Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Dino Patti Djalal mengkritik Langkah pemerintah RI yang tidak mengirim delegasi resmi setingkat Menteri dalam prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Padahal, Iran secara mengundang resmi RI.
Pemerintah RI diketahui hanya mengutus Duta Besar RI di Teheran untuk menghadiri penghormatan terakhir Ali Khamenei. Sementara, banyak negara lain mengirim pejabat setingkat menteri hingga kepala pemerintahan untuk menghadiri pemakaman Khamenei.
Saya sungguh heran kenapa Pemerintah Indonesia tidak memenuhi undangan Iran utk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yg terbunuh dlm serangan militer ilegal,”
tulis Dino melalui Instagram pribadinya, Minggu, 5 Juli 2026.
Ia mengatakan Pemerintah Iran sudah berupaya mengundang pemerintah RI. Namun, pada akhirnya yang hadir hanya Dubes RI di Teheran.
Menurut Dino, pemerintah Iran sudah berupaya mengundang Pemerintah RI. Namun, kata dia, upaya Iran tak ditanggapi pemerintah RI.
Yang saya dengar, berbagai upaya gigih Iran utk mengundang Pemerintah Indonesia tidak mendapat tanggapan. (Mereka kan juga punya harga diri – tidak mungkin mengemis-emis kehadiran kita.),”
lanjut tulis Dino.
Bagi dia, dengan mengutus Dubes RI untuk Iran di Teheran yang datang ke pemakaman Ali Khamenei seperti sikap menyepelekan.
Akhirnya, yg hadir hanya Dubes RI di Teheran – yg dianggap oleh Teheran sbg sikap menyepelekan undangan ini,”
ujarnya.
Dino membandingkan sikap RI dengan sejumlah negara lain yang mengirim delegasi resmi ke Teheran, seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Pakistan, Kazakhstan, Rusia, China, dan India. Begitu juga dengan Malaysia dan Banglades yang mengirim utusan setingkat Menteri.
Bahkan Pakistan pada tingkat Presiden. Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia satu-satunya yg absen mengirim delegasi,”
tulisnya.
Menurut Dino, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif RI era Presiden Prabowo Subianto.
Apakah ini berarti polugri ‘bebas aktif’ kita mulai luntur karena Indonesia takut/sungkan terhadap Amerika? Has ‘fear’ become a factor in Indonesian foreign policy?”
tanya Dino.
Ia juga menilai kemungkinan lain RI tak mengirim delegasi tingkat tinggi adalah adanya persoalan dalam tata kelola pengambilan keputusan di bidang politik luar negeri.
Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan Manajemen sistem politik luar negeri yang bermasalah – sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yg berani mengambil keputusan,”
lanjut Dino.
Lebih lanjut, Dino menilai RI seharusnya minimal dapat mengirim pejabat setingkat wakil menteri sebagai bentuk penghormatan kepada negara sahabat.
Paling tidak Indonesia bisa mengirim Wamenlu urusan dunia Islam Anis Matta – tapi beliau justru sibuk keliling Asia Tengah utk kunjungan yg sifatnya rutin,”
ujar eks Dubes RI untuk Turki itu.
Lebih lanjut, Dino menegaskan bahwa hubungan RI dan Iran selama ini terjalin baik tanpa konflik berarti. Ia mengingatkan kehadiran delegasi resmi dinilai penting sebagai simbol persahabatan kedua negara.
Namun, ia menyayangkan absennya delegasi resmi RI dalam acara penghormatan terakhir Khamenei. Padahal, itu bisa jadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif RI.
Momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bhw pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yg melanggar hukum dan norma internasional,”
tulisnya.
Dino pun memperingatkan agar prinsip politik luar negeri bebas aktif tidak hanya menjadi slogan.
Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif. Tapi begitu diminta menentukan sikap dlm situasi yg sensitif, kita bersembunyi. Please remember: bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan,”
imbuhnya.























