Di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan melakukan perjalanan ke China pekan ini untuk bertemu dengan Pemimpin China Xi Jinping
Pertemuan itu menjadi kunjungan pertama presiden AS ke Tiongkok dalam hampir satu dekade terakhir. Ini merupakan kunjungan kedua setelah kunjungan pertama Trump pada November 2017 selama masa kepresidenan pertamanya.
Namun, lantaran semua yang telah terjadi selama masa jabatan kedua Trump, seperti perang dagang dan perang dengan Iran yang menyebabkan harga minyak dan gas meroket di seluruh dunia, suasana kunjungan kali ini kemungkinan sangat berbeda.
Meskipun kedua negara telah menyepakati gencatan senjata sementara pada Oktober dalam perang dagang yang dilancarkan Trump tahun lalu, respons China terhadap tarif yang mencapai 145 persen telah membatasi ekspor logam tanah jarang. Hal ini juga menyebabkan beberapa pabrik di AS berhenti beroperasi.
Tidak hanya perang dagang, masalah lainnya adalah pengaruh China terhadap Iran, sebagai pembeli minyak Iran terbesar. Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah menyerukan kepada Beijing untuk meningkatkan diplomasi dengan AS dan meminta bantuan dalam perang yang dimulai di Iran. Pada saat yang sama, perwakilan perdagangan Jamieson Greer mengatakan bahwa Trump berencana membahas pembelian energi China yang berkelanjutan dari Iran.
Pekan lalu, AS menjatuhkan sanksi kepada beberapa perusahaan yang berbasis di Tiongkok, dengan tuduhan bahwa mereka menyediakan citra satelit untuk memungkinkan militer Iran menyerang pasukan AS di Timur Tengah dan mendapatkan senjata, serta bahan baku dengan aplikasi dalam program rudal balistik dan pesawat tanpa awak (UAV) untuk Iran.
Namun, China mengecam sanksi tersebut, dan menggambarkannya sebagai tindakan ilegal dan sepihak.
“Kami selalu mewajibkan perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk menjalankan bisnis sesuai dengan hukum dan peraturan dan akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan Tiongkok,”
kata juru bicara pemerintah Guo Jiakun dalam konferensi pers rutin.
“Prioritas utama adalah mencegah dengan segala cara terjadinya kembali pertempuran, daripada menggunakan perang untuk secara jahat mengaitkan dan mencemarkan nama baik negara lain,”
ucap dia.


