Pernah enggak kamu merasa selalu minder sebelum mulai sesuatu, gampang overthinking, atau malah merasa enggak pantas buat sukses?
Kalau iya, bisa jadi yang bermasalah bukan kemampuanmu, tapi pola pikir yang tertanam di alam bawah sadarmu.
Hipnoterapis Nathalia Sunaidi melalui akun Tiktok-nya membahas soal lima toxic mindset yang sering bikin seseorang tanpa sadar menghambat dirinya sendiri. Pola pikir tersebut umumnya terbentuk dari pengalaman masa kecil, pola asuh, hingga lingkungan sekitar.
Bawah Sadar
Pikiran bawah sadar berperan besar dalam memengaruhi keputusan, emosi, dan kebiasaan sehari-hari. Karena itu, jika “program” yang tersimpan dipenuhi pola pikir negatif, cenderung memengaruhi kehidupan pribadi.
Namun. enggak semua kebiasaan buruk berasal dari tindakan. Kadang, “biang kerok” justru datang dari pola pikir yang terus diputar berulang di kepala sampai akhirnya dianggap sebagai kebenaran.
Kabar baiknya, mindset bukan sesuatu yang permanen. Karena dengan latihan dan pendekatan yang tepat, pikiran bawah sadar bisa dilatih untuk membentuk pola pikir yang lebih sehat dan suportif.
Berikut lima toxic mindset yang perlu kamu kenali beserta cara reprogram pikiran bawah sadar ala Nathalia Sunaidi:
1. The Impossibility Block
Pasti kamu tanpa sadar pernah mengucap kalimat “gue enggak bakal bisa“. Padahal, menurut Nathalia, ini adalah salah satu mental block paling kuat.
Saat kamu terus mengatakan “enggak bisa“, pikiran bawah sadar akan berhenti mencari solusi. Akibatnya, kreativitas dan keberanian untuk mencoba ikut tertutup.
Daripada memaksa diri dengan afirmasi ekstrem seperti, “Gue pasti besok sukses,” Nathalia menyarankan menggunakan kalimat transisi yang lebih realistis.
Misalnya, ubah menjadi, “Gue lagi belajar supaya bisa menguasai hal ini pelan-pelan.” Kalimat seperti ini dinilai lebih mudah diterima oleh pikiran bawah sadar.
2. Worthiness Deficit
Pernah kepikiran kayak, “Kayaknya gue nggak sepantas itu dapat kesempatan ini“?
Kalau iya, bisa jadi kamu sedang mengalami worthiness deficit. Menurut Nathalia, pola pikir ini sering memicu self-sabotage, yaitu kebiasaan menggagalkan peluang baik karena merasa diri sendiri tidak layak menerimanya.
Mindset ini sering berakar dari pengalaman masa kecil, misalnya karena sering dibanding-bandingkan dengan orang lain.
Untuk mengatasinya, Nathalia menyarankan duduk dengan rileks, tarik napas dalam, lalu katakan kepada diri sendiri, “Sekarang aku sudah aman. Aku berharga.” Latihan sederhana ini bertujuan membantu membangun rasa aman dan penerimaan terhadap diri sendiri.
3. The External Control Illusion
Kalau setiap menghadapi masalah kamu langsung berpikir, “Semua ini gara-gara orang lain,” kamu perlu hati-hati.
Menurut Nathalia, pola pikir ini membuat seseorang terjebak dalam victim mindset. Akibatnya, energi lebih banyak habis untuk menyalahkan keadaan daripada mencari solusi.
Sebagai gantinya, sebaiknya kamu mengubah pertanyaan dari “Kenapa ini terjadi sama gue?” menjadi “Apa yang bisa gue pelajari dan lakukan dari situasi ini?“
Kamu mungkin tidak selalu bisa mengendalikan keadaan, tetapi kamu tetap bisa memilih bagaimana meresponsnya.
4. The Perfectionist Trap
Siapa yang sering bilang kalimat “Nanti aja kalau udah siap“?
Menurut Nathalia, perfeksionisme sering kali bukan soal ingin hasil terbaik, tetapi rasa takut gagal atau takut dihakimi orang lain.
Akibatnya, banyak pekerjaan, tugas, atau bahkan mimpi yang terus ditunda karena merasa semuanya harus sempurna sejak awal.
Untuk mengatasinya, Nathalia menyarankan memberi izin kepada diri sendiri membuat versi pertama yang masih berantakan.
Ingat kalimat ini, “Lebih baik selesai walaupun belum sempurna daripada sempurna tapi cuma ada di kepala.“
Jangan lupa rayakan setiap progres kecil karena hal itu membantu pikiran bawah sadar memahami bahwa proses belajar adalah sesuatu yang aman.
5. Scarcity Mindset
Mindset terakhir adalah keyakinan bahwa rezeki, kebahagiaan, atau kesempatan jumlahnya terbatas.
Pola pikir ini bisa membuat seseorang lebih mudah cemas, iri melihat kesuksesan orang lain, hingga sulit berbagi karena merasa semuanya serba kurang.
Untuk mengatasinya, Nathalia menyarankan latihan anchoring gratitude. Setiap pagi setelah bangun tidur, ketika pikiran masih dalam kondisi rileks, coba sebutkan tiga hal yang kamu syukuri lalu benar-benar rasakan emosinya.
Latihan tersebut membantu pikiran bawah sadar lebih fokus pada rasa cukup atau abundance mindset dibandingkan terus merasa kekurangan.
Pikiran Bisa Dilatih
Lima toxic mindset di atas mungkin terdengar relate buat banyak orang, terutama Gen Z yang sering dihadapkan dengan tekanan sosial, ekspektasi tinggi, hingga kebiasaan membandingkan diri di media sosial.
penting diingat bahwa pola pikir negatif bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Dengan latihan yang konsisten, seseorang dapat membangun kebiasaan berpikir yang lebih sehat sedikit demi sedikit.
Perlu dipahami bahwa tips yang dibagikan Nathalia merupakan pendekatan hipnoterapi dan pengembangan diri. Efektivitasnya bisa berbeda pada setiap individu dan tidak menggantikan penanganan profesional.
Jika pikiran negatif sudah mengganggu aktivitas sehari-hari atau berkaitan dengan kondisi kesehatan mental, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.



























