tidak sepenuhnya bergantung pada elemen horor.
5. Karakter Geng Narapidana yang Menghibur
Interaksi antar anggota geng narapidana yang dipimpin Anggoro menjadi salah satu bagian yang paling disukai penonton.
Percakapan yang santai, tingkah konyol, dan chemistry antarpemain membuat karakter-karakter ini terasa hidup. Kehadiran mereka jadi penyeimbang di tengah cerita yang penuh misteri dan teror.
Tak sedikit penonton yang menilai kelompok tersebut menjadi “nyawa” film karena berhasil menghadirkan banyak momen menghibur sepanjang cerita.
6. Sarat Simbol dan Kritik terhadap Kekuasaan
Film ini juga menuai perhatian karena banyak memasukkan simbol dan kritik sosial.
Melalui sejumlah karakter, penonton diajak melihat gambaran tentang korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga keserakahan yang dapat merusak kehidupan banyak orang.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto bahkan menilai film ini berhasil menyampaikan kritik terhadap kapitalisme dan imperialisme melalui pendekatan yang kreatif dan mudah dipahami publik.
7. Berhasil Tembus Pasar Internasional
Keunikan terakhir sekaligus pencapaian terbesar Ghost in the Cell adalah keberhasilannya menembus pasar global.
Film ini tercatat telah menjual hak distribusinya ke 148 negara dan mendapat kesempatan tayang perdana di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026.
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa film Indonesia semakin mendapat tempat di industri perfilman dunia. Tak hanya menjadi hiburan, Ghost in the Cell juga membawa nama Indonesia ke panggung internasional.
Di balik kesuksesannya, Ghost in the Cell juga memunculkan beragam pendapat. Sebagian penonton memuji keberanian film ini dalam menyampaikan kritik sosial, sementara sebagian lainnya menilai pesan yang disampaikan terlalu gamblang.
Meski demikian, perdebatan tersebut justru menunjukkan bahwa film ini berhasil memancing diskusi dan perhatian publik.


