Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

BGN Ancam Tutup Permanen Dapur MBG yang Sengaja Langgar Standar Keamanan Pangan

BGN mengancam menutup permanen dapur MBG yang terbukti sengaja melanggar standar keamanan pangan. Sudaryono menyoroti pembelian makanan siap saji dan pengawasan dapur SPPG.

MBG Sekolah
Ilustrasi MBG Sekolah/Doc. Owrite/Acel

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengancam akan menutup permanen dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terbukti melakukan kelalaian disengaja hingga membahayakan penerima manfaat.

Selain Itu, apabila ditemukan adanya dugaan pelanggaran keamanan pangan BGN juga akan menangguhkan operasional dapur untuk dilakukan investigasi. Sudaryono mengatakan, keamanan pangan menjadi prioritas utama BGN setelah sejumlah kasus keracunan makanan terjadi dalam pelaksanaan program MBG.

Siapa pun pemilik dapur saya nggak peduli, selama dia membahayakan dan itu adalah kelalaian yang disengaja, harus wajib hukumnya saya tutup permanen,”

kata Sudaryono dikutip dari akun YouTube Badan Gizi Nasional, Kamis, 29 Oktober 2026.

Menurut Sudaryono, salah satu persoalan yang masih jadi perhatian BGN yakni adanya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang masih membeli makanan siap saji dari pihak lain, alih-alih mengolah bahan pangan sendiri.

Iklan

Salah satunya temuan pembelian telur puyuh matang yang sudah dikupas di Cirebon, Jawa Barat. Kondisi pembelian telur puyuh itu mengakibatkan puluhan siswa keracunan.

Praktik tersebut dinilai menyulitkan pengawasan karena proses memasak, pengupasan, penyimpanan, hingga kebersihan pengolahnya tak bisa dipastikan.

Sudaryono juga menyebut dugaan pembelian bumbu kacang sate siap pakai dalam kasus keracunan MBG di Bogor. BGN masih memeriksa persoalan tersebut untuk mengetahui bagaimana bahan makanan itu diproses dan apakah memenuhi standar kebersihan.

Jadi, ini saya sedang kirim tim investigasi termasuk CCTV-nya nyala dan seterusnya, biar kami cek,”

ujarnya.

Sudaryono mengatakan selama pemeriksaan BGN akan menangguhkan operasional dapur tersebut. Apabila ditemukan adanya pelanggaran yang disengaja, BGN tidak segan untuk mencopot kepala dapur, bahkan menutup dapur SPPG.

Namun, Sudaryono membedakan kelalaian yang disengaja dengan kesalahan teknis yang masih bisa diperbaiki melalui edukasi. Menurutnya, kesalahan teknis seperti memotong sayuran di lantai yang seharusnya dilakukan di meja masih dapat diperbaiki melalui pembinaan.

Tapi, jika kelalaian yang dilakukan seperti kapasitas tak mencukupi untuk melayani penerima manfaat sehingga pengelola membeli makanan jadi dari pihak lain, maka BGN akan menutup permanen dapur tersebut.

BGN saat ini masih memeriksa kelayakan dapur-dapur yang beroperasi. Sudaryono menyebut jumlah SPPG aktif saat ini telah mencapai sekitar 26.385 unit, setelah sebelumnya sejumlah dapur ditutup karena tidak memenuhi standar, termasuk 1.999 dapur yang tidak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Sudaryono mengatakan pengawasan dilakukan untuk memastikan program MBG memberikan makanan bergizi dan tidak justru membahayakan kesehatan penerima manfaat.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.