Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Rabu, 24 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / (Part II) Negara Tanpa Sinyal Internet: Guncangan Birokrasi dan Ketahanan Ekonomi Pasar
Nasional

(Part II) Negara Tanpa Sinyal Internet: Guncangan Birokrasi dan Ketahanan Ekonomi Pasar

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Januari 26, 2026 7:25 am
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
gambar ilustrasi perang dunia III
Gambar ilustrasi Perang Dunia III. (gambar dibuat oleh AI)
SHARE

Eskalasi konflik geopolitik yang makin memanas, kemudian memunculkan kekhawatiran potensi terjadinya Perang Dunia III.

Daftar isi Konten
  • Katastropik Siber
  • Kembali ke Buku Kas?
  • Siapkan Kemandirian Energi dan Pangan

Pakar keamanan siber sekaligus Chairman CISSReC Pratama Persadha mengingatkan, bahwa jika skenario terburuk itu terjadi, dampaknya tidak hanya berupa kerusakan fisik, melainkan kematian jaringan internet global secara total.

Merespons ancaman tersebut, dia menyarankan pemerintah untuk segera membangun kedaulatan infrastruktur digital yang memungkinkan Indonesia tetap berfungsi meski terisolasi dari dunia luar.

Kalau jadi Perang Dunia 3, yang mati jaringan internet global. Paling yang masih bisa jadi backup adalah internet yang berbasis satelit,”

kata dia.

Namun, ia menekankan bahwa keberadaan internet satelit pun bisa menjadi sia-sia jika pusat-pusat data utama dunia turut menjadi target serangan. Jika server-server besar di dunia mati, maka percuma saja sebab ada internet tapi tak ada kontennya.

Nanti komunikasi bisa balik (menggunakan) radio, itu juga kalau listrik masih ada,”

lanjut Pratama.

Indonesia harus memiliki jaringan domestik yang tetap berjalan tanpa bergantung pada koneksi luar negeri, untuk pemerintahan, perbankan, energi, logistik, maupun pertahanan. Sistem komunikasi pemerintah dan sektor kritis harus punya jalur tertutup sendiri, didukung satelit nasional dan pusat data di dalam negeri.

(Part I) Negara Tanpa Sinyal Internet: Guncangan Birokrasi dan Ketahanan Ekonomi Pasar

Selain itu, negara perlu menyiapkan mekanisme “offline mode”, yaitu layanan vital tetap bisa beroperasi meski internet internasional terputus, serta sistem komunikasi darurat seperti radio dan TV terestrial untuk menjaga arus informasi publik.

Intinya, dalam situasi perang global, yang menentukan bukan sekadar kecepatan internet, melainkan kemampuan sebuah negara untuk tetap berdiri dan berdaulat ketika konektivitas dunia luar benar-benar terputus,”

tegas Pratama.

Katastropik Siber

Wakil Ketua Umum 2 Cyber Security Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS) Alfons Tanujaya, meminta masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, sembari mendorong pemerintah memperkuat kedaulatan infrastruktur digital nasional, jika dunia nihil internet.

Alfons berpendapat, narasi mengenai internet mati selama 7 hari 7 malam adalah sesuatu yang terlalu bombastis. Kendati secara teknis kemungkinannya ada, probabilitas kejadian tersebut sangatlah kecil.

Dari sisi kemungkinan bisa saja, tetapi itu sangat kecil kemungkinannya. Dari sisi kemungkinan rumah kita kejatuhan pesawat juga ada saja, kan? Tetapi kalau publik terus khawatir dan jadi ketakutan, maka jadinya tidak produktif dan hidup dalam tekanan. Untuk sesuatu yang probabilitasnya sangat kecil terjadi,”

kata dia kepada owrite.

Alfons menegaskan, bahwa ketergantungan dunia modern pada internet sangat tinggi. Kanal digital saat ini memberikan multiplier effect (efek berganda) pada banyak sektor, khususnya ekonomi.

Jika layanan internet terhenti, otomatis kanal digital yang menjadi tulang punggung aktivitas modern hari ini akan terganggu. Penyebaran informasi, komunikasi, dan layanan digital lain akan terhenti. Jelas akan menimbulkan dampak katastropik,”

jelas Alfons.

Karena itulah dibutuhkan alternatif pilihan dan tidak tergantung pada satu backbone. Umpama kabel optik putus, maka ada alternatif kabel optik lain, sementara yang terputus dibenahi; atau ada alternatif koneksi satelit.

Alfons menyoroti bahwa ancaman terbesar bukanlah jika internet mati merata di seluruh dunia, melainkan jika pemblokiran atau gangguan hanya terjadi pada satu negara tertentu.

