Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Direstui Prabowo, Gubernur BI Siapkan 7 Jurus Bangkitkan Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini melemah hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS sudah undervalue dari harga wajarnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (sumber: Owrite/Anisa Aulia)

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, tujuh jurus untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah, yang kini melemah hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS. Tujuh strategi ini sudah disampaikannya kepada Presiden Prabowo Subianto.

Perry mengatakan, saat ini nilai tukar rupiah sudah undervalue alias di bawah harga wajar. Sehingga, otoritas moneter akan melakukan tujuh penguatan yang sudah direstui oleh Prabowo.

Kami melaporkan kepada Pak Presiden, dan Pak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting, yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan,”

ujar Perry di Istana Negara, Jakarta, dikutip Rabu, 6 Mei 2026.

Perry membeberkan, tujuh jurus yang ditempuh adalah pertama, Bank Indonesia akan terus melakukan intervensi secara tunai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF). Intervensi dilakukan di sejumlah negara mulai dari Hongkong, Singapura, hingga New York Amerika Serikat.

Iklan

Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih jadi cukup, untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu,”

jelasnya.
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS, yang dipengaruhi eskalasi di Timur Tengah yang semakin memanas.
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta. (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/hma)

Upayakan Aliran Modal Asing Masuk RI

Kedua, Perry mengatakan otoritas fiskal dan moneter akan mengupayakan aliran modal masuk ke dalam negeri, hal ini melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Kami bersepakat bahwa sementara ini SRBI dibuat perlu inflow sehingga, inflow-nya SRBI bisa mencukupi outflow-nya SBN dan saham, itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan. Sehingga, betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih year to date-nya masih terjadi inflow, dan itu memperkuat nilai tukar rupiah,”

katanya.

Ketiga, otoritas moneter dan fiskal juga sepakat bahwa BI akan terus membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Sejak awal tahun hingga saat ini SBN yang sudah dibeli di pasar sekunder sebanyak Rp123,1 triliun. 

Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter,”

terangnya.

Keempat, Perry mengatakan bahwa akan menjaga likuiditas di perbankan dan pasar uang lebih dari cukup. Menurutnya, pertumbuhan uang primer masih selalu double digit, yang mana pertumbuhan terakhir mencapai 14,1 persen.

Kelima, BI sudah mengeluarkan kebijakan pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying. Sebelumnya, pembelian maksimal US$100 ribu per orang per bulan, diturunkan menjadi US$50 ribu per bulan, bahkan dalam waktu dekat akan diturunkan lagi ke US$25 ribu per bulan.

Kami akan turunkan lagi menjadi US$25 ribu, sehingga pembelian dolar di atas US$25 ribu itu harus pakai underlying. Itu yang kami akan perkuat dalam negeri,”

terangnya.

Intervensi di Pasar

Keenam, penguatan intervensi di pasar Offshore Non-Deliverable Forward (NDF). Bank Sentral ingin mengendalikan perkembangan nilai tukar pada sektor offshore di luar negeri.

Kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan Offshore NDF di luar negeri. Sehingga pasokannya lebih banyak, sehingga itu akan memperkuat stabilitas dari nilai tukar rupiah,”

tuturnya.

Ketujuh, BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama untuk meningkatkan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi, yang memiliki aktivitas pembelian Dolar AS yang tinggi.

Kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Friderica Widyasari dari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,”

imbuhnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.