Anggota Komisi V DPR RI, Sujatmiko, menegaskan bahwa persoalan banjir dan bencana hidrometeorologi di Indonesia tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan tinggi.
Menurutnya, akar masalah justru terletak pada tata kelola lingkungan, mulai dari pengelolaan air, penataan ruang, hingga pembangunan infrastruktur yang kerap mengesampingkan prinsip kelestarian alam.
Politikus dari Fraksi PKB tersebut menilai hujan merupakan fenomena alam yang membawa manfaat besar bagi kehidupan. Namun, kurangnya kesadaran manusia terhadap perubahan alam membuat air hujan justru memicu bencana.
Hujan itu seharusnya kita syukuri. Tetapi karena kita kurang memahami dan kurang memperhatikan perubahan alam, air yang turun dari langit justru menimbulkan banjir,”
kata Sujatmiko dalam keterangan tertulisnya dikutip Senin, 9 Februari 2026.
Dua Cara Mengelola Air Hujan Secara Ideal
Sujatmiko menjelaskan bahwa air hujan seharusnya dikelola melalui dua pendekatan utama. Pertama, air perlu ditampung di permukaan melalui waduk atau bendungan agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Pada musim kemarau, baik untuk pertanian, air minum, maupun kebutuhan lainnya. Air hujan juga perlu dimasukkan kembali ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah,”
ucap Sujatmiko.
Namun, ia menilai pendekatan kedua, yakni mengembalikan air hujan ke dalam tanah, masih jarang diterapkan secara optimal di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan air langsung mengalir di permukaan tanpa sempat terserap, sehingga meningkatkan risiko banjir di berbagai wilayah.
Pola Siklus Hujan Perlu Dipahami Bersama
Lebih lanjut, Sujatmiko mengingatkan bahwa hujan memiliki siklus alami dengan variasi intensitas yang berbeda-beda, mulai dari lima tahunan hingga siklus ekstrem 50 bahkan 100 tahunan.
Hujan memiliki siklus alami dengan intensitas yang berbeda-beda, mulai dari siklus lima tahunan hingga 50 bahkan 100 tahunan. Karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memahami pola tersebut, dengan penjelasan teknis dari BMKG,”
ujar Sujatmiko.


