Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 7 Mei 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • iran
  • BMKG
  • Sepak Bola
  • prabowo
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part II) Membedah ‘Senjata’ Penjeratan Korporasi di Era KUHAP Baru
Nasional

(Part II) Membedah ‘Senjata’ Penjeratan Korporasi di Era KUHAP Baru

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: Februari 18, 2026 1:19 pm
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
gambar ilustrasi palu hakim di meja sidang
gambar ilustrasi palu hakim di meja sidang. (Foto dibuat oleh AI)
SHARE

Benteng Pertahanan

Kegelisahan perubahan regulasi tidak hanya dirasakan oleh penegak hukum, namun juga merambat ke ruang-ruang direksi perusahaan.

Timothy Joseph Ingkiriwang, Partner dari firma hukum Dentons HPRP, berpendapat sejak aturan baru ini mencuat, meja kerjanya dibanjiri pertanyaan dari klien korporasi.

Ke depannya harus menerapkan seperti apa? Tata kelola seperti apa yang harus dijalankan? Masih bisa sama yang (regulasi) lama atau harus diubah?”

ungkap Timothy menggambarkan kebingungan dunia usaha.

Timothy membedah strategi preventif yang wajib dilakukan korporasi agar tidak menjadi korban kriminalisasi atau dituduh melakukan “pembiaran” tindak pidana. Dia menyoroti realitas pahit di lapangan: tipisnya batas antara sengketa bisnis (perdata) dan tindak pidana.

Ia memperingatkan bahwa tanpa tata kelola yang kuat, perselisihan bisnis biasa dapat dengan mudah dipelintir menjadi kasus pidana penipuan atau penggelapan.

Apalagi di dunia usaha itu perkara yang sebenarnya perdata, bisa dikriminalisasi. Bilang seolah-olah, ‘Oh, ada penipuannya nih, lapor polisi dulu, pidanakan dulu.’ Sering sekali terjadi,”

kata Timothy.

Dalam konteks KUHP baru yang memperluas pertanggungjawaban korporasi, risiko ini menjadi semakin fatal karena perusahaan bisa langsung ditetapkan sebagai tersangka.

Guna menangkal risiko tersebut, Timothy menyarankan langkah preventif utama yaitu detailkan kebijakan perusahaan.

Ia menekankan, bahwa deskripsi pekerjaan dan matriks tanggung jawab tidak boleh lagi bersifat umum. Setiap jabatan, terutama yang berisiko tinggi seperti Kepala Pengadaan, harus memiliki batasan wewenang yang tertulis jelas. Artinya, harus ada kebijakan korporasi supaya perusahaan tidak terkena imbas dari “kelakuan” pegawai.

Jika seorang karyawan menyimpang di luar SOP yang sudah ditulis detail, perusahaan memiliki argumen kuat bahwa tindakan tersebut adalah ultra vires (di luar wewenang) dan bukan merupakan representasi kebijakan korporasi.

Salah satu perhatian terbesar Timothy adalah definisi “Pemberi Perintah” dalam regulasi baru yang masih sumir. Berbeda dengan direksi atau komisaris yang definisinya jelas dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, “Pemberi Perintah” bisa menyasar siapa saja yang memiliki pengaruh.

Pemberi perintah siapa? Apakah kepala staf? Kepala cabang? Itu cukup untuk didefinisikan sebagai pemberi perintah? Karena kalau iya, maka apa yang dia lakukan nanti bisa berdampak ke korporasi secara menyeluruh, dan itu bahaya,”

kata Timothy.

Dia menyarankan, agar korporasi segera memetakan siapa saja individu yang berwenang memberikan perintah strategis dan memagari pegawai dengan pengetatan aturan internal perusahaan.

Bagaimana memisahkan tanggung jawab pribadi pengurus dengan tanggung jawab korporasi? Timothy memberikan taktik jitu: kolektif kolegial.

Ia menyarankan agar keputusan strategis tidak diambil sendirian, melainkan melalui mekanisme persetujuan berjenjang dari direksi atau komisaris.

Segala keputusan yang misalnya diambil kolektif bersama-sama, itu bisa dianggap sebagai suatu company policy. Itu lebih menguatkan posisi dia, supaya jangan sampai pada saat dia mengambil keputusan (berakibat) salah, dia secara pribadi juga kena,”

urai Timothy.

Dalam rezim hukum baru, korporasi bisa dipidana karena pembiaran. Untuk membantah tuduhan ini, Timothy mewajibkan kliennya melakukan pelatihan kepatuhan (Compliance Training) secara rutin, minimal setahun sekali atau per semester.

Ini bukan sekadar formalitas, melainkan alat bukti hukum. Jika suatu hari terjadi pidana oleh karyawan, perusahaan bisa menunjukkan rekam jejak pelatihan tersebut kepada penegak hukum sebagai bukti korporasi telah mengupayakan demi mencegah kejahatan.

Meski implementasi regulasi ini masih berproses dan bergantung pada interpretasi aparat di lapangan, perusahaan tidak boleh mengambil risiko.

Pengetatan kebijakan internal mungkin bakal membuat proses bisnis sedikit lebih lambat atau birokratis, namun itu harga pantas untuk keamanan hukum.

Di balik seremoni pemberlakuan KUHP dan KUHAP Baru pada awal 2026, terdapat kepanikan sunyi di ruang-ruang penegakan hukum daerah.

Neneng Rahmadini, Kepala Kejaksaan Negeri Metro, Lampung, menyoroti betapa krusialnya momen transisi hukum pidana Indonesia.

Bagi Neneng, periode pergantian tahun 2025 ke 2026 bukan seperti pesta kembang api, melainkan masa pertaruhan nasib ribuan berkas perkara.