Kalau terjadi merata di seluruh dunia, menurut saya tidak perlu dikhawatirkan karena semua tidak mendapatkan keuntungan dari kanal digital. Menjadi masalah adalah jika satu negara diblokir (akses internet), maka negara tersebut tidak akan menikmati keuntungan digitalisasi yang dinikmati negara lain,”

papar dia.

Karena itulah internet tidak boleh dimonopoli oleh satu badan atau negara tertentu saja, serta harus terbuka dan bebas dari intervensi. Sebagai langkah antisipasi, Alfons mendesak pemerintah memastikan independensi akses. Indonesia harus memiliki infrastruktur yang memungkinkan layanan lokal tetap berjalan meskipun koneksi ke luar negeri terputus.

Maka pemerintah harus memastikan negara ini memiliki pusat data yang handal dan bisa mengelola koneksi lokal dengan baik. Ia mencontohkan layanan publik vital seperti imigrasi.

Jangan pakai layanan cloud luar negeri. Kalau internet putus, layanan imigrasi terganggu. Kalau menggunakan layanan cloud lokal, dalam skenario internet keluar diputus, secara teknis layanan di pusat data lokal masih tersedia,”

jelas Alfons.

Jadi layanan kritis yang dibutuhkan oleh masyarakat seperti keuangan, kesehatan dan lainnya dipastikan tersedia dalam pusat data lokal, sehingga ketika terjadi pemutusan koneksi atau keadaan memakasa (force majeure) layanan lokal yang kritikal masih dapat berjalan dan berfungsi dengan baik.

Sementara bagi warga, kalau memungkinkan jangan tergantung pada satu penyedia layanan (provider) dan miliki alternatif penyedia jika layanan terganggu.

Alfons pun menyarankan adanya standar operasional ketat bagi sektor kritikal seperti perbankan, listrik, air, dan transportasi massal. Selain kewajiban memiliki multiple backbone (jalur koneksi cadangan seperti satelit jika kabel optik putus), diperlukan juga mekanisme kill switch.

Untuk sektor kritikal seperti listrik, air, telekomunikasi, lalu lintas, dan layanan massal harus ada kill switch. Jadi ketika kontrol digital mengalami masalah, bisa langsung berpindah ke pengelolaan non-digital (manual),”

ucap Alfons.

Pemerintah juga disarankan untuk mewajibkan pengelola data digital kritikal menyimpan data di dalam negeri (data localization), dan memastikan koneksi antar pusat data di seluruh wilayah Indonesia berada dalam kontrol pemerintah.

Kembali ke Buku Kas?

Potensi terputusnya jaringan internet secara global atau nasional tak hanya menimbulkan kekhawatiran dari sisi keamanan dan sosial, tetapi juga ancaman serius bagi perekonomian.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai jika skenario tersebut terjadi, dampaknya akan sangat luar biasa karena internet kini telah bergeser menjadi kebutuhan dasar produksi, bukan sekadar konsumsi.

Dampak kalau internet terputus secara nasional dan global ini luar biasa, sangat besar menurut saya. Karena makin banyak dimensi aspek kehidupan manusia pada saat sekarang bergantung pada akses internet. Bukan hanya untuk aktivitas yang minor, tapi juga major seperti untuk bekerja dan mendapatkan pemasukan,”

kata Faisal kepada owrite.

Era sekarang, telepon seluler dan internet tidak lagi sekadar alat sosialisasi. Keduanya bertransformasi menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi produktif, mulai dari akses perbankan, mobilitas transportasi, jual beli, hingga pertemuan bisnis.

Faisal membandingkan situasi ini dengan masa pandemi COVID-19, ketika mobilitas fisik dibatasi, internet menjadi penyelamat ekonomi. Namun, jika internet yang kini mati, meski transaksi tatap muka bisa dilakukan, intensitas dan efisiensi ekonomi bakal anjlok drastis.

Ketika ditanya ihwal sektor yang akan mengalami kelumpuhan total dan yang masih bisa bertahan bila skenario ini terjadi, Faisal membedakan antara segmen bisnis sepenuhnya digital dan konvensional.

Masing-masing sektor di Indonesia punya dimensi yang bisa tetap, yang artinya bisa tetap jalan tanpa ada internet. Karena sebagian memang banyak yang sudah terkoneksi dengan internet, tapi ada juga yang masih memiliki kemampuan untuk jalan tanpa internet, baik itu di retail, perdagangan, perbankan pun sekalipun, industri manufaktur, dan transportasi,”

ujar dia.

