Gelombang panas ekstrem di sejumlah negara Eropa memicu kekhawatiran karena menewaskan ribuan orang. Prancis jadi negara dengan korban jiwa terbanyak yang mayoritas dari lanjut usia atau lansia.
Lantas, fenomena gelombang panas ekstrem yang terjadi di Eropa apakah bisa melanda Indonesia?
Ahli yang juga Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University Sonni Setiawan menjelaskan fenomena itu memiliki hubungan dengan sistem iklim global melalui mekanisme telekoneksi. Sistem itu keterkaitan antarkawasan yang dipengaruhi oleh sirkulasi atmosfer berskala besar.
Ada kaitannya walaupun tidak secara langsung, misalnya melalui telekoneksi antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dengan sirkulasi atmosfer di wilayah ekstratropis,”
kata Sonni dalam keterangannya, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurutnya, di Indonesia ada potensi peningkatan suhu panas pada masa mendatang. Namun, karakteristiknya berbeda dengan gelombang panas di Eropa.
Di Indonesia, suhu panas ekstrem lebih banyak dipicu oleh perubahan penggunaan lahan dan efek urban heat island yang umum terjadi di kawasan perkotaan.
Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem. Tetapi, tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar,”
jelas Sonni.
Sebagai langkah adaptasi, ia mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat upaya penghijauan melalui reboisasi. Begitu juga upaya penguatan penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi peningkatan suhu permukaan. Selain itu, memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim. Sonni menekankan pentingnya adaptasi dilakukan Indonesia.
Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan,”
tuturnya.





















