Anggota Komisi I DPR RI Syahrul Aidi Maazat menyoroti dinamika politik global yang berkembang setelah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional.
Ia juga mengkritisi keikutsertaan Indonesia dalam sejumlah forum internasional yang sebelumnya dibentuk untuk menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Syahrul menyinggung wacana evaluasi keanggotaan Indonesia di berbagai forum internasional yang dinilai tidak lagi efektif dalam menjaga stabilitas global.
Hal tersebut disampaikan saat kunjungan kerja Komisi I DPR RI di Markas Komando Daerah Militer XX Tuanku Imam Bonjol di Padang, Sumatera Barat, pekan lalu.
Ini perlu menjadi bahan diskusi pemerintah, apakah forum-forum internasional yang ada masih sesuai dengan amanat konstitusi kita atau tidak,”
ujar Syahrul.
Momentum Perkuat Kemandirian Nasional
Menurut Syahrul, situasi geopolitik global saat ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian nasional di berbagai sektor strategis.
Beberapa sektor yang dinilai penting antara lain pertahanan, energi, dan ekonomi.
Kita harus belajar dari negara lain yang tetap kuat meski berada di bawah tekanan global. Kemandirian nasional itu kunci,”
tutupnya.
Syahrul juga menilai konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Dampak tersebut bisa dirasakan oleh berbagai negara, termasuk Indonesia, terutama pada sektor energi dan anggaran negara.
Karena itu, ia mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak konflik yang melibatkan Iran terhadap ketahanan energi nasional serta kondisi fiskal negara.
Selat Hormuz Jadi Jalur Strategis Energi Dunia
Menurut Syahrul, salah satu potensi dampak serius dari konflik Iran adalah kemungkinan terganggunya jalur perdagangan energi global di Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan jalur strategis distribusi minyak dunia yang dilalui oleh sebagian besar pengiriman energi global.
Jika Selat Hormuz terganggu, ekspor-impor minyak dunia akan terdampak. Sementara Indonesia masih bergantung pada impor minyak,”
ujar Syahrul.
Gangguan distribusi minyak dunia, lanjut Syahrul, dapat memicu lonjakan harga minyak global.
Jika kondisi tersebut terjadi, dampaknya bisa langsung dirasakan di dalam negeri melalui kenaikan harga energi serta meningkatnya beban subsidi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Kalau harga minyak naik tentu akan berdampak pada subsidi energi kita di APBN. Ini harus diantisipasi sejak sekarang,”
katanya.
Untuk menghadapi potensi risiko tersebut, Syahrul mendorong pemerintah mempercepat langkah menuju kemandirian energi nasional.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui eksplorasi sumber minyak domestik serta pengembangan energi alternatif yang berkelanjutan.
Energi itu urat nadi kehidupan sebuah bangsa. Kalau kita mandiri energi, kita akan jauh lebih kuat menghadapi gejolak global,”
jelasnya.


