Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 5 Feb 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • Cari Tahu
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Banjir
  • sumatera
  • longsor
  • Bola
  • Spill
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Lulusan Paket C Dominasi DPR Alarm Keras Mutu Elite Politik, Layak Jadi Wakil Rakyat?
Nasional

Lulusan Paket C Dominasi DPR Alarm Keras Mutu Elite Politik, Layak Jadi Wakil Rakyat?

hadi-febriansyah-owriteAmin Suciady
Last updated: Januari 29, 2026 6:19 pm
Hadi Febriansyah
Amin Suciady
Share
Gedung DPR RI
Gedung DPR RI (Foto: dpr.go.id)
SHARE

Pendidikan kesetaraan kembali menjadi perbincangan publik setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, menegaskan peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai instrumen penting untuk menekan angka putus sekolah di Indonesia.

Daftar isi Konten
  • Faktor Sosial dan Geografis jadi Hambatan
  • BOP dan Pengawasan PKBM Jadi Perhatian
  • Level Sangat Rendah
  • Mutu Kebijakan Publik Dipertaruhkan
  • Politik Uang dan Rendahnya Standar Pendidikan
  • Paket C Sah Tapi Bukan Berarti Ideal untuk DPR
  • Pendidikan Nasional Jadi Akar Persoalan
  • Standar Wakil Rakyat Mendesak Dibahas

Mu’ti menyebut jalur pendidikan nonformal bukan sekadar pilihan cadangan, melainkan solusi konkret bagi warga yang tidak dapat mengakses pendidikan formal karena berbagai keterbatasan. Bahkan, pendidikan kesetaraan disebut telah melahirkan banyak tokoh publik, termasuk anggota legislatif.

Paling banyak itu Paket C. Banyak anggota dewan yang juga lulusan Paket C,”

ujar Mu’ti di depan anggota dewan dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR Selasa, 21 Januari 2026.

Pernyataan tersebut langsung memancing reaksi peserta rapat, bahkan disertai tawa. Namun di luar ruang rapat, pernyataan ini justru memicu diskusi serius soal kelayakan standar pendidikan wakil rakyat.

Faktor Sosial dan Geografis jadi Hambatan

Mu’ti menjelaskan bahwa persoalan anak tidak sekolah, tidak hanya berkaitan dengan kemiskinan. Faktor sosial dan geografis turut memperparah kondisi, mulai dari pernikahan usia dini, hingga sulitnya akses transportasi ke sekolah formal di daerah tertentu.

Merespons kondisi tersebut, Kemendikdasmen berencana memperluas jangkauan pendidikan nonformal melalui PKBM, baik di dalam negeri maupun bagi warga Indonesia di luar negeri. Program yang diperkuat meliputi Paket A, Paket B, Paket C, serta kursus keterampilan berbasis kebutuhan masyarakat.

Dalam kunjungannya ke PKBM di Majalengka, Mu’ti menemukan tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan kesetaraan, khususnya Paket C.

Pesertanya ratusan, dan yang paling banyak justru Paket C,”

katanya.

Menurut Mu’ti, fenomena ini membuktikan bahwa pendidikan kesetaraan adalah jalan realistis bagi masyarakat yang tidak mampu mengikuti jalur formal.

Namun, ketika lulusan Paket C mendominasi ruang legislatif, muncul pertanyaan besar, apakah jalur ini cukup untuk melahirkan pembuat kebijakan negara?

BOP dan Pengawasan PKBM Jadi Perhatian

Mu’ti menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap pengelolaan PKBM. Seluruh peserta pendidikan kesetaraan menerima Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP), sehingga tidak boleh ada pelanggaran administratif maupun akademik.

Kami pastikan tidak boleh ada yang lompat-lompat. Paket C lulus dulu, Paket B menyusul. Itu tidak boleh terjadi lagi,”

ujar Mu’ti.

Ia menambahkan, bahwa penguatan PKBM merupakan bagian dari strategi nasional untuk menekan angka putus sekolah dan meningkatkan rata-rata lama belajar masyarakat.

Ini cara yang kami lakukan agar angka putus sekolah bisa dikurangi dan angka lama belajar bisa kita tingkatkan,”

kata Mu’ti.

