Pernah merasa sulit menolak permintaan teman? Atau sering mengiyakan segala sesuatu meski sebenarnya kamu tidak nyaman? Jika iya, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam pola people pleaser, yaitu kebiasaan selalu berusaha menyenangkan orang lain meski harus mengorbankan diri sendiri.
Kalau dilihat sekilas, sikap ini memang terlihat baik. Kamu akan dianggap ramah, peduli, dan mudah diajak bekerja sama dengan siapapun
Namun, hati-hati jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus tanpa batasan yang jelas, kamu kan merasakan kelelahan secara mental, karena kamu akan kehilangan moment untuk me time, hingga merasa dimanfaatkan.
Karena itu, semakin banyak gen z yang mulai menerapkan konsep boundaries atau batasan dalam hubungan. Boundaries bukan tentang menjauh dari orang lain, melainkan cara untuk menjaga diri agar tetap nyaman dan sehat secara emosional.
Psikolog Willy Tasdin dalam kanal YouTube Nous ID menjelaskan boundaries adalah aturan yang dibuat seseorang untuk melindungi dirinya, baik secara fisik maupun psikologis.
Boundaries adalah cara kita menentukan bagaimana orang lain boleh memperlakukan kita dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain,”
jelas Willy.
Dengan adanya batasan yang jelas, kamu bisa menentukan bagaimana orang lain memperlakukanmu dan bagaimana kamu berinteraksi dengan mereka.
Boundaries Bukan Berarti Egois
Salah satu alasan banyak orang sulit membuat batasan adalah karena takut dianggap egois. Padahal, menjaga diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan. Justru dengan memahami batasan yang kamu miliki, hubungan dengan orang lain bisa menjadi lebih sehat dan seimbang.
Misalnya, kamu tidak harus selalu membalas pesan saat itu juga, tidak harus selalu hadir di setiap ajakan teman, atau tidak mesti menceritakan semua hal pribadi kepada orang lain.
Karena pada konsepnya, kamu berhak menentukan apa yang membuatmu nyaman.
Kalau kamu tidak punya boundaries, kamu cenderung akan lebih mudah merasa tertekan karena terus berusaha untuk memenuhi ekspektasi semua orang.
Jenis-Jenis Boundaries yang Perlu Kamu Tahu
Dalam kehidupan sehari-hari, batasan tidak hanya soal berani berkata “tidak”. Karena ada beberapa bentuk boundaries yang sebenarnya sering kamu temui.
1. Batasan Fisik
Batasan fisik berkaitan dengan ruang pribadi dan kenyamanan tubuhmu.
Contohnya, siapa yang boleh menyentuhmu, seberapa dekat seseorang boleh berada di sekitarmu, atau area pribadi yang tidak ingin disentuh orang lain.
Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda. Karena itu, batasan fisik perlu dihormati, meski hubunganmu dengan seseorang sudah cukup dekat.
2. Batasan Emosional
Batasan emosional berhubungan dengan perasaan, pikiran, dan informasi pribadi yang ingin kamu bagikan kepada orang lain.
Tidak semua orang harus mengetahui seluruh cerita hidupmu. Memilih untuk menyimpan beberapa hal untuk diri sendiri bukan berarti kamu tertutup, melainkan bentuk perlindungan diri yang sehat.
3. Batasan Waktu
Banyak orang tidak sadar bahwa waktu juga membutuhkan batasan.
Kamu perlu menentukan berapa banyak waktu yang ingin diberikan untuk keluarga, teman, pasangan, pekerjaan, hingga waktu untuk diri sendiri.
Jika semuanya ingin dipenuhi sekaligus, energi kamu bakal cepat habis sebelum tujuanmu tercapai.
Kenapa Sulit Menetapkan Boundaries?
Menurut Willy, salah satu penyebabnya adalah budaya kolektif yang masih kuat di Indonesia.
Sejak kecil, banyak dari kita diajarkan untuk menjaga perasaan orang lain dan mengutamakan kebersamaan. Akibatnya, muncul rasa sungkan ketika ingin menolak atau membuat batasan.
Belum lagi rasa bersalah yang sering muncul ketika memilih diri sendiri dibanding memenuhi keinginan orang lain.
Padahal, memiliki ruang pribadi dan waktu untuk diri sendiri adalah kebutuhan yang wajar. Kamu tidak harus selalu tersedia untuk semua orang setiap saat.
Cara Membangun Boundaries yang Sehat
Jika ingin mulai membangun boundaries, langkah pertama adalah mengenali kebutuhan diri sendiri.
Coba tanyakan pada dirimu, hal apa yang membuatmu nyaman dan situasi seperti apa yang justru menguras energi. Dari sana, kamu bisa mengetahui batasan yang perlu dibuat.
Langkah berikutnya adalah mengomunikasikan batasan tersebut secara jelas. Orang lain tidak akan memahami batasanmu jika kamu tidak pernah menyampaikannya.
Selain itu, penting juga untuk menghormati batasan orang lain. Jika kamu ingin batasanmu dihargai, maka kamu juga perlu menghargai batasan yang mereka miliki.
Terakhir, kamu harus siap menghadapi berbagai reaksi. Tidak semua orang akan menyukai atau memahami batasan yang kamu buat. Namun, itu bukan alasan untuk mengabaikan kenyamanan dan kesehatan mentalmu sendiri.
Menjadi pribadi yang lebih baik tidak berarti kamu harus selalu mengalah. Kamu tetap bisa peduli kepada orang lain tanpa mengorbankan kebutuhan dan kenyamanan diri sendiri.
Kunci utamanya adalah menerapkan boundaries secara jelas dan konsistensi. Jika kamu sudah menentukan batasan, maka penting untuk menjalaninya secara konsisten sekaligus menghormati batasan yang dimiliki orang lain.
Jadi, kalau selama ini kamu masih sering menjadi people pleaser dan sulit mengatakan “tidak”, mungkin ini saat yang tepat untuk mulai belajar memasang boundaries.
Sebab menjaga kesehatan mental tidak hanya soal istirahat yang cukup, tetapi juga tentang berani menentukan batasan yang sehat dalam setiap hubungan.














![Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026). [Foto: ANTARA FOTO/Fauzan].](https://www.owrite.id/wp-content/uploads/2026/06/Mahasiswa-temui-Wapres-Gibran-di-Istana-Wapres_Owrite-300x169.webp)







