Belakangan ini, istilah hygge semakin sering dibicarakan, terutama di media sosial dan dalam pembahasan mengenai gaya hidup yang lebih tenang serta seimbang.
Konsep yang berasal dari Denmark ini dikenal sebagai filosofi hidup yang mengajarkan seseorang untuk menemukan kebahagiaan melalui hal-hal sederhana, mulai dari menikmati secangkir minuman hangat hingga menghabiskan waktu berkualitas bersama orang-orang terdekat.
Apa Itu Hygge?
Dari laman European Higher Education Fair (EHEF), Hygge dibaca “hoo-ga” atau “hoo-gah”. Kata ini berasal dari Denmark dan tidak memiliki padanan makna yang benar-benar sama dalam bahasa Indonesia.
Secara umum, hygge menggambarkan suasana yang hangat, nyaman, tenteram, serta mampu menghadirkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi masyarakat Denmark, hygge bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan bagian dari budaya yang telah diwariskan selama bertahun-tahun. Filosofi ini mendorong seseorang untuk melambat sejenak dan menikmati waktu saat ini.
Misalnya, menikmati secangkir teh atau kopi hangat saat hujan, membaca buku di sudut rumah yang nyaman, atau berbincang santai bersama keluarga tanpa gangguan gawai.
Mengapa Hygge Identik dengan Denmark?
Konsep hygge berkembang seiring dengan kondisi geografis Denmark yang memiliki musim dingin panjang dan siang hari yang relatif singkat.
Ketika cuaca dingin dan gelap datang, masyarakat setempat berusaha menciptakan suasana hangat di dalam rumah agar tetap merasa nyaman.
Karena itu, banyak rumah di Denmark menggunakan pencahayaan hangat, lilin, selimut, hingga furnitur berbahan kayu untuk menciptakan atmosfer yang menenangkan.
Penerapan Hygge di Setiap Musim
Tak hanya saat musim dingin, hygge juga diterapkan pada musim panas. Masyarakat Denmark kerap menghabiskan waktu dengan berpiknik di taman, bersepeda, menikmati konser terbuka, atau mengadakan makan bersama di luar ruangan.
Berdasarkan World Happiness Report 2026, Denmark menempati peringkat ketiga sebagai negara paling bahagia di dunia dengan skor evaluasi kehidupan (life evaluation) sebesar 7,539 dari skala 10.
Namun demikian, kebahagiaan tidak hanya dipengaruhi oleh budaya hygge, tetapi juga didukung oleh berbagai faktor lain, seperti sistem kesejahteraan sosial, tingkat kepercayaan masyarakat, serta keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Hal-Hal yang Kurang Sejalan dengan Hygge
Salah satunya adalah terlalu sering menggunakan ponsel atau media sosial hingga mengabaikan interaksi dengan orang di sekitar. Hygge justru mendorong seseorang untuk mengurangi distraksi dan menikmati kebersamaan secara langsung.
Selain itu, gaya hidup yang terlalu berorientasi pada pencapaian, kesempurnaan, atau mengejar gengsi juga tidak sesuai dengan semangat hygge.
Filosofi ini lebih menekankan rasa cukup, kesederhanaan, dan kenyamanan dibandingkan keinginan tampil mewah.
Cara Menerapkan Hygge dalam Kehidupan Sehari-hari
Siapa pun dapat menerapkan hygge tanpa harus tinggal di Denmark. Konsep ini dapat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana, seperti menikmati secangkir minuman hangat di sore hari, membaca buku sebelum tidur, menata rumah, memasak bersama keluarga, hingga berbincang tanpa gangguan gawai.
Di Indonesia, hygge juga bisa dirasakan dengan menikmati suasana hujan sambil menyeruput teh atau wedang jahe, berkumpul bersama keluarga di teras rumah, maupun menikmati suasana alam saat akhir pekan.
Hygge mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal-hal besar atau mahal. Justru melalui kesederhanaan, kehangatan, dan kebersamaan, seseorang dapat menemukan rasa nyaman yang membuat hidup terasa lebih bermakna.


















