Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Senin, 22 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / Lulusan Paket C Dominasi DPR Alarm Keras Mutu Elite Politik, Layak Jadi Wakil Rakyat?
Nasional

Lulusan Paket C Dominasi DPR Alarm Keras Mutu Elite Politik, Layak Jadi Wakil Rakyat?

hadi-febriansyah-owriteAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Januari 29, 2026 6:19 pm
Hadi Febriansyah
Amin Suciady
Share
Gedung DPR RI
Gedung DPR RI (Foto: dpr.go.id)
SHARE

Pendidikan kesetaraan kembali menjadi perbincangan publik setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, menegaskan peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai instrumen penting untuk menekan angka putus sekolah di Indonesia.

Daftar isi Konten
  • Faktor Sosial dan Geografis jadi Hambatan
  • BOP dan Pengawasan PKBM Jadi Perhatian
  • Level Sangat Rendah
  • Mutu Kebijakan Publik Dipertaruhkan
  • Politik Uang dan Rendahnya Standar Pendidikan
  • Paket C Sah Tapi Bukan Berarti Ideal untuk DPR
  • Pendidikan Nasional Jadi Akar Persoalan
  • Standar Wakil Rakyat Mendesak Dibahas

Mu’ti menyebut jalur pendidikan nonformal bukan sekadar pilihan cadangan, melainkan solusi konkret bagi warga yang tidak dapat mengakses pendidikan formal karena berbagai keterbatasan. Bahkan, pendidikan kesetaraan disebut telah melahirkan banyak tokoh publik, termasuk anggota legislatif.

Paling banyak itu Paket C. Banyak anggota dewan yang juga lulusan Paket C,”

ujar Mu’ti di depan anggota dewan dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR Selasa, 21 Januari 2026.

Pernyataan tersebut langsung memancing reaksi peserta rapat, bahkan disertai tawa. Namun di luar ruang rapat, pernyataan ini justru memicu diskusi serius soal kelayakan standar pendidikan wakil rakyat.

Faktor Sosial dan Geografis jadi Hambatan

Mu’ti menjelaskan bahwa persoalan anak tidak sekolah, tidak hanya berkaitan dengan kemiskinan. Faktor sosial dan geografis turut memperparah kondisi, mulai dari pernikahan usia dini, hingga sulitnya akses transportasi ke sekolah formal di daerah tertentu.

Merespons kondisi tersebut, Kemendikdasmen berencana memperluas jangkauan pendidikan nonformal melalui PKBM, baik di dalam negeri maupun bagi warga Indonesia di luar negeri. Program yang diperkuat meliputi Paket A, Paket B, Paket C, serta kursus keterampilan berbasis kebutuhan masyarakat.

Dalam kunjungannya ke PKBM di Majalengka, Mu’ti menemukan tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan kesetaraan, khususnya Paket C.

Pesertanya ratusan, dan yang paling banyak justru Paket C,”

katanya.

Menurut Mu’ti, fenomena ini membuktikan bahwa pendidikan kesetaraan adalah jalan realistis bagi masyarakat yang tidak mampu mengikuti jalur formal.

Namun, ketika lulusan Paket C mendominasi ruang legislatif, muncul pertanyaan besar, apakah jalur ini cukup untuk melahirkan pembuat kebijakan negara?

BOP dan Pengawasan PKBM Jadi Perhatian

Mu’ti menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap pengelolaan PKBM. Seluruh peserta pendidikan kesetaraan menerima Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP), sehingga tidak boleh ada pelanggaran administratif maupun akademik.

Kami pastikan tidak boleh ada yang lompat-lompat. Paket C lulus dulu, Paket B menyusul. Itu tidak boleh terjadi lagi,”

ujar Mu’ti.

Ia menambahkan, bahwa penguatan PKBM merupakan bagian dari strategi nasional untuk menekan angka putus sekolah dan meningkatkan rata-rata lama belajar masyarakat.

Ini cara yang kami lakukan agar angka putus sekolah bisa dikurangi dan angka lama belajar bisa kita tingkatkan,”

kata Mu’ti.

Level Sangat Rendah

Pernyataan Mendikdasmen tersebut memicu kritik dari kalangan pengamat pendidikan. Aktivis pendidikan Indra Charismiadji, menilai kualitas lulusan Paket C berada pada level yang sangat rendah, terlebih jika dibandingkan dengan tuntutan kapasitas seorang legislator.

