Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 7 Mei 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • iran
  • BMKG
  • Sepak Bola
  • MBG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Fatwa MUI dan Potensi Zakat bagi Masa Depan Pajak Nasional
Nasional

Fatwa MUI dan Potensi Zakat bagi Masa Depan Pajak Nasional

owrite-adi-briantikaIvan OWRITE
Last updated: November 26, 2025 1:06 pm
Adi Briantika
Ivan
Share
Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Ni’am Sholeh
Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Ni’am Sholeh (Foto: Instagram Asrorun Ni’am Sholeh)
SHARE

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan fatwa tentang Pajak Berkeadilan sebagai respons terhadap masalah sosial, terutama kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang dinilai meresahkan masyarakat.

Fatwa ini menegaskan bahwa bumi dan bangunan yang dihuni serta bahan-bahan pokok, tidak layak dikenakan pajak secara berulang.

Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Ni’am Sholeh menjelaskan bahwa pungutan pajak terhadap sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok seperti sembako dan rumah serta bumi yang dihuni, tidak mencerminkan keadilan dan tujuan pajak.

Sehingga meresahkan masyarakat. Fatwa ini diharapkan jadi solusi untuk perbaikan regulasi,”

Ni’am.

Objek pajak, lanjut dia, dikenakan hanya kepada harta yang potensial untuk diproduktifkan dan/atau merupakan kebutuhan sekunder dan tersier.

Pada hakikatnya pajak hanya dikenakan kepada warga negara yang memiliki kemampuan secara finansial. 

Bila analogi dengan kewajiban zakat, kemampuan finansial itu secara syariat minimal setara dengan nishab zakat mal yaitu 85 gram emas.

Dia berpendapat ini bisa jadi batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). MUI pun merekomendasikan beberapa hal kepada pemerintah, seperti:

1.     Untuk mewujudkan perpajakan yang berkeadilan dan pemerataan, maka pembebanan pajak seharusnya disesuaikan dengan kemampuan wajib pajak (ability pay). Maka perlu peninjauan kembali terhadap beban perpajakan terutama pajak progresif yang nilainya dianggap terlalu besar;

2.     Pemerintah harus mengoptimalkan pengelolaan sumber-sumber kekayaan negara dan menindak para mafia pajak untuk kesejahteraan masyarakat;

3.     Pemerintah dan DPR berkewajiban mengevaluasi berbagai ketentuan perundang-undangan terkait perpajakan yang tidak berkeadilan dan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman.Fatwa MUI ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan fiskal yang lebih berkeadilan dan tidak membatasi pengetahuan pajak di masyarakat.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto berujar fatwa pajak berkeadilan yang ditetapkan oleh MUI merupakan jenis pajak yang dikelola oleh pemda.

Sebenarnya itu Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Perdesaan (PBB P2). Itu (wewenang pengelolaan) oleh (pemerintah) daerah,”

Bimo, dikutip dari Antara.

Atas objek pajak tersebut, berdasar regulasi yang ada menetapkan bahwa pemda berwenang mengelola kebijakan, pengenaan tarif, kenaikan dasar.

Sementara objek PBB yang menjadi wewenang pemerintah mencakup sektor kelautan, perikanan, pertambangan, dan kehutanan.

Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia Prof. Dr. Murniati Mukhlisin menyorot fatwa MUI ini. Dasar pemikiran utama di balik usulan MUI adalah analogi dengan hukum zakat.

Berdasar syariat Islam, zakat tidak dikenakan atas barang-barang yang dipakai atau dibutuhkan sebagai kebutuhan primer, seperti rumah yang ditinggali, tanah yang tidak produktif untuk bisnis, atau kendaraan pribadi yang digunakan sehari-hari.

MUI beranggapan bahwa yang dipakai, jangan kena pajak PBB,”

Murniati kepada owrite, Rabu, 26 November.

Meskipun PBB P2 merupakan kebijakan yang dipungut di daerah, bukan di pusat, imbauan MUI ini bersifat menyeluruh kepada pemerintah setiap tingkatan, untuk mendorong perubahan undang-undang yang akan mengarahkan pada implementasi usulan tersebut.

