Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana ambisius pembangunan 10 universitas baru serta 500 sekolah berkualitas tinggi sebagai bagian dari percepatan reformasi sektor pendidikan nasional. Komitmen tersebut disampaikan Prabowo dalam Gala Iftar Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat (AS).
Ia menegaskan bahwa pendidikan menjadi fondasi utama untuk memperkuat daya saing Indonesia sekaligus menjawab tantangan kekurangan tenaga profesional, terutama di bidang kesehatan.
Saya sedang mendirikan 10 universitas baru. Tahun ini kami mulai membangun 500 sekolah berkualitas tinggi baru dengan bekerja sama dan mengundang institusi pendidikan asing untuk datang ke Indonesia,”
kata Prabowo, dikutip Jumat, 20 Februari 2026.
Menurutnya, universitas yang akan dibangun difokuskan pada bidang STEM (science, technology, engineering, mathematics) dan kedokteran. Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam penyediaan sumber daya manusia unggul di sektor strategis.
Prabowo mengungkapkan, Indonesia saat ini masih kekurangan sekitar 140 ribu dokter. Sementara jumlah lulusan dokter setiap tahun hanya sekitar 10 ribu orang. Dengan kondisi tersebut, dibutuhkan waktu hingga 14 tahun untuk menutup kekurangan jika tidak ada terobosan baru.
Itulah alasan saya menciptakan 10 universitas baru ini yang akan berbasis pada STEM dan kedokteran,”
ujarnya.
Selain membangun institusi baru, pemerintah juga membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi kelas dunia. Prabowo menyebut telah berdiskusi dengan sejumlah universitas ternama di Inggris, seperti University of Oxford, University of Cambridge, Imperial College London, King’s College London, serta University College London, yang disebutnya menunjukkan ketertarikan untuk berekspansi ke Indonesia.
Prabowo juga mengklaim telah mengundang institusi pendidikan Amerika Serikat untuk menjalin kerja sama serupa.
Di hadapan para pemimpin bisnis AS, Prabowo menekankan bahwa investasi pada manusia menjadi prioritas utama pemerintahannya. Ia menilai, tanpa reformasi pendidikan dan penguatan sektor kesehatan, Indonesia sulit keluar dari persoalan kemiskinan, kelaparan, dan malnutrisi yang masih dihadapi sebagian masyarakat.

