Di tengah mahalnya biaya hidup, tidak sedikit anak pertama atau anak yang sudah bekerja memilih untuk menunda menikah demi membiayai sekolah adiknya. Fenomena ini sering dikaitkan sebagai bagian dari kehidupan sandwich generation.
Banyak yang merasa terjebak di persimpangan. Di satu sisi ia mungkin ingin membangun kehidupan sendiri bersama pasangan.
Tapi disisi lain, ada tanggung jawab keluarga yang belum selesai, mulai dari memenuhi kebutuhan orang tua hingga membayar biaya pendidikan adik.
Lantas, apakah keputusan menunda menikah demi menyekolahkan adik adalah pilihan yang tepat?
Psikolog Dra. Yuli Suliswidiawati membahas dilema tersebut melalui kanal YouTube pribadinya.
Menurutnya, tidak ada jawaban yang hitam-putih karena setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda.
Yuli menjelaskan bahwa hal pertama yang perlu dilihat adalah kondisi ekonomi orang tua.
Jika orang tua masih memiliki penghasilan, aset, atau keterampilan yang bisa menghasilkan uang, sebaiknya tetap diberdayakan agar tidak sepenuhnya bergantung kepada anak.
Kalau orang tua masih bisa produktif, manfaatkan kemampuan yang dimiliki. Tujuannya agar orang tua lebih mandiri secara finansial,”
jelas Yuli.
Namun, situasinya akan berbeda jika orang tua memang sudah tidak memiliki penghasilan sama sekali, sementara masih ada anak yang harus bersekolah.
Dalam kondisi seperti itu, anak yang sudah bekerja memang sering kali menjadi tumpuan keluarga.
Nikah atau Biayai Adik?
Meski demikian, Yuli mengingatkan bahwa keinginan untuk menikah juga merupakan kebutuhan yang tidak boleh terus-menerus diabaikan.
Menurutnya, menikah tidak selalu identik dengan pesta mewah, yang lebih penting adalah kesiapan dan tujuan membangun rumah tangga sesuai kemampuan.
Yuli menyarankan agar anak tetap mulai merencanakan pernikahan sambil membantu kebutuhan keluarga sesuai kemampuan yang dimiliki.
Berbakti kepada orang tua adalah hal baik. Tetapi kondisi diri sendiri juga harus dijelaskan kepada keluarga,”
ujarnya.
Kuncinya adalah Komunikasi
Salah satu masalah yang sering terjadi dalam keluarga adalah tidak adanya komunikasi soal kondisi keuangan.
Akibatnya, anak merasa terus dituntut, sementara orang tua dan adik tidak mengetahui beban apa yang sebenarnya sedang kamu pikul.
Yuli menyarankan agar anak terbuka mengenai penghasilan dan kemampuan finansialnya. Orang tua pun diharapkan dapat membantu mengatur prioritas kebutuhan keluarga.
Bahkan, adik yang masih sekolah juga sebaiknya diajak berdiskusi agar memahami kondisi ekonomi keluarga dan tidak meminta hal-hal di luar kebutuhan utama.
Dengan begitu, seluruh anggota keluarga memiliki pemahaman yang sama sehingga beban tidak hanya dirasakan oleh satu orang.
Orang Tua Perlu Peka
Dalam video tersebut, Yuli juga menyoroti kebiasaan yang sering dikeluhkan banyak anak. Ada yang mengaku setiap kali ditelepon orang tua, pertanyaan pertama bukan “gimana kabarnya?”, melainkan “kok transferannya belum masuk?”
Menurutnya, orang tua tetap boleh meminta bantuan kepada anak. Namun, cara menyampaikannya juga penting.
Sapaan sederhana, menanyakan kesehatan atau pekerjaan anak, bisa membuat hubungan terasa lebih hangat dibanding langsung membahas uang.
Sebaliknya, anak juga sebaiknya jujur jika sedang memiliki kebutuhan lain sehingga bantuan yang diberikan bulan itu berbeda dari biasanya.
Fenomena menunda menikah demi menyekolahkan adik memang tidak bisa dinilai benar atau salah.
Bagi sebagian orang, itu menjadi bentuk bakti kepada orang tua. Namun, jika dilakukan tanpa komunikasi dan batas yang sehat, kondisi ini tentu berpotensi memicu stres, bahkan membuat seseorang terus menunda impian pribadinya.
Yuli menekankan bahwa kuncinya adalah komunikasi, saling memahami, dan menentukan prioritas bersama.
Sebagai anak kita memang wajib berbakti kepada orang tua. Tapi jangan sampai kita hilang dalam mencintai diri sendiri,”
tambahnya.





