Terkait perdebatan lama apakah zakat dapat menggantikan pajak, fatwa ini mengakui kemajuan yang dicapai dalam satu hingga dua dekade terakhir, yaitu zakat yang dikeluarkan saat ini dapat mengurangi Pendapatan Kena Pajak (PKP).

Namun, penerapan penuh zakat sebagai “potongan pajak penuh” masih menjadi hambatan di Indonesia.

Murniati menyebut, upaya pengajuan langsung kepada Menteri Keuangan saat itu, Sri Mulyani, pernah dilakukan.

Namun, disimpulkan bahwa Indonesia belum siap untuk mengimplementasikan zakat sebagai potongan pajak penuh. Implementasi menjadi tantangan besar. 

Sehingga zakat yang dikeluarkan mengurangi pendapatan kena pajak, walaupun belum sejauh banyak tuntutan-tuntutan masyarakat yang ingin zakat itu bisa menggantikan pajak,”

Murniati.

Saat ini, Indonesia menerapkan mekanisme Pengurang Pendapatan Kena Pajak (Deduction from Taxable Income), yang sangat berbeda dengan mekanisme Pemotongan Pajak (Tax Credit) yang diterapkan di Malaysia.

Contoh pengurang pendapatan kena pajak, misalnya seseorang memiliki PKP senilai Rp100 juta kemudian mengeluarkan zakat sebesar Rp2,5 juta.

Maka, dasar perhitungan pajak adalah Rp100 juta dikurangi Rp2,5 juta, menjadi Rp97,5 juta. Sisa Rp97,5 juta ini tetap dikenakan tarif pajak progresif yang berlaku di Indonesia.

Jika Indonesia menerapkan skema potongan pajak penuh, nilai zakat akan mengurangi langsung besaran pajak terutang, bukan hanya mengurangi dasar penghasilan yang dikenakan pajak.

Perbandingan dengan Malaysia Konstitusi Malaysia yang berlandaskan Islam memudahkan penerapan zakat sebagai pengurang pajak.

Bagi individu, zakat dapat diakui sebagai pengurang pajak secara penuh. Bahkan untuk perusahaan, hingga 30 persen dari pembayaran zakatnya dapat diakui sebagai pengurang pajak (dengan batas maksimal 30 persen).

Dalam hal pengelolaan, pemerintah Malaysia memiliki otoritas dan akses penuh kepada pengelolaan zakat dan wakaf.

Di Indonesia, implementasi lebih komprehensif menghadapi kendala, lantaran belum tercipta koordinasi lintas kementerian.

Murniati pernah mengusulkan adanya kesepakatan bersama antara Kementerian Agama, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan Kementerian Keuangan untuk bersinergi mengelola zakat dan perpajakan, namun hal ini belum terwujud.

Harmonisasi Zakat dan Pajak Nasional Wacana revisi Undang-Undang Perpajakan di masa depan disarankan untuk memasukkan poin mengenai harmonisasi antara zakat dan pajak.

Hal ini diyakini tidak hanya dapat meningkatkan potensi pengumpulan dana sosial keagamaan, tapi juga mengurangi dualisme yang menyebabkan kebingungan di masyarakat dan meningkatkan efektivitas program sosial.

Apalagi masyarakat Indonesia dengan altruismenya itu nomor satu di dunia. Rasa ingin berbagi orang Indonesia, walaupun dia tidak mampu, dia senang membantu. Sangat-sangat mungkin Indonesia, di masa depan, menjalankan zakat sebagai pengurang pajak,”

Murniati.

Murniati berpendapat revisi Undang-Undang Perpajakan turut menjadi penting, apalagi mayoritas penduduk Indonesia 85 persen adalah muslim.

Saat ini, dari potensi zakat sebesar Rp300 triliun, hanya sekitar 10 persen yang berhasil dikumpulkan oleh lembaga zakat seluruh Indonesia.

Angka rendah ini disinyalir akibat kebingungan publik perihal prioritas pembayaran zakat atau pajak.

Poin revisi yang diusulkan adalah menjadikan zakat sebagai pengurang pajak (tax credit), bukan hanya sebagai pengurang PKP seperti skema saat ini.