(Part I) Membedah ‘Senjata’ Penjeratan Korporasi di Era KUHAP Baru

Dia menggambarkan situasi di kantornya pada akhir tahun lalu. Ia memerintahkan 24 jaksa di Kejari Metro untuk berjaga hingga tengah malam demi menunggu pengesahan satu aturan krusial: Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

Kepanikan ini dipicu oleh prinsip Lex Favore (hukum yang menguntungkan terdakwa). Neneng menyoroti adanya celah fatal dalam KUHP anyar yang menghapus pasal pidana tentang tanaman ganja, misalnya, namun belum ada aturan penggantinya hingga detik-detik terakhir.

Terkait dengan tindak pidana narkotika, kalau merujuk UU 1/2023 tentang KUHP, (Indonesia) memiliki narkotika jenis ganja tanaman, itu boleh (tidak dipidana), karena Pasal 111 dihapus, tapi tidak ada gantinya,”

ucap Neneng.

Jika UU Penyesuaian Pidana terlambat disahkan, maka seluruh tersangka kepemilikan pohon ganja harus dibebaskan demi hukum.

Neneng pun mengkritik salah satu terobosan KUHAP yakni penerapan keadilan restoratif dalam tahap penyelidikan. Menurutnya, konsep ini berbahaya karena membuka ruang gelap dalam penegakan hukum.

Ia menantang konsep tersebut lantaran tahap penyelidikan sejatinya baru bertujuan mencari tahu apakah ada tindak pidana atau tidak, belum menetapkan tersangka.

Di sini bisa bocornya. Dark number of crime bisa muncul di situ,”

tegas Neneng.

Tanpa penetapan pengadilan dan kontrol yang ketat, penghentian perkara di tahap paling awal ini berpotensi menjadi ajang transaksional yang tidak tercatat dalam statistik kejahatan negara.

Isu lain yang diangkat perihal kekosongan hukum ihwal mekanisme baru seperti Deferred Prosecution Agreement (DPA) atau Penundaan Penuntutan.

KUHP Baru sudah berlaku efektif, namun Peraturan Pemerintah yang memaktubkan teknis pelaksanaannya belum rampung.

Ini menciptakan kebingungan ketika ada korporasi atau tersangka yang ingin memanfaatkan mekanisme tersebut.

Neneng juga menyoroti definisi “korporasi” dalam rancangan aturan turunan yang menurutnya masih rancu.

Definisi yang memperluas korporasi sebagai “kumpulan orang dan/atau kekayaan” menimbulkan pertanyaan fundamental dalam eksekusi pidana.

Bila definisi ini tidak diperjelas, jaksa diprediksi bakal kesulitan menentukan subjek hukum yang harus didakwa: apakah pengurusnya, entitas perusahaannya, atau sekadar kumpulan asetnya.

Kemudian, pembahasan aturan pelaksana (RPP KUHAP) yang saat ini sedang dikebut pemerintah harus benar-benar melibatkan masukan publik dan praktisi, bukan sekadar formalitas.

Tag:HukumKejagungkuhapkuhpSpill
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Pramono Anung
Daerah

Pramono: Jumlah RW Kumuh di Jakarta Turun 52,58%

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan bahwa, jumlah Rukun Warga (RW) kategori kumuh di Jakarta mengalami penurunan hingga 52,58 persen. Hal ini disampaikannya langsung dalam konferensi pers bersama BPS di…

By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
2 Min Read
Sefruit

Bukan Malas Kerja, Ini Alasan Banyak Gen Z yang Quite Quitting

Quiet quitting bukan soal malas kerja atau resign diam-diam. Gen Z yang melakukannya tetap profesional — mereka hanya berhenti memberikan tenaga ekstra di luar jobdesk tanpa apresiasi. Ini soal batas,…

By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
4 Min Read
Ilustrasi chemistry
Cari Tahu

Chemistry Adalah? Simak Pengertian dan Tanda-tandanya 

Apakah kamu pernah berbicara dengan seseorang dan merasa nyambung, padahal kamu tidak mengeluarkan effort lebih? Bisa jadi itu yang disebut chemistry. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan koneksi alami antara…

By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
3 Min Read

BERITA LAINNYA

Presiden Prabowo menggunakan “Maung” dalam kunjungan kerjanya pada KTT ke-48 ASEAN yang berlangsung pada 7-8 Mei 2026.
Nasional

Cetak Sejarah! Maung Mejeng di Filipina Jadi Tunggangan Prabowo di KTT ASEAN

Presiden Prabowo Subianto tiba di Cebu, Filipina pada Kamis, 7 Mei 2026,…

Ani Ratnasariowrite-adi-briantika
By
Ani Ratnasari
Adi Briantika
4 jam lalu
Petugas menyusun ompreng berisi makanan bergizi gratis ke dalam mobil sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Ternate di Ternate, Maluku Utara
Nasional

SPPG Masuk Kampus Tuai Kritik, Perguruan Tinggi Dinilai Terancam Kehilangan Marwah

Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan perguruan tinggi untuk mendukung…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan
7 jam lalu
Kapolri Sigit mengatakan ada fenomena celah hukum baru akibat eskalasi global saat ini.
Nasional

Kapolri Ingatkan Bareskrim Antisipasi Modus Kejahatan Transnasional Baru

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap banyak modus baru bermunculan akibat dinamika…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteowrite-adi-briantika
By
Rahmat
Adi Briantika
8 jam lalu
Kepala Badan Intelijen Srategis (Kabais) TNI, Letjen Robi Herbawan
Nasional

Profil Roby Herbawan, Kabais Pengganti Letjen Yudi Abrimantyo

Teka-teki siapa yang menjabat Kepala Badan Intelijen Srategis (Kabais) TNI akhirnya terjawab.…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteAmin Suciady
By
Rahmat
Amin Suciady
8 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up