Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Ganinduto, mendesak Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, untuk mundur dari jabatannya menyusul insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur.
Menurut Firnando, peristiwa tersebut menunjukkan adanya masalah serius dalam sistem operasional yang seharusnya mampu mencegah tabrakan di jalur yang sama.
Ada pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pengawasan, kesiapan sistem keselamatan, serta standar operasional yang diterapkan. Ini adalah tanggung jawab manajemen puncak, kami mendesak dirut KAI untuk mengudurkan diri”
kata Firnando dalam keterangannya, Rabu, 29 April 2026.
Sistem Keselamatan Dinilai Bermasalah
Firnando menyoroti kegagalan sistem KRL dalam mendeteksi keberadaan kereta yang sedang berhenti di jalur yang sama. Ia menilai hal ini sebagai indikasi lemahnya integrasi teknologi dalam sistem perkeretaapian.
Padahal, dalam sistem transportasi modern, berbagai teknologi seperti automatic signaling, train protection system, hingga fail-safe mechanism seharusnya mampu mencegah kecelakaan, bahkan jika terjadi kesalahan manusia.
Ketidakmampuan sistem dalam mengantisipasi kondisi tersebut menunjukkan adanya celah serius dalam integrasi teknologi dan pengawasan operasional,”
ujar dia.
Lebih lanjut, Firnando menilai insiden ini mencerminkan lemahnya implementasi manajemen keselamatan dalam operasional transportasi publik.
Ia menegaskan bahwa aspek keselamatan tidak boleh hanya menjadi formalitas administratif.
Keselamatan, menurutnya, harus menjadi bagian integral dari seluruh proses operasional, mulai dari perencanaan perjalanan, pengaturan sinyal, hingga pengendalian lalu lintas kereta secara real-time.
Dorongan Audit dan Investigasi Transparan
Firnando juga mendorong dilakukannya audit menyeluruh terhadap sistem operasional KAI. Evaluasi tersebut mencakup sistem komunikasi antar stasiun, prosedur darurat, hingga keandalan teknologi deteksi.
Selain itu, ia meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi untuk melakukan investigasi secara transparan guna mengembalikan kepercayaan publik.
Menurut Firnando, kejadian ini harus menjadi titik balik bagi KAI untuk melakukan pembenahan menyeluruh dalam sistem keselamatan transportasi.
Dengan meningkatnya jumlah penumpang dan frekuensi perjalanan, kebutuhan akan sistem yang lebih canggih, responsif, dan terintegrasi menjadi sangat penting.
Keselamatan publik adalah prioritas utama. Tidak boleh ada kompromi dalam hal ini,”
tambahnya.




