Péter Magyar, pemimpin Partai Tisza meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum parlemen Hungaria pada Minggu 12 April 2026, sekaligus menjadi tanda berakhirnya kekuasaan Perdana Menteri Viktor Orbán yang telah berlangsung selama 16 tahun.
Dilansir dari The New York Times, Péter memperoleh sekitar 53,6 persen suara populer dan diprediksi menguasai 138 dari 199 kursi parlemen.
Partai Tisza berhasil mengalahkan Partai Fidesz pimpinan Viktor Orbán yang hanya mendapatkan sekitar 38 persen suara dan 55 kursi di parlemen.
Kemenangan ini tidak hanya menandai pergantian kekuasaan, tetapi juga membuka peluang untuk melakukan perubahan sistem yang selama ini dikritik sebagai “demokrasi illiberal”.
Viktor Orban telah menjabat sebagai perdana menteri selama 16 tahun, di mana ia telah melakukan perubahan dalam aturan pemilu, menempatkan loyalis di jabatan pemerintahan yang dulunya non-partisan, melemahkan independensi peradilan, menindas lawan politik, dan mengejar media dan universitas independen
Kemenangan Péter Magyar didasarkan pada dua strategi utama yang berhasil menarik suara pemilih, termasuk kelompok yang selama ini ragu.
Strategi pertama yang ia lakukan yaitu menekankan pada isu ekonomi dan kesejahteraan. Melalui platform yang dikenal sebagai “Landasan Hungaria yang Fungsional dan Manusiawi”, Tisza fokus pada peningkatan layanan publik, pemotongan pajak bagi kelas pekerja, akses kesehatan yang lebih luas, kenaikan pensiun dan tunjangan anak, serta peningkatan gaji tenaga pendidik.
Program tersebut direncanakan didanai melalui pajak kekayaan bagi kelompok super kaya dan pemulihan dana Uni Eropa yang sempat dibekukan.
Strategi kedua yaitu mengenai isu korupsi. Sebagai mantan bagian Partai Fidesz, Péter Magyar memanfaatkan pengalamannya untuk mengkritik sistem dari dalam.
Ia menyoroti berbagai skandal, termasuk kasus pengampunan pelaku kejahatan seksual terhadap anak, serta menuding adanya dominasi segelintir elite terhadap ekonomi negara.
Kampanyenya menekankan bahwa stagnasi ekonomi berkaitan erat dengan praktik korupsi, dan menjanjikan sistem yang berbasis meritokrasi.
Selain itu, Magyar menggunakan pendekatan budaya yang lebih moderat. Ia tetap menggunakan simbol patriotik dan menyasar wilayah pedesaan yang selama ini menjadi basis dukungan Orbán.
Dalam isu imigrasi, ia juga mengambil posisi tegas dengan mendukung pengendalian perbatasan dan pembatasan pekerja asing non-Uni Eropa.
Dikutip dari Aljazeera, pasca kemenangannya Péter Magyar mengumumkan beberapa langkah awal, termasuk rencana menghentikan siaran berita media publik MTVA hingga regulasi baru untuk menjamin independensi media.
Dalam sebuah wawancara di televisi pemerintah, ia juga mengkritik keberpihakan media dan menyebutnya bagian dari “mesin propaganda” yang perlu direformasi.
Kita akan membutuhkan sedikit waktu untuk mengesahkan undang-undang media yang baru, otoritas media yang baru, dan menciptakan kondisi profesional agar media pemerintah benar-benar dapat menjalankan fungsinya.”
kata Péter Magyar di radio pemerintah Kossuth
Ia turut mendesak Presiden Tamás Sulyok untuk mengundurkan diri, serta memprioritaskan agenda reformasi seperti pemberantasan korupsi, pemulihan independensi peradilan, dan kebebasan media serta akademik.
Di sektor ekonomi, Péter menyatakan lebih dari 16 miliar euro dana pemulihan pandemi dari Uni Eropa masih dibekukan akibat persoalan supremasi hukum.
Péter mengaku telah berkomunikasi dengan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen untuk membuka kembali akses dana tersebut.
Saya juga sudah menjelaskannya dengan jelas kepadanya, dan kami sudah menegaskan sebelumnya, bahwa kami hanya dapat mematuhi syarat-syarat yang baik bagi rakyat Hungaria, baik bagi bisnis-bisnis Hungaria, dan secara umum, bagi negara kita.”x
kata Péter Magyar di radio pemerintah Kossuth
Kekalahan Viktor Orbán menarik perhatian global, mengingat ia selama ini menjadi panutan bagi sejumlah politisi populis, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Hasil ini menunjukkan bahwa rezim yang telah lama berkuasa tetap dapat dikalahkan melalui kombinasi strategi ekonomi, moderasi politik, dan agenda anti-korupsi.
Meski demikian, para analis menilai proses reformasi tidak akan mudah karena pengaruh loyalis Orbán masih kuat di berbagai institusi negara.
Namun, dengan dukungan mayoritas besar di parlemen, Péter Magyar memiliki peluang untuk mengubah arah kebijakan negara.



