Menteri Inovasi, Sains, dan Teknologi Israel Gila Gamliel mengatakan sudah mengajukan rencana untuk melakukan relokasi terhadap warga Palestina dari Jalur Gaza. Relokasi itu disiapkan dengan dukungan dari badan intelijen luar negeri Israel, Mossad.
Dalam wawancara dengan Channel 7 Israel, Gamliel mengatakan dirinya menyiapkan inisiatif politik berjudul ‘migrasi sukarela dari Jalur Gaza’ dan sudah menyampaikan kepada pemerintah. Ia mengaku sudah mempresentasikan rencana relokasi dalam rapat kabinet pemerintah Israel.
Saya telah menyiapkan rencana (relokasi) ini dan mempresentasikannya kepada kabinet. Rencana ini hampir siap diimplementasikan dan Mossad kini telah bergabung dalam proses untuk mengelola upaya ini dengan sebaik mungkin,”
kata Gamliel dikutip dari Middle East Monitor, Selasa, 30 Juni 2026.
Gamliel menyampaikan proposal itu merupakan bagian dari strategi yang lebih luas. Ia pun berjanji perluas operasi militer Israel di Gaza.
Dia mengatakan Israel meenguasai lebih dari 60 persen wilayah Gaza secara militer. Ia bilang Israel akan terus maju hingga mencapai tujuan perang yaitu memastikan bahwa Hamas tak lagi dapat mengendalikan Jalur Gaza.
Baik secara militer maupun politik. Di masa depan, Gaza bisa menjadi peluang bagus untuk pemukiman, setelah migrasi sukarela terjadi,”
ujarnya.
Meski demikian, dia menyampaikan daftar negara yang bisa jadi tempat warga Palestina direlokasi. Tapi, ia tak merinci dugaan peran Mossad dalam melaksanakan rencana tersebut.
Adapun rencana relokasi warga Palestina dan pendirian permukiman Israel di Gaza bertentangan dengan usulan internasional sebelumnya. Hal itu termasuk rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di wilayah tersebut.
Beberapa menteri Israel termasuk Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir telah berulang kali menyerukan relokasi warga Palestina dari Gaza. Meskipun muncul kritik internasional yang luas terhadap usulan relokasi warga Gaza.





