Level Sangat Rendah

Pernyataan Mendikdasmen tersebut memicu kritik dari kalangan pengamat pendidikan. Aktivis pendidikan Indra Charismiadji, menilai kualitas lulusan Paket C berada pada level yang sangat rendah, terlebih jika dibandingkan dengan tuntutan kapasitas seorang legislator.

Ia menyoroti cara penyampaian pernyataan menteri yang disertai tawa, yang menurutnya secara implisit menunjukkan anggapan bahwa lulusan Paket C berada di bawah lulusan SMA reguler.

Yang menjadi ironi, jika kita menilik skor PISA Indonesia selama 25 tahun terakhir, hasil Ujian Nasional, hingga asesmen di era menteri tersebut seperti PKA, kualitas pendidikan SMA reguler pun sebenarnya berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Anak-anak SMA Indonesia secara konsisten mencatatkan hasil yang rendah dan termasuk yang terburuk di dunia,”

ujar Indra kepada owrite.id.

Mutu Kebijakan Publik Dipertaruhkan

Indra menegaskan, bahwa persoalan ini tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut kualitas wakil rakyat yang bertugas menyusun undang-undang, anggaran, dan fungsi pengawasan pemerintah.

Jika lulusan SMA reguler saja tertinggal secara global, maka kondisi legislator dengan latar pendidikan yang lebih rendah dinilai semakin mengkhawatirkan. Situasi ini, menurut Indra, menjelaskan mengapa ketidakpuasan publik terhadap kinerja DPR terus meningkat.

Di sinilah persoalan mendasar bangsa ini. Jangan-jangan, selama ini yang dicari dalam proses politik bukanlah kualitas dan kapasitas, melainkan “isi tas”. Inilah pentingnya pendidikan politik bagi masyarakat, karena setiap pilihan politik membawa konsekuensi nyata,”

ujar Indra.

Politik Uang dan Rendahnya Standar Pendidikan

Lebih jauh, Indra mengaitkan rendahnya kualitas pendidikan dengan praktik politik uang yang masih mengakar. Ketika standar kapasitas tidak menjadi syarat utama, maka proses politik hanya berorientasi pada popularitas dan finansial.

Ia juga menyinggung maraknya praktik ijazah palsu dan jual beli ijazah sebagai konsekuensi dari sistem yang lebih mementingkan formalitas administratif.

Pada akhirnya, semua persoalan ini bermuara pada praktik “isi tas”, yaitu politik uang. Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan terus berlangsung? Perubahan hanya akan terjadi jika bangsa ini memiliki kesadaran kolektif untuk memperbaiki sistem dan cara berpikir kita bersama,”

tutur Indra.

Paket C Sah Tapi Bukan Berarti Ideal untuk DPR

Di sisi lain, pengamat pendidikan Doni Koesoema, menegaskan bahwa ijazah Paket C memiliki kedudukan hukum yang setara dengan pendidikan formal.

Karena itu, membatasi hak politik warga hanya berdasarkan jalur pendidikan dinilai berpotensi melanggar Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Apabila ijazah kesetaraan diperoleh melalui cara yang melanggar hukum, maka yang perlu dilakukan adalah mengatur dan menegaskan bahwa praktik tersebut merupakan pelanggaran hukum.

Misalnya, seseorang yang tidak pernah mengikuti proses pembelajaran di PKBM, tetapi tiba-tiba memperoleh ijazah. Praktik seperti inilah yang harus dicegah,”

ujar Doni kepada owrite.id.

Namun demikian, Doni juga menegaskan bahwa ijazah—baik formal maupun kesetaraan—tidak otomatis menjamin kualitas individu. Ia menyebut contoh, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang berijazah Paket C.

Ijazah paket C itu kan ada aturannya, tidak semena-mena bisa dapat. Kalau ijazahnya beli atau asal, ya orangnya harus dihukum, karena memang itu sudah aturannya,”

tambah Doni.

Pendidikan Nasional Jadi Akar Persoalan

Menanggapi polemik ini, Indra kembali menekankan bahwa negara memiliki kewajiban konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, berbagai indikator global menunjukkan kondisi pendidikan nasional masih tertinggal.

Mulai dari hasil PISA, asesmen nasional seperti TKA, hingga kajian internasional World Population Review yang menyebut rata-rata IQ bangsa Indonesia berada di angka 78,49, semuanya menunjukkan kondisi pendidikan nasional yang masih memprihatinkan,”

ujarnya.

