Riuh yel-yel mahasiswa kembali menggema di jalanan ibu kota. Gelombang massa berjaket kuning memadati kawasan pusat kota dalam sebuah aksi unjuk rasa yang berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026. Di tengah hiruk-pikuk demonstrasi serta sorotan kamera para jurnalis, terselip sebuah kisah mengharukan yang menyita perhatian publik.
Momen tersebut terekam dalam video yang dibagikan oleh jurnalis Republika Andi Muhyiddin, melalui akun Instagram pribadinya @andidio. Video itu memperlihatkan pengalaman emosional seorang jurnalis senior yang tengah meliput aksi mahasiswa, namun secara langsung tururt memantau sang anak yang berada di tengah barisan demonstran.
Pemandangan ribuan mahasiswa yang turun ke jalan membawa sang jurnalis kembali pada kenangan hampir tiga dekade silam. Baginya, aksi tersebut bukan sekadar objek liputan, melainkan cerminan dari masa mudanya sebagai bagian dari gerakan mahasiswa tahun 1998.
Unjuk rasa hari ini mengingatkan lagi, 28 tahun silam, gerakan mahasiswa ’98. Saat itu saya ada di tengah kerumunan yang mirip seperti ini. Masih muda, berjaket kuning, dan sedikit berbahaya,”
ujarnya.
Di balik tugas jurnalistik yang menuntut objektivitas, ia mengaku memandang aksi tersebut dengan perasaan yang berbeda. Selain sebagai wartawan, ia juga hadir sebagai seorang ayah yang diliputi rasa cemas.
Di tengah lautan mahasiswa yang memenuhi jalanan, pandangannya terus menyisir kerumunan. Hingga akhirnya, ia menemukan sosok yang sejak tadi dicarinya.
Nah, itu dia. Anak saya juga dengan jaket kuning,”
katanya sambil menunjuk ke arah massa aksi.
Momen itu menjadi simbol estafet perjuangan antar generasi. Jaket kuning yang dahulu dikenakan sang ayah saat memperjuangkan perubahan, kini dikenakan oleh anaknya yang turut menyuarakan aspirasi di ruang demokrasi.
Menurutnya, proses belajar tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Pengalaman terjun langsung ke tengah masyarakat juga menjadi bagian penting dari pendidikan.
Dari dulu saya sadar, belajar itu tidak pernah terbatas di ruang kuliah. Kadang menjaga nurani memang harus dengan turun ke jalan,”
tuturnya.
Ia menilai aksi mahasiswa merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Selama berlangsung secara damai dan tertib, demonstrasi menjadi salah satu cara masyarakat menyampaikan kritik dan aspirasi kepada pemangku kebijakan.
Meski mendukung langkah anaknya, ia tak menampik bahwa rasa khawatir sebagai orang tua tetap ada.
Yang pasti ada rasa khawatir. Namanya juga orang tua. Tapi kami tidak boleh egois. Sebab satu suara seorang demonstran bisa sangat berarti untuk koreksi. Bisa menjadi tanda bahwa masih ada yang peduli,”
ungkapnya.
Di akhir video, sang jurnalis menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna kepada putranya yang berada di tengah kerumunan aksi.
Hati-hati ya, Nak. Bapak pantau dari sini,”
ucapnya.
Kisah tersebut menjadi potret hangat tentang bagaimana nilai-nilai idealisme, kepedulian sosial, dan semangat memperjuangkan aspirasi tidak pernah benar-benar padam. Nilai-nilai itu terus hidup, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sebagai bagian dari perjalanan demokrasi Indonesia.


