PT Transjakarta mulai menyiapkan sistem hub and spoke untuk menata jaringan transportasi laut di Kepulauan Seribu, dengan target operasi penuh pada Juni 2027.
Skema hub and spoke ini nantinya akan menggunakan kapal berkapasitas besar untuk rute utama dari Jakarta menuju pulau tertentu, sebelum dilanjutkan oleh kapal pengumpan (feeder) ke pulau-pulau sekitarnya.
Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza menyatakan proses transisi pengelolaan transportasi laut ini akan berlangsung selama satu tahun.
Integrasi Teknologi Layanan
Sebelum resmi beroperasi, Transjakarta akan memfokuskan persiapan pada penyiapan armada, pembenahan dermaga, fasilitas pelabuhan, sistem tiket, hingga integrasi teknologi layanan.
Kami juga kemarin bertemu dengan operator ataupun pengusaha-pengusaha kapal tradisional. Harapan mereka adalah, berkaca dengan sistem yang ada di darat, ada peluang kerja sama dengan pelaku usaha kapal tradisional untuk bisa menjadi operator,”
ujar Welfizon dikutip dari Berita Jakarta pada 4 September 2026.
Pihak Transjakarta juga telah mengunjungi lima pulau, yakni Pulau Pari, Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan untuk menyerap aspirasi warga.
Layanan Logistik dan Pariwisata
Pada tahap awal, Transjakarta akan mengoptimalkan aset milik Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta serta menyusun kajian strategis yang mencakup aspek regulasi, model bisnis, hingga layanan logistik dan pariwisata.
Langkah pembenahan ini dilakukan menyusul terbatasnya angkutan laut resmi yang ada saat ini.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin, mengungkapkan bahwa armada resmi Dishub saat ini baru mampu memenuhi sekitar 21 persen dari total kebutuhan mobilitas masyarakat.
Akibatnya, warga mayoritas masih mengandalkan kapal tradisional yang memiliki risiko keselamatan tinggi.
Ke depan, Kepulauan Seribu sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi sistem transportasinya saat ini masih berorientasi sebagai angkutan dasar masyarakat,”
kata Budi.
Karena masalah keselamatan, kini Transjakarta akan merombak sistem yang sudah ada. Tercatat sepanjang tahun 2026, sudah ada tujuh kecelakaan yang melibatkan kapal tradisional akibat kurangnya standar kelautan, kapasitas berlebih, serta rendahnya kesadaran penggunaan jaket pelampung.
Melalui integrasi hub and spoke ini, Pemprov DKI Jakarta berharap dapat menyajikan konektivitas laut yang lebih aman, nyaman, dan terstandarisasi bagi warga maupun wisatawan.