Fakta-fakta ini, sambung Indra, menjadi indikator bahwa pemerintah belum optimal dalam mengemban amanat konstitusi untuk mencerdaskan rakyatnya.

Dalam konteks tersebut, muncul desakan agar anggota DPR setidaknya memiliki pendidikan S1, bukan sekadar ijazah setara SMA, mengingat kompleksitas tugas legislator di era global.

Standar Wakil Rakyat Mendesak Dibahas

Indra menilai, rendahnya kualitas pendidikan berimplikasi langsung pada perilaku politik masyarakat yang lebih memilih figur populer ketimbang individu berkapasitas.

Karena itu, pembenahan sistem pendidikan secara menyeluruh menjadi keharusan. Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang tengah dibahas dinilai harus benar-benar diarahkan untuk memenuhi amanat konstitusi.

Bangsa ini membutuhkan rakyat yang cerdas, bukan sekadar memiliki ijazah yang statusnya tidak jelas apakah asli atau palsu, diperoleh melalui proses yang benar atau sekadar dibeli. Semua itu pada akhirnya sama saja menipu diri sendiri,”

ujar Indra.

Sayangnya, pendidikan masih belum menjadi prioritas utama negara. Kondisi ini menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama.

Sebagai warga negara, kita perlu terus memberikan masukan dan tekanan konstruktif agar negara benar-benar menempatkan pencerdasan kehidupan bangsa sebagai agenda utama pembangunan,”

pungkasnya.

Tag:Abdul Mu’tiDPRHeadlineMendikdasmenpaket cPendidikanSpill
Share This Article
Email Salin Tautan Print
hadi-febriansyah-owrite
ByHadi Febriansyah
Reporter
Ikuti
Jurnalis OWRITE yang meliput pemberitaan seputar dunia Olahraga mulai dari Sepak Bola, hingga Bulu Tangkis.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Ikuti
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

@owritedotid

BERITA TERKINI

Indeks berita
Prakiraan Cuaca
Megapolitan

Prakiraan Cuaca BMKG: Jabodetabek Berpotensi Diguyur Hujan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi prakiraan cuaca hari ini di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Menurut ramalan, wilayah Jabodetabek akan diguyur hujan pada hari ini,…

By
Syifa Fauziah
Ivan
1 Min Read
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Hukum

Pejabat Bea Cukai dan Pajak Kena OTT KPK di Kantornya, Purbaya: Ya Biarin Aja

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT), di Banjarmasin dan Jakarta. OTT ini menyasar pejabat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Bea dan Cukai (DJBC). Merespons Hal ini,…

By
Anisa Aulia
Dusep
3 Min Read
Bahan Peledak yang dipakai siswa SMPN 3 Sungai Raya Kalbar untuk meneror sekolahnya.
Nasional

Tragis, Korban Bullying Siswa SMP Kalbar Jadi Pelaku Teror Bom Molotov di Sekolahnya

Kasus pelajar terpapar paham radikalisme kembali terjadi. Kali ini melibatkan seorang siswa SMP kelas IX SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat. Pelaku nekat meledakkan sekolahnya sendiri dengan menggunakan bom molotov.…

By
Rahmat
Dusep
2 Min Read

BERITA LAINNYA

Menteri Luar Negeri Sugiono
Nasional

Jika Tak Sesuai Arah, Indonesia Siap Tinggalkan Dewan Perdamaian

Menteri Luar Negeri Sugiono akhirnya angkat bicara terkait peluang Indonesia menarik diri…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan
14 jam lalu
dokumen istimewa
Nasional

(Part II) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?

Mata Koin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers turut mengeluarkan sikap tegas menanggapi…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
14 jam lalu
dokumen istimewa
Nasional

(Part I) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?

Pemerintah tengah mempersiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing. Langkah…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
15 jam lalu
Ketua Umum Jokowi Mania Nusantara Bersatu (Jokman), Andi Azwan
Nasional

Andi Azwan Tegaskan Publik Bisa Lihat Ijazah Jokowi, Tapi…

Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terus bergulir…

Syifa FauziahAmin Suciady
By
Syifa Fauziah
Amin Suciady
17 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up