Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa sudah menewaskan 1.300 orang. Tak hanya memecahkan rekor suhu, dampaknya juga dirasakan ribuan warga yang harus dapat perawatan intensif.
Fenomena itu memunculkan pertanyaan mengenai penyebab suhu ekstrem yang terjadi. Selain itu, dikaitan dengan perubahan iklim global.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor (FMIPA IPB) Sonni Setiawan menjelaskan gelombang panas di Eropa tak dipicu oleh satu faktor saja.
Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah. Di mana Eropa berada pada zona wilayah ini,”
kata Sonni dalam keterangannya, Jumat, 3 Juli 2026.
Dijelaskan Sonni, gelombang Rossby merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, angin, dan suhu di wilayah lintang menengah.
Menurut dia, gelombang itu memiliki panjang sekitar 4.000 hingga 6.000 kilometer dan terbentuk saat angin baratan melintasi pegunungan besar seperti Pegunungan Rocky di Amerika Utara dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan.
Sonni mengatakan saat musim panas di belahan bumi utara, posisi matahari menyebabkan daratan mengalami pemanasan maksimum. Sebab, daratan memiliki kapasitas menyimpan panas yang lebih rendah dibandingkan lautan.
Suhu udara di atasnya meningkat lebih cepat. Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas,”
tutur Sonni.
Dia menambahkan, kondisi itu semakin diperparah oleh melemahnya aktivitas gelombang Rossby pada musim panas. Pergerakan gelombang yang lebih lambat membuat massa udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah.
Situasi ini diperkuat oleh fenomena Omega Block, yakni pola tekanan tinggi yang menjebak udara panas sehingga suhu ekstrem dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih lama.
Pun, saat musim panas, gelombang Rossby bergerak lebih lambat sehingga medan suhu tinggi bertahan lebih lama pada satu wilayah.
Ditambah adanya fenomena Omega Block, udara panas menjadi terperangkap sehingga gelombang panas berlangsung lebih lama,”
lanjut Sonni.
Menanggapi anggapan meningkatnya frekuensi gelombang panas merupakan bukti langsung perubahan iklim, Sonni menilai hal itu perlu dikaji secara ilmiah. Ia menekankan hal itu mesti tetap mempertimbangkan dinamika atmosfer alami.
Dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam analisis sebelum menyimpulkan pengaruh perubahan iklim terhadap suatu kejadian panas ekstrem,”
ujarnya.
Sejumlah negara di Eropa sebelumnya dilanda panas lebih dari 40 derajat Celsius. Prancis jadi negara dengan jumlah korban terbanyak yang mayoritas masyarakat lanjut usia atau lansia.
