Keberhasilan harmonisasi sangat bergantung pada pembentukan ekosistem dan peraturan yang mengikat.

Diperlukan koordinasi kuat agar lembaga pengelola zakat tunduk dan berkoordinasi dengan pemerintah dalam ranah distribusi.

Ihwal tata kelola, Murniati mengusulkan pembentukan lembaga setingkat Kementerian Zakat dan Wakaf (mirip dengan Ministry of Zakat and Wakaf di luar negeri) atau Badan independen dengan pengawasan menyeluruh.

Sebab potensi zakat dan wakaf di Indonesia sangat besar, bahkan dinilai mampu menghapuskan kemiskinan jika dikelola dengan baik.

Lembaga setingkat Kementerian/Badan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik dan literasi mengenai zakat dan wakaf.

Tag:Asrorun Ni’am SholehEditorialFatwa MUIPajak NasionalPBBPotensi Zakat
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Ivan OWRITE
ByIvan
Redaktur
Follow:
Editor senior di OWRITE Media, meliput pemberitaan Politik dan Peristiwa.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Selebrasi pemain dan manajemen Persib Bandung usai laga
Olahraga

Persib Bandung Hormati Keputusan Pemindahan Venue Laga Kontra Persija Jakarta

Manajemen Persib Bandung akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait perubahan lokasi pertandingan melawan Persija Jakarta pada pekan ke-32 BRI Super League 2025/2026. Duel klasik yang semula direncanakan berlangsung di Jakarta kini…

By
Hadi Febriansyah
Syifa Fauziah
3 Min Read
Kapal tanker raksasa Iran
Internasional

Trump Baru Bilang Operasi di Selat Hormuz Disetop, Kapal Tanker Iran Justru Diserang

Baru pengumuman penghentian operasi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, kini Pasukan militer AS, yang beroperasi di Teluk Oman telah melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak berbendera Iran, pada Rabu, 6 Mei…

By
Iren Natania
Dusep
2 Min Read
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta. (Sumber: Asprilla Dwi Adha/hma)
Ekonomi Bisnis

Ekonomi RI Tumbuh 5,61% Tapi Rupiah Ambruk, Investor Mulai Tak Percaya Pemerintah?

Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh sebesar 5,61 persen. Namun, pertumbuhan ini tidak sejalan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang tertekan hingga ke level Rp17.400 per dolar AS. Direktur Ekonomi…

By
Anisa Aulia
Dusep
5 Min Read

BERITA LAINNYA

Pengendara ojek daring menunjukan bukti transaksi perjalanan di Jalan Balap Sepeda, Pulo Gadung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan menurunkan komisi tarif ojek daring dari 20 persen menjadi delapan persen melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Daring. (ANTARA FOTO/Rakha Raditya Yahya)
Nasional

(Part I) Potongan Komisi 8 Persen, Kemenangan Ojol atau Awal Krisis Aplikator?

May Day 2026, Monas menjadi saksi Presiden Prabowo Subianto menetapkan potongan komisi…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
18 jam lalu
Pengendara ojek daring mengantar penumpang di kawasan Kalibata, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan menurunkan komisi tarif ojek daring dari 20 persen menjadi delapan persen melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Daring. (ANTARA FOTO/Rakha Raditya Yahya)
Nasional

(Part II) Potongan Komisi 8 Persen, Kemenangan Ojol atau Awal Krisis Aplikator?

Turun Tangan Danantara Presiden Prabowo sudah menginstruksikan keterlibatan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
18 jam lalu
Program rekrutmen karyawan
Nasional

KKP Buka Lowongan Kerja Awak Kapal Perikanan, Ini Syaratnya

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia resmi membuka lowongan kerja yang…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
22 jam lalu
Oditur militer mengabarkan Andrie Yunus sedang menjalani operasi di RSCM sehingga tidak bisa hadir dalam sidang lanjutan
Nasional

Masih Jalani Operasi Cangkok Kulit, Andrie Yunus Bakal Periksa Langsung di RSCM 

Pengadilan Militer II-08 Jakarta menghadirkan total delapan orang saksi dalam sidang lanjutan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteAmin Suciady
By
Rahmat
Amin Suciady
23 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up