Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini digaungkan jadi andalan pemerintahan Prabowo Subianto mulai diterpa gelombang protes. Aksi protes dilakukan kalangan pelaku usaha dan investor di daerah.
Sejumlah pengusaha yang terlibat dalam penyediaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG dikabarkan mengeluhkan insentif yang belum dibayarkan. Bahkan, ada yang mengaku sudah mengeluarkan modal besar namun belum memperoleh izin operasional.
Video sejumlah investor dan pengelola SPPG yang emosi mendatangi kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta viral di media sosial. Kabarnya mereka minta kejelasan terkait dapur MBG di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).
Situasi itu memantik reaksi dari pegiat media sosial yang juga dai, Ustaz Hilmi Firdaus. Menurutnya, semakin banyak suara keberatan yang muncul dari kalangan pengusaha, menunjukkan adanya persoalan serius dalam tata kelola program MBG.
Satu persatu para pengusaha dan investor MBG berteriak karena ketidakberesan program ini,”
tulis Ustaz Hilmi Firdaus di akun X pribadinya yang dikutip, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menyoroti penggunaan istilah ‘relawan’, yang selama ini kerap disematkan kepada pihak-pihak yang bantu menjalankan program MBG di lapangan. Ustaz Hilmi menilai, istilah tersebut tak lagi tepat jika pihak yang terlibat justru menuntut pembayaran atau insentif dari pemerintah.
Btw, jangan lagi sebut mereka relawan yaa…relawan itu rela bahkan jika tidak dibayar 😊,”
sindir Ustaz Hilmi.
Dikatakan ustaz Hilmi, pihak yang paling vokal memprotes justru para pengusaha dan investor yang terlibat dalam program tersebut, bukan masyarakat penerima manfaat.
Ia pun mempertanyakan suara yang paling lantang dari pelaku usaha. Namun, keluhan dari kelompok sasaran seperti siswa sekolah atau ibu hamil nyaris tidak terdengar.
Satu lagi, ketika di bbrp tempat MBG dihentikan sementara knp yg teriak pengusahanya ya?,”
lanjutnya.
Ustaz Hilmi menilai, kondisi itu menimbulkan pertanyaan besar mengenai siapa sebenarnya yang paling terdampak ketika program MBG terganggu.
Harusnya kan anak2 sekolah dan ibu hamil penerima manfaat yang teriak2 kelaparan karena ga dapat MBG, tapi saya malah belum dengar tuh ada penerima manfaat yang kelaparan gara2 ga dapat MBG. CMIIW,”
tutur Ustaz Hilmi