Segmen transportasi berbasis aplikasi akan menjadi korban pertama yang berhenti beroperasi total. Nasib serupa bakal turut dialami oleh sektor ritel yang hanya mengandalkan penjualan daring (e-commerce). Toko-toko daring yang tidak memiliki gerai fisik dapat kehilangan akses pasar sepenuhnya.

Biarpun ancaman kelumpuhan membayangi sektor digital, Faisal optimis struktur ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan lantaran belum sepenuhnya terdigitalisasi. Sektor-sektor konvensional diprediksi menjadi tumpuan hidup “offline”.

Hal serupa berlaku untuk sistem pembayaran. Bila sistem perbankan digital macet, masyarakat “dipaksa” kembali menggunakan transaksi tunai.

Siapkan Kemandirian Energi dan Pangan

Sementara, anggota Komisi IV DPR Daniel Johan mendorong pemerintah mempersiapkan kemandirian pangan hingga energi guna menghadapi kemungkinan gangguan ekonomi bila perang dunia terjadi.

Hal tersebut ia sampaikan menanggapi pernyataan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang menyampaikan kecemasannya atas dinamika geopolitik global hingga kekhawatiran meletusnya Perang Dunia III. Kekhawatiran SBY dilandasi oleh kondisi dan situasi global saat ini.

Selain mengambil langkah-langkah antisipasi untuk menghadapi situasi terburuk dengan mempersiapkan kemandirian cadangan pangan, energi, dan keuangan untuk menghadapi kemungkinan gangguan ekonomi akibat perang, termasuk peningkatan kemampuan pasukan dan pengembangan teknologi pertahanan. Seperti sistem pertahanan udara dan siber,”

ucap Daniel.

Rakyat juga perlu dipersiapkan menghadapi situasi darurat dan memahami pentingnya menjaga keamanan nasional dan pemerintah harus memastikan keamanan atas sumber daya alam dan infrastruktur, memperkuat kerja sama dan diplomasi regional-internasional guna menghadapi ancaman ini.

Owrite menghubungi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk meminta tanggapan perihal mitigasi pemerintah jika potensi perang dunia ketiga terjadi. Namun, mereka tak merespons.

Tag:EkonomiindonesiaInternetkeuanganperang duniaSpill
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Viral! BEM UBK Ngaku Terima Uang Usai Temui Gibran di Istana, Mahasiswa Murka
By Hardani Triyoga
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026). [Foto: ANTARA FOTO/Fauzan].
1
Wacana Prabowo-Gibran Dua Periode di Tengah Kesulitan Rakyat: Tak Punya Nurani dan Mabuk Kekuasaan!
By Hardani Triyoga
pemerintah dalam menghormati jasa para pendahulu dan pemimpin bangsa yang dinilai telah memberikan kontribusi besar bagi negara.
2
Episode Drama Baru Kasus MBG: Kepala BGN Nanik Deyang Masuk ‘Bidikan’ Kejagung
By Rahmat Baihaqi
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (kiri) berbincang dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang (kanan) saat mengikuti rapat koordinasi peningkatan kualitas program Makan Begizi Gratis (MBG) dan dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terpencil di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
3
Dilaporkan Soal Dugaan Korupsi Rp20 M, ITDC Ngaku Cuma Sediakan Lahan di Mandalika
By Rahmat Baihaqi
Kawasan Sirkuit Mandalika.
4
Pakar Bongkar Siapa yang Paling Diuntungkan dari Isu Prabowo-Gibran 2 Periode
By Hardani Triyoga
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara
5

BERITA LAINNYA

Gedung Koperasi Merah Putih Kelurahan Baruga yang telah rampung dibangun di Kendari, Sulawesi Tenggara
Nasional

2 Peserta SPPI Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal saat Latihan Militer, Begini Penjelasan Kemhan

Dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteHardani Triyoga
By
Rahmat Baihaqi
Hardani Triyoga
36 menit lalu
Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal.
Nasional

DPR Desak Hukuman Berat untuk Pelaku Penyekapan Wanita di Bandung

Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang wanita di Kabupaten Bandung, Jawa Barat…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
57 menit lalu
Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid alias Gus Jazil.
Nasional

Bahas TKD 2027, Banggar DPR: Wilayah 3T Sering Disebut Tapi Tak Terpetakan 

Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menyoroti penanganan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar…

Rika PangestiAmin-Suciady-Owrite
By
Rika Pangesti
Amin Suciady
11 jam lalu
Gedung DPR/MPR RI.
Nasional

DPR Bongkar Fakta Mengejutkan! Hanya 30 Persen Daerah di Indonesia yang Fiskalnya Kuat

Skema Transfer Keuangan ke Daerah (TKD) kembali jadi sorotan di Gedung parlemen,…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
11 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up