Biaya bahan bakar maskapai penerbangan Amerika Serikat melonjak 56,4 persen pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya. Ini merujuk data resmi yang dirilis Bureau of Transportation Statistics (BTS)/Biro Statistik Transportasi di bawah Departemen Transportasi AS.
“Total pengeluaran bahan bakar maskapai berjadwal di AS mencapai US$5,06 miliar pada Maret, meningkat dari US$3,23 miliar daripada Februari,”
kata BTS dalam laporannya, dikutip dari Anadolu Ajansi, Selasa, 12 Mei 2026.
Angka tersebut juga naik 30,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai sebesar US$3,88 miliar pada Maret 2025.
| Komponen Statistik | Maret 2025 | Maret 2026 | Perubahan (%) |
| Total Pengeluaran | US$ 3,88 Miliar | US$ 5,06 Miliar | +30,4% |
| Konsumsi Bahan Bakar | 1,609 Miliar Galon | 1,615 Miliar Galon | +0,4% |
| Rata-rata Harga/Galon | US$2,41 | US$3,13 | +29,9% |
Maskapai-maskapai AS menggunakan sekitar 1,615 miliar galon bahan bakar sepanjang Maret, naik 19,5 persen dibandingkan Februari yang mencapai 1,352 miliar galon. Secara tahunan, konsumsi bahan bakar juga meningkat tipis 0,4 persen dari 1,609 miliar galon pada Maret tahun lalu.
Rata-rata harga bahan bakar per galon naik menjadi US$3,13 pada Maret, atau meningkat 74 sen dibandingkan Februari yang berada di level US$2,39 per galon. Jika dibandingkan lagi pada Maret 2025, harga tersebut naik 72 sen atau sekitar 29,9 persen dari harga saat itu yakni US$2,41 per galon.
| Komponen | Februari 2026 | Maret 2026 | Selisih (Nominal) | Kenaikan (%) |
| Total Biaya | US$3,23 Miliar | US$5,06 Miliar | +US$1,83 Miliar | 56,4% |
| Total Konsumsi | 1,352 Miliar Galon | 1,615 Miliar Galon | +263 Juta Galon | 19,5% |
| Harga per Galon | US$2,39 | US$3,13 | +US$0,74 | 30,9% |
BTS menyatakan data tersebut menggunakan harga saat ini dan belum disesuaikan secara musiman. Biaya bahan bakar maskapai dapat dipengaruhi kontrak lindung nilai atau hedging yang digunakan perusahaan untuk mengurangi risiko kenaikan harga di masa depan.
Imbas Timur Tengah
Lonjakan biaya bahan bakar terjadi saat industri penerbangan AS menghadapi tekanan besar akibat kenaikan harga minyak buntut perang AS dengan Iran.
Maskapai berbiaya rendah asal AS, Spirit Airlines, pada 2 Mei juga mengumumkan mulai menghentikan operasional secara bertahap dan membatalkan seluruh penerbangannya.
Perusahaan menyatakan kenaikan signifikan harga minyak dan tekanan bisnis lainnya telah memperburuk prospek keuangan perusahaan hingga membuat Spirit tidak lagi memiliki tambahan pendanaan.
CEO Spirit Airlines Dave Davis mengatakan perusahaannya telah mencapai kesepakatan restrukturisasi dengan pemegang obligasi pada Maret yang memungkinkan maskapai tetap beroperasi. Namun, kenaikan harga bahan bakar yang mendadak dan berlangsung lama membuat perusahaan tak memiliki pilihan selain menghentikan operasional.
Departemen Transportasi AS kemudian mengumumkan langkah koordinasi dengan maskapai lain untuk membantu penumpang dan karyawan Spirit Airlines yang terdampak penghentian operasi tersebut.


