Analis Kebijakan Publik Dr. Faisal Sallatalohy mengkritik klaim keberhasilan kabinet Presiden Prabowo Subianto, khususnya Kementerian Pertanian dalam mewujudkan swasembada pangan.
Menurutnya, keberhasilan tersebut patut dipertanyakan apabila masyarakat masih dibebani harga pangan yang tinggi dan kebutuhan pangan justru menjadi salah satu beban terbesar rumah tangga.
Prabowo bangga dengan kinerja kabinetnya, terutama kementerian pertanian. Kerja keras 2 tahun membuahkan hasil swasembada pangan,”
kata Faisal menanggapi klaim Prabowo soal swasembada pangan, Jumat, 14 Agustus 2026.
Harus Diuji
Ditegaskannya, klaim tersebut harus diuji dengan kondisi ekonomi masyarakat dan data kemiskinan. Ia menyebut data BPS menunjukkan tingginya harga pangan menjadi salah satu faktor besar yang berkontribusi terhadap kemiskinan nasional.
Data BPS berkata lain. Tingginya harga pangan menyumbang 74,70% kemiskinan nasional. Mahalnya harga pangan menjadi faktor terbesar penyumbang kemiskinan,”
ucapnya.
Dijelaskan Faisal, beban masyarakat semakin berat karena sebagian besar pendapatan rumah tangga disebut terserap untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Kondisi tersebut, kata dia, menyisakan ruang yang semakin sempit bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
74,70% pendapatan rumah tangga Indonesia habis hanya untuk belanja pangan. Bagaimana dengan belanja kebutuhan lainnya?,”
jelasnya.
Faisal kemudian menyoroti harga beras yang menurutnya menjadi persoalan paling besar dalam beban pangan masyarakat. Ia menyebut harga beras memberikan kontribusi signifikan terhadap angka kemiskinan nasional.
Terbesarnya adalah harga beras. Mahalnya harga beras menyumbang 24 persen dari total angka kemiskinan nasional,”
ungkapnya.
Ditambahkan Faisal, kenaikan harga beras juga dapat meningkatkan jumlah masyarakat yang masuk ke dalam kelompok miskin. Setiap kenaikan harga beras sebesar 10 persen berpotensi memicu kenaikan kemiskinan baru sebesar 0,3 hingga 0,5 persen.
Jika harga beras naik 10 persen, memicu kenaikan kemiskinan baru 0,3–0,5 persen,”
paparnya.
Karena itu, Faisal mempertanyakan ukuran keberhasilan swasembada pangan yang hanya dilihat dari sisi produksi atau ketersediaan komoditas.
Stop tipu-tipu Swasembada pangan!!!,”























