Uni Emirat Arab (UEA) diduga berada di balik sejumlah serangan rahasia terhadap aset milik Iran, termasuk serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April lalu.
Dugaan tersebut diungkap dalam laporan media Amerika Serikat, The Wall Street Journal (WSJ), pada 11 Mei 2026.
Hingga kini, pemerintah UEA belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan keterlibatannya dalam serangan yang disebut-sebut terjadi sebelum kesepakatan gencatan senjata diberlakukan.
Berdasarkan laporan WSJ, serangan itu disebut sebagai respons atas aksi Iran yang sebelumnya menargetkan infrastruktur sipil dan fasilitas energi di wilayah Emirat.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan sebelumnya terhadap aset Iran.
Dukungan Terhadap UEA
WSJ juga melaporkan bahwa Amerika Serikat disebut memberikan dukungan secara diam-diam terhadap langkah UEA.
Sejumlah pejabat AS menyatakan, pemerintahan Donald Trump menginginkan negara-negara Teluk untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam konflik kawasan.
UEA menjadi salah satu negara yang terdampak cukup besar akibat meningkatnya ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Penutupan wilayah udara dan Selat Hormuz disebut memengaruhi aktivitas ekonomi negara tersebut. Selain itu, beberapa infrastruktur di wilayah UEA juga menjadi sasaran serangan Iran.
Keterlibatan UEA dalam operasi militer dinilai menunjukkan upaya negara tersebut memperkuat posisinya sebagai kekuatan keamanan utama di kawasan Teluk.
Dalam beberapa tahun terakhir, UEA diketahui meningkatkan investasi pada sektor pertahanan, termasuk penguatan angkatan udara dan sistem radar pendeteksi.
Sistem Pertahanan Udara Iron Dome
WSJ juga menyebut UEA sempat mengoperasikan sistem pertahanan udara Iron Dome bersama personel Israel selama konflik berlangsung.
Menurut sejumlah pejabat Israel, pengiriman baterai Iron Dome ke UEA dilakukan setelah Presiden UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ) berbicara melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Dalam beberapa dekade terakhir, UEA tercatat terlibat dalam sejumlah konflik regional, termasuk di Libya, Sudan, dan Yaman.
Dikutip dari laporan WSJ, UEA kini semakin aktif menggunakan kekuatan militernya guna melindungi kepentingan ekonomi sekaligus memperluas pengaruh di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.


