Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia pada 2026 dinilai belum mencapai ancaman terburuk.
Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, memperingatkan puncak ancaman justru berpotensi terjadi pada 2027 dan kerugian negara bisa melampaui Karhutla di 2019 yang menyentuh Rp221 triliun apabila pemerintah terlambat memperkuat mitigasi sejak sekarang.
Karena memang ancaman untuk kebakaran gambut lagi periode 2026 ini itu masuk siklus 4 tahunan El Nino dan kemudian musim kering yang ekstrem itu seperti kejadian 2015 dan 2019,”
katanya dalam diskusi publik di DPR RI, Rabu, 2 September 2026.
Menurut Riyono, tren luas lahan yang terbakar dalam satu dekade terakhir memang menunjukkan perkembangan yang relatif lebih baik.
Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat pemerintah lengah menghadapi ancaman kebakaran pada periode 2026-2027.
Kalau data BPS 2015 sampai 2025, luasan lahan yang terbakar itu sebenarnya cenderung menurun,”
ucapnya.
Riyono justru memberikan peringatan keras terhadap kondisi tahun depan. Menurut dia, karhutla yang terjadi pada 2026 belum menggambarkan potensi ancaman terbesar yang harus dihadapi Indonesia.
Tetapi ini 2026, dan nanti puncaknya ini belum puncak teman-teman. Ini puncaknya 2027,”
tegasnya.
Peringatan tersebut menjadi serius karena ancaman El Niño memang belum sepenuhnya berakhir. BMKG memprediksi El Niño bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027.
Kerugian
Sebelumnya, BMKG juga mengingatkan potensi siklus El Niño empat tahunan pada 2027 yang, apabila berbarengan dengan penguatan Monsun Australia, dapat membuat musim kemarau Indonesia berlangsung lebih panjang.
Riyono membandingkan potensi kerugian tersebut dengan karhutla 2019. Kerugian pada periode itu mencapai hampir Rp221 triliun.
Angka sebesar itu dikhawatirkan dapat kembali terjadi, bahkan terlampaui, apabila mitigasi menghadapi ancaman 2027 tidak disiapkan lebih awal.
Tahun 2019 itu kerugian negara karena adanya kebakarannya hampir 221 triliun. Mungkin 2027 bisa jadi lebih kalau mitigasinya dari awal itu tidak disiapkan,”
jelasnya.
Dia menilai, persoalan utama justru terletak pada kesiapan mitigasi sebelum kebakaran terjadi. Riyono mengaku, telah mengingatkan Kementerian Kehutanan mengenai besarnya potensi kebakaran pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Karena kelemahannya apa? Kelemahannya sebelum kejadian 2026 ini, dengan Kementerian Kehutanan saya sudah ingatkan, potensi api 2026 ini lebih besar dibanding dengan 2025,”
ungkapnya.
Peringatan mengenai tingginya ancaman karhutla 2026 memang bukan tanpa dasar. BMKG sejak April 2026 telah mengingatkan kondisi iklim tahun ini berpotensi lebih kering, dengan musim kemarau yang datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.
Ribuan Titik Panas
Saat itu, BMKG juga mencatat 1.601 titik panas hingga awal April dan meminta kesiapsiagaan nasional menghadapi karhutla.
Memasuki pertengahan tahun, ancaman tersebut semakin nyata. BMKG kemudian menyatakan El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat, sementara risiko karhutla meningkat terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi 5.019 titik panas dengan konsentrasi antara lain di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.
Riyono menambahkan, kondisi di lapangan sekarang membuktikan bahwa potensi kebakaran yang sebelumnya dia khawatirkan benar-benar muncul di berbagai wilayah.
Sehingga ternyata betul kejadiannya sekarang. Kalimantan, kemudian Sumatera, ya Jawa sedikit. Melengkapi saya itu Gunung Lawu, Ponorogo, Trenggalek itu juga kebakaran, tapi kecil,”
ucapnya.
Karena itu, menurut Riyono pemerintah tidak boleh mengulangi kelemahan mitigasi yang sama apabila ancaman pada 2027 benar-benar membesar.
Persiapan dinilai harus dilakukan jauh sebelum musim kering datang, terutama di kawasan gambut dan wilayah yang berulang kali menjadi titik rawan kebakaran.
Ya ini potensi titik-titik apinya lebih besar dibanding 2020,”
pungkasnya.
























