Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, tujuh jurus untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah, yang kini melemah hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS. Tujuh strategi ini sudah disampaikannya kepada Presiden Prabowo Subianto.
Perry mengatakan, saat ini nilai tukar rupiah sudah undervalue alias di bawah harga wajar. Sehingga, otoritas moneter akan melakukan tujuh penguatan yang sudah direstui oleh Prabowo.
Kami melaporkan kepada Pak Presiden, dan Pak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting, yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan,”
ujar Perry di Istana Negara, Jakarta, dikutip Rabu, 6 Mei 2026.
Perry membeberkan, tujuh jurus yang ditempuh adalah pertama, Bank Indonesia akan terus melakukan intervensi secara tunai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF). Intervensi dilakukan di sejumlah negara mulai dari Hongkong, Singapura, hingga New York Amerika Serikat.
Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih jadi cukup, untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu,”
jelasnya.

Upayakan Aliran Modal Asing Masuk RI
Kedua, Perry mengatakan otoritas fiskal dan moneter akan mengupayakan aliran modal masuk ke dalam negeri, hal ini melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kami bersepakat bahwa sementara ini SRBI dibuat perlu inflow sehingga, inflow-nya SRBI bisa mencukupi outflow-nya SBN dan saham, itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan. Sehingga, betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih year to date-nya masih terjadi inflow, dan itu memperkuat nilai tukar rupiah,”
katanya.
Ketiga, otoritas moneter dan fiskal juga sepakat bahwa BI akan terus membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Sejak awal tahun hingga saat ini SBN yang sudah dibeli di pasar sekunder sebanyak Rp123,1 triliun.
Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter,”
terangnya.
Keempat, Perry mengatakan bahwa akan menjaga likuiditas di perbankan dan pasar uang lebih dari cukup. Menurutnya, pertumbuhan uang primer masih selalu double digit, yang mana pertumbuhan terakhir mencapai 14,1 persen.
Kelima, BI sudah mengeluarkan kebijakan pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying. Sebelumnya, pembelian maksimal US$100 ribu per orang per bulan, diturunkan menjadi US$50 ribu per bulan, bahkan dalam waktu dekat akan diturunkan lagi ke US$25 ribu per bulan.
Kami akan turunkan lagi menjadi US$25 ribu, sehingga pembelian dolar di atas US$25 ribu itu harus pakai underlying. Itu yang kami akan perkuat dalam negeri,”
terangnya.
Intervensi di Pasar
Keenam, penguatan intervensi di pasar Offshore Non-Deliverable Forward (NDF). Bank Sentral ingin mengendalikan perkembangan nilai tukar pada sektor offshore di luar negeri.
Kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan Offshore NDF di luar negeri. Sehingga pasokannya lebih banyak, sehingga itu akan memperkuat stabilitas dari nilai tukar rupiah,”
tuturnya.
Ketujuh, BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama untuk meningkatkan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi, yang memiliki aktivitas pembelian Dolar AS yang tinggi.
Kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Friderica Widyasari dari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,”
imbuhnya.


