“Tidak absolut kesalahan ada pada pengemudi. Bisa juga dari kendaraan atau manajemen. Bahkan korporasi bisa ikut bertanggung jawab,”
kata Agus.
Pelatihan Berkendara
Korlantas Polri mendorong agar selanjutnya ada Traffic Attitude Record (TAR) guna memantau perilaku pengemudi ssekaligus mendata pelanggaran melalui sistem tilang elektronik alias ETLE. Hal itu guna memastikan pengemudi memiliki kompetensi sekaligus perilaku berkendara yang baik.
Lebih lanjut, Jenderal Polri bintang dua itu menawarkan program pelatihan ulang bagi pengemudi melalui Indonesia Safety Driving Center (ISDC) untuk para sopir taksi Green SM. supaya para sopir taksi disiplin dan meningkatkan kesadaran berlalu lintas.
“Dari sekitar 10 ribu pengemudi, perlu ada kontrol dan pembinaan. Bisa dilatih kembali agar lebih disiplin dan patuh,”
ujar Agus.
Pengakuan
Sementara itu, Direktur Taksi Green SM Denny Gunawan menyambut baik rencana kolaborasi itu. Dia mengakui masih banyak aspek yang harus ditingkatkan, terutama dalam pembinaan dan edukasi pengemudi taksi.
Maka pihaknya sedang menyiapkan program pelatihan ulang untuk membangun budaya keselamatan sebagai prioritas utama.
“Kami melihat masih ada area yang bisa ditingkatkan, seperti pelatihan kembali. Bagaimana membangun budaya agar sopir menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama,”
tutur Denny.
Manajemen ‘taksi ijo’ itu mengaku ada beberapa kendala dalam pelaksanaan pelatihan. Oleh sebab itu, pihaknya menyambut baik usulan kepolisian.
“Dengan kolaborasi ini kami berharap edukasi dari pihak yang berkompeten bisa menjadi tolok ukur bagi sopir untuk tidak mengulangi pelanggaran,”
ujar dia.
27 April, taksi Green SM sempat terhenti di tengah rel kereta api yang tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur karena masalah korsleting. RPP, sopir taksi, berhasil keluar dari jendela sebelum mobilnya ditabrak oleh KRL Commuter Line yang melaju dari arah Cikarang ke Jakarta.