Ahli kesehatan masyarakat, Dicky Budiman menyoroti bayi 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat naik Gunung Ungaran bersama orang tuanya. Dicky mengatakan mengajak anak ke lingkungan ekstrem seperti gunung tanpa kesiapan matang merupakan keputusan berisiko tinggi.
Kalau di negara maju bisa masuk kategori melanggar hukum karena artinya kepentingan, keselamatan, dan kesehatan anak diabaikan. Karena ini adalah keputusan berisiko tinggi,”
ujar Dicky kepada Owrite, Rabu, 15 April 2026.
Dicky menjelaskan bahwa secara biologis tubuh anak belum mampu menghadapi stres dingin seperti orang dewasa. Kondisi hipotermia tersebut bisa berkembang cepat dan berujung fatal.
Menurutnya, orang tua perlu memastikan bahwa keselamatan anak menjadi prioritas utama, bukan sekadar ambisi atau pengalaman orang tua.
Secara ilmiah, anak itu punya kerentanan biologis yang fundamental. Pertama, rasio luas permukaan tubuh lebih besar, jadi anak itu berpotensi kehilangan panas lebih cepat. Termasuk sistem termoregulasi anak ini belum matang, sehingga tidak efektif mempertahankan suhu tubuh. Selain itu, kemampuan menggigil anak juga terbatas,”
jelasnya.
Selain itu, cadangan energi pada anak rendah, sehingga lebih mudah mengalami kelelahan dan hipoglikemia.
Sistem termoregulasi anak yang belum stabil juga sangat memudahkan terjadinya penurunan suhu inti tubuh dalam kondisi dingin.
Risiko pada anak yang mengalami hipotermia, yaitu saat suhu tubuh kurang dari 35 derajat Celsius, berpotensi menimbulkan gangguan neurologis berupa penurunan kesadaran atau gangguan koordinasi yang dapat meningkatkan risiko jatuh di medan gunung.
Termasuk gangguan kardiovaskular, aritmia fatal, penurunan curah jantung, gangguan respirasi, napas melambat sehingga bisa gagal napas, koagulopati, dan gangguan metabolik. Jadi ada gangguan pembekuan darah dan asidosis metabolik. Pada kasus yang ekstrem dan fatal, bisa terjadi henti jantung dan kematian,”
tuturnya.
Menurut Dicky, hal-hal tersebut sering tidak disadari oleh orang dewasa. Pasalnya, hipotermia pada anak kerap tidak terdeteksi sejak awal karena anak belum mampu mengomunikasikan gejala.
Ada juga orang tua yang menganggapnya sekadar kedinginan biasa, atau ketika gejala awal seperti menggigil dan lemas dianggap kelelahan.
Kondisi tersebut yang membuat kasus pada anak cepat masuk fase berat tanpa disadari,”
tandasnya.

















