Pemerintahan Presiden Donald Trump kembali memperketat kebijakan imigrasi Amerika Serikat melalui instruksi baru yang dapat menyulitkan warga negara asing masuk atau menetap di AS.
Kebijakan ini menargetkan pemohon visa yang memiliki kondisi medis tertentu—seperti obesitas, diabetes, hingga gangguan mental serta mereka yang dianggap tidak memiliki kapasitas ekonomi memadai.
Arah kebijakan tersebut tercantum dalam sebuah kabel resmi yang dikirim Departemen Luar Negeri AS ke seluruh Kedutaan Besar dan Konsulat AS di berbagai negara, menurut laporan NBC News pada Kamis (12/11).
Melalui arahan ini, petugas konsuler diminta melakukan penilaian lebih mendalam untuk memastikan bahwa pemohon visa tidak akan menjadi public charge, yaitu pihak yang berpotensi bergantung pada bantuan pemerintah setelah berada di AS.
Ini bisa menyebabkan pengetatan besar terhadap imigrasi. Pemerintahan Trump terlihat kembali mendorong kebijakan public charge yang dulu sempat mereka terapkan,”
Julia Gelatt, Associate Director Migration Policy Institute.
Syarat Kesehatan Kini Semakin Ketat
Jika sebelumnya pemeriksaan kesehatan hanya fokus pada penyakit menular dan beberapa kondisi klinis tertentu, kini daftar faktor yang dapat membuat visa ditolak diperluas secara signifikan.
Beberapa kondisi medis yang dapat menjadi alasan penolakan mencakup obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit kronis, gangguan metabolik, gangguan saraf, depresi dan kecemasan, serta gangguan mental dengan potensi biaya perawatan tinggi.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyebut bahwa kebijakan ini dibuat untuk melindungi kepentingan publik.
Pemerintahan Trump menempatkan rakyat Amerika sebagai prioritas utama. Sistem imigrasi tidak boleh menjadi beban bagi pembayar pajak,”
Julia Gelatt
Pemohon Lebih Diutamakan
Aturan terbaru ini juga menekankan pentingnya bukti kemampuan finansial pemohon visa. Petugas konsuler akan meninjau saldo rekening tabungan, aset dan dokumen perbankan, rekening giro, investasi, dan dana pension.
Ahli hukum imigrasi Steven Heller menilai pedoman baru ini memberi ruang gerak luas bagi petugas.
Pedoman kali ini memberi petugas kewenangan besar untuk menafsirkan total kondisi pemohon. Ini lebih seperti pedang daripada perisai,”
Steven
Aturan ini diprediksi berdampak pada menurunnya jumlah persetujuan visa, terutama bagi warga asing berpenghasilan rendah, pemohon lanjut usia, atau mereka dengan riwayat penyakit kronis.
Direktur Eksekutif Protecting Immigrant Families, Adriana Cadena, menyebut kebijakan ini rentan menimbulkan ketakutan di komunitas imigran.
Kebijakan yang luas dan tidak transparan dapat membuat keluarga imigran termasuk warga negara AS takut mengakses bantuan yang seharusnya menjadi hak mereka,”
Steven.
Kendati demikian, pejabat AS memastikan bahwa perubahan aturan ini tidak berlaku untuk pemegang visa B-2 (kunjungan jangka pendek), termasuk perjalanan wisata maupun perawatan medis ringan.

