Perayaan Hari Ulang Tahun Jakarta bukan hanya menjadi momen untuk melihat wajah baru ibu kota, tetapi juga kesempatan untuk menengok kembali berbagai kenangan yang pernah mewarnai kehidupan warganya.
Seiring bertambahnya usia kota yang kini memasuki tahun ke-499, banyak warga Jakarta mengenang berbagai ikon yang dahulu begitu akrab dalam keseharian, mulai dari Metromini yang lalu-lalang di jalanan, bioskop-bioskop legendaris yang menjadi tempat hiburan favorit, hingga ruang-ruang publik yang menyimpan banyak cerita.
Di tengah perayaan ulang tahun Jakarta, melansir dari berbagai sumber, mari menengok kembali sejumlah ikon yang pernah mewarnai wajah ibu kota.
Meski sebagian telah berubah atau menghilang, kenangannya masih hidup dan terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Metromini
Bagi banyak warga Jakarta, Metromini bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari keseharian yang sulit dilupakan. Dengan kondisi yang sering kali penuh sesak dan gaya mengemudi yang terkenal “berani”, Metromini justru menjadi salah satu ikon transportasi Jakarta pada masanya.
Metromini mulai beroperasi pada 1962. Kehadirannya kala itu bertujuan untuk mendukung kebutuhan transportasi peserta pesta olahraga GANEFO yang digelar di Jakarta. Pada era keemasannya, armada Metromini dirakit menggunakan basis truk ringan seperti Isuzu NKR71, Mitsubishi FE, dan Hino.
Namun, seiring modernisasi sistem transportasi publik, keberadaan Metromini perlahan menghilang dari jalanan ibu kota. Armada yang sudah menua dan kebijakan pembatasan usia kendaraan membuat operasionalnya dihentikan dan digantikan oleh Transjakarta.
Kopaja
Selain metromini, Kopaja juga akrab dengan kehidupan warga Jakarta. Kopaja (Koperasi Angkutan Jakarta) adalah layanan bus sedang berwarna hijau-putih yang didirikan pada 1971 atas anjuran Pemerintah DKI Jakarta untuk menertibkan para pengusaha bus kecil yang beroperasi secara mandiri.
Berbeda dengan Metromini, Kopaja sejak awal dibentuk sebagai koperasi dan warnanya identik dengan putih hijau. Pada 2011, Kopaja meluncurkan armada Executive AC, meski armada non-AC lebih dikenal dengan jendela terbuka.
Seiring pembenahan transportasi publik, Kopaja resmi bergabung ke dalam sistem Transjakarta pada Juni 2015 melalui skema pembayaran berdasarkan kilometer layanan. Kini, Kopaja menjadi bagian dari nostalgia transportasi ibu kota.
Telepon Umum
Dahulu, keberadaannya dapat ditemukan di berbagai sudut kota, mulai dari terminal, stasiun, pusat perbelanjaan, hingga pinggir jalan. Bagi generasi 1980-an dan 1990-an, mencari telepon umum untuk menghubungi keluarga atau teman merupakan hal yang lumrah dilakukan.
Perumtel, yang kini menjadi Telkom, meluncurkan telepon umum koin yang dapat digunakan dengan memasukkan uang logam pecahan Rp100 hingga Rp1.000. Suara khas koin yang dimasukkan ke mesin telepon menjadi kenangan tersendiri bagi banyak orang.
Memasuki awal 2000-an, keberadaan telepon umum mulai tergeser oleh wartel dan telepon seluler yang semakin mudah dimiliki masyarakat.
Tingginya biaya perawatan, serta menurunnya jumlah pengguna membuat layanan ini perlahan ditinggalkan. Pada 2012, sebagian besar telepon umum sudah tidak lagi beroperasi dan kemudian dibongkar.
Taman Ria Senayan
Taman Ria Senayan, salah satu tempat hiburan keluarga yang populer di Jakarta sejak era 1970-an. Taman ini memiliki berbagai wahana permainan, arena rekreasi, panggung pertunjukan, serta ruang terbuka yang kerap menjadi lokasi berbagai acara dan pameran.
Seiring berjalannya waktu, kawasan ini mengalami perubahan dan kini bertransformasi menjadi Senayan Park, pusat perbelanjaan berkonsep semi-outdoor yang dilengkapi area danau serta ruang publik modern.
Tapi bagi warga Jakarta pada masanya, Taman Ria Senayan merupakan destinasi favorit untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.
Suasana taman hiburan dengan permainan komidi putar, bianglala, hingga berbagai wahana anak menjadi nostalgia tersendiri
Bioskop Legendaris Jakarta
Salah satu bioskop paling legendaris di Jakarta adalah Metropole XXI yang dahulu dikenal sebagai Bioskop Metropool dan Megaria.
Berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, bioskop ini dibangun pada 1932 dengan gaya arsitektur Art Deco yang megah dan menjadi salah satu saksi perkembangan dunia hiburan di ibu kota. Hingga kini, Metropole masih beroperasi dan tercatat sebagai bioskop tertua di Jakarta.
Selain itu, ada pula Grand Theater Senen yang pernah menjadi salah satu bioskop terbesar dan paling populer di kawasan Senen. Pada era 1970-an hingga 1990-an, bioskop ini menjadi tujuan favorit warga untuk menonton film-film terbaru.
Meski sebagian bioskop lawas telah tutup atau berubah fungsi, kenangan mengantre tiket, menonton di layar lebar, dan menikmati suasana bioskop tempo dulu masih membekas bagi banyak warga Jakarta.
Jakarta terus berkembang dan menghadirkan wajah baru dari waktu ke waktu. Namun di balik gedung-gedung tinggi, transportasi modern, dan pusat hiburan yang terus bermunculan, tersimpan berbagai kenangan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warganya.
Yang mana yang paling bikin kamu bernostalgia?