Ia menyoroti cara penyampaian pernyataan menteri yang disertai tawa, yang menurutnya secara implisit menunjukkan anggapan bahwa lulusan Paket C berada di bawah lulusan SMA reguler.

Yang menjadi ironi, jika kita menilik skor PISA Indonesia selama 25 tahun terakhir, hasil Ujian Nasional, hingga asesmen di era menteri tersebut seperti PKA, kualitas pendidikan SMA reguler pun sebenarnya berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Anak-anak SMA Indonesia secara konsisten mencatatkan hasil yang rendah dan termasuk yang terburuk di dunia,”

ujar Indra kepada owrite.id.

Mutu Kebijakan Publik Dipertaruhkan

Indra menegaskan, bahwa persoalan ini tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut kualitas wakil rakyat yang bertugas menyusun undang-undang, anggaran, dan fungsi pengawasan pemerintah.

Jika lulusan SMA reguler saja tertinggal secara global, maka kondisi legislator dengan latar pendidikan yang lebih rendah dinilai semakin mengkhawatirkan. Situasi ini, menurut Indra, menjelaskan mengapa ketidakpuasan publik terhadap kinerja DPR terus meningkat.

Di sinilah persoalan mendasar bangsa ini. Jangan-jangan, selama ini yang dicari dalam proses politik bukanlah kualitas dan kapasitas, melainkan “isi tas”. Inilah pentingnya pendidikan politik bagi masyarakat, karena setiap pilihan politik membawa konsekuensi nyata,”

ujar Indra.

Politik Uang dan Rendahnya Standar Pendidikan

Lebih jauh, Indra mengaitkan rendahnya kualitas pendidikan dengan praktik politik uang yang masih mengakar. Ketika standar kapasitas tidak menjadi syarat utama, maka proses politik hanya berorientasi pada popularitas dan finansial.

Ia juga menyinggung maraknya praktik ijazah palsu dan jual beli ijazah sebagai konsekuensi dari sistem yang lebih mementingkan formalitas administratif.

Pada akhirnya, semua persoalan ini bermuara pada praktik “isi tas”, yaitu politik uang. Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan terus berlangsung? Perubahan hanya akan terjadi jika bangsa ini memiliki kesadaran kolektif untuk memperbaiki sistem dan cara berpikir kita bersama,”

tutur Indra.

Paket C Sah Tapi Bukan Berarti Ideal untuk DPR

Di sisi lain, pengamat pendidikan Doni Koesoema, menegaskan bahwa ijazah Paket C memiliki kedudukan hukum yang setara dengan pendidikan formal.

Karena itu, membatasi hak politik warga hanya berdasarkan jalur pendidikan dinilai berpotensi melanggar Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Apabila ijazah kesetaraan diperoleh melalui cara yang melanggar hukum, maka yang perlu dilakukan adalah mengatur dan menegaskan bahwa praktik tersebut merupakan pelanggaran hukum.

Misalnya, seseorang yang tidak pernah mengikuti proses pembelajaran di PKBM, tetapi tiba-tiba memperoleh ijazah. Praktik seperti inilah yang harus dicegah,”

ujar Doni kepada owrite.id.

Namun demikian, Doni juga menegaskan bahwa ijazah—baik formal maupun kesetaraan—tidak otomatis menjamin kualitas individu. Ia menyebut contoh, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang berijazah Paket C.

Ijazah paket C itu kan ada aturannya, tidak semena-mena bisa dapat. Kalau ijazahnya beli atau asal, ya orangnya harus dihukum, karena memang itu sudah aturannya,”

tambah Doni.

Pendidikan Nasional Jadi Akar Persoalan

Menanggapi polemik ini, Indra kembali menekankan bahwa negara memiliki kewajiban konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, berbagai indikator global menunjukkan kondisi pendidikan nasional masih tertinggal.

Mulai dari hasil PISA, asesmen nasional seperti TKA, hingga kajian internasional World Population Review yang menyebut rata-rata IQ bangsa Indonesia berada di angka 78,49, semuanya menunjukkan kondisi pendidikan nasional yang masih memprihatinkan,”

ujarnya.

Fakta-fakta ini, sambung Indra, menjadi indikator bahwa pemerintah belum optimal dalam mengemban amanat konstitusi untuk mencerdaskan rakyatnya.

Dalam konteks tersebut, muncul desakan agar anggota DPR setidaknya memiliki pendidikan S1, bukan sekadar ijazah setara SMA, mengingat kompleksitas tugas legislator di era global.

Standar Wakil Rakyat Mendesak Dibahas

Indra menilai, rendahnya kualitas pendidikan berimplikasi langsung pada perilaku politik masyarakat yang lebih memilih figur populer ketimbang individu berkapasitas.

Karena itu, pembenahan sistem pendidikan secara menyeluruh menjadi keharusan. Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang tengah dibahas dinilai harus benar-benar diarahkan untuk memenuhi amanat konstitusi.

Bangsa ini membutuhkan rakyat yang cerdas, bukan sekadar memiliki ijazah yang statusnya tidak jelas apakah asli atau palsu, diperoleh melalui proses yang benar atau sekadar dibeli. Semua itu pada akhirnya sama saja menipu diri sendiri,”

ujar Indra.

Sayangnya, pendidikan masih belum menjadi prioritas utama negara. Kondisi ini menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama.

Sebagai warga negara, kita perlu terus memberikan masukan dan tekanan konstruktif agar negara benar-benar menempatkan pencerdasan kehidupan bangsa sebagai agenda utama pembangunan,”

pungkasnya.

Tag:Abdul Mu’tiDPRHeadlineMendikdasmenpaket cPendidikanSpill
Share This Article
Email Salin Tautan Print
hadi-febriansyah-owrite
ByHadi Febriansyah
Reporter
Follow:
Jurnalis OWRITE yang meliput pemberitaan seputar dunia Olahraga mulai dari Sepak Bola, hingga Bulu Tangkis.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Jokowi ‘Curi Start’ Pilpres 2029, Ada Misi Mengunci Kursi Cawapres untuk Gibran
By Hardani Triyoga
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).
1
PLN Jadwalkan Pemadaman Listrik di Bojonggede dan Citayam Hari Ini, Cek Wilayah Terdampak
By Ani Ratnasari
Pemadaman listrik
2
Usai Bikin Geger Pemadaman Bergilir, PLN Klaim Gangguan Listrik Jawa Berangsur Pulih
By Natania Longdong
Direktur Utama PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dalam konferensi pers di PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B Jamali), Depok, Jawa Barat. (Sumber: Dok. PLN)
3
Janji Kompensasi Mandalika Diduga Zonk, ITDC dan Dinas Perkim Loteng Dilaporkan ke KPK
By Rahmat Baihaqi
LSBH NTB melaporkan dugaan korupsi relokasi pemukiman Mandalika kepada KPK, 22 Juni 2026.
4
Teriak Takbir Pakai Baju Tahanan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Resmi Dilimpahkan ke Kejari Jaksel
By Rahmat Baihaqi
Roy Suryo dan dr. Tifa dilimpahkan kepada Kejari Jaksel dari Rutan Polda Metro Jaya, Senin, 22 Juni 2026.
5

BERITA LAINNYA

Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNRA) mencurahkan kegelisahannya di hadapan pimpinan DPR RI dan Panitia Khusus.
Nasional

KNRA Curhat ke DPR: Rapat Berkali-kali, Tapi Petani Masih Digusur dan Dikriminalisasi!

Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNRA) mencurahkan kegelisahannya di hadapan pimpinan DPR RI…

Hardani TriyogaRika Pangesti
By
Hardani Triyoga
Rika Pangesti
57 menit lalu
DPR Terima Aspirasi Koalisi Nasional Reforma Agraria
Nasional

Usai Serap Aspirasi KNRA, Pansus Agraria Bakal Panggil Pihak-Pihak Bersengketa

DPR RI telah menyerap aspirasi dari Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNRA) terkait…

Rika PangestiIvan OWRITE
By
Rika Pangesti
Ivan Syahruna Lubis
1 jam lalu
DPR Terima Aspirasi Koalisi Nasional Reforma Agraria
Nasional

DPR Terima Aspirasi Koalisi Nasional Reforma Agraria, Pansus Janji Tindak Lanjuti Konflik Tanah di Berbagai Daerah

Aksi demonstrasi yang digelar massa dari Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNRA) di…

Rika PangestiIvan OWRITE
By
Rika Pangesti
Ivan Syahruna Lubis
1 jam lalu
Koalisi Nasional Reforma Agraria menggeruduk Gedung DPR RI pada Senin, 22 Juni 2026.
Nasional

Reforma Agraria Mandek, Aksi ‘1000 Caping’ Tuntut Pemerintah Stop Manjakan Korporasi

Massa yang tergabung dalam Koalisi Nasional Reforma Agraria menggeruduk gedung DPR RI…

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
By
Rika Pangesti
Adi Briantika
4 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up