FIFA akhirnya memberikan penjelasan terkait kontroversi aturan hydration break atau jeda minum yang diterapkan pada Piala Dunia 2026. Aturan itu tengah jadi sorotan dari penggemar sepak bola dunia.
Organisasi sepak bola dunia itu menegaskan kebijakan tersebut tidak memberikan keuntungan finansial tambahan.
Aturan ini menjadi perdebatan karena FIFA mewajibkan jeda minum selama tiga menit di setiap babak pertandingan sepanjang turnamen berlangsung. Hal itu tanpa mempertimbangkan kondisi cuaca di lokasi pertandingan.
Sebelumnya, hydration break hanya digunakan dalam pertandingan dengan suhu tinggi atau kondisi cuaca ekstrem sejak pertama kali diperkenalkan pada 2014.
Namun, pada Piala Dunia 2026, FIFA memutuskan menerapkannya secara konsisten di seluruh pertandingan. Kebijakan itu memicu berbagai reaksi dari publik yang menganggap jeda tambahan lebih menguntungkan kepentingan penyiaran dan sponsor dibanding kebutuhan olahraga.
Di sejumlah stadion yang berada di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, bahkan terdengar sorakan negatif dari penonton sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap aturan tersebut.
Tak Ada Kepentingan Komersial
Presiden FIFA Gianni Infantino membantah anggapan bahwa hydration break dibuat untuk memberikan ruang iklan tambahan atau meningkatkan pendapatan organisasi.
Menurut Infantino, seluruh kontrak komersial terkait Piala Dunia telah disepakati jauh sebelum kebijakan tersebut diterapkan.
Tidak ada pendapatan tambahan untuk FIFA karena semua perjanjian komersial sudah disepakati sebelumnya. Jadi, ini bukan masalah finansial. Ini murni soal olahraga,”
kata Infantino seperti dilansir dari SI.com dikutip pada Kamis, 25 Juni 2026.
Ia bilang tujuan utama aturan tersebut adalah menjaga kesehatan pemain dan mengantisipasi tantangan fisik selama turnamen berlangsung.
Infantino menjelaskan turnamen Piala Dunia 2026 berlangsung selama 39 hari. Durasi turnamen itu memungkinkan seorang pemain tampil hingga delapan pertandingan jika timnya melaju sampai final.
Kondisi cuaca yang berbeda-beda di tiga negara tuan rumah juga menjadi perhatian khusus FIFA. Menurutnya, jeda singkat bisa membantu pemain menjaga kondisi fisik sekaligus mempertahankan kualitas permainan hingga akhir laga.
Selain itu, FIFA ingin memastikan seluruh tim bertanding dalam kondisi yang setara tanpa dipengaruhi faktor suhu yang berbeda di setiap lokasi pertandingan.
Kami ingin memastikan semua tim bermain dalam kondisi yang sama di setiap pertandingan,”.
ujarnya
FIFA meyakini kebijakan ini dapat mengurangi risiko kelelahan pemain dan menjaga intensitas pertandingan tetap tinggi.
Sejarah Hydration Break di Sepak Bola
Hydration break bukanlah hal baru dalam dunia sepak bola. Aturan tersebut mulai dikenal luas saat diterapkan pada Piala Dunia 2014 di Brasil, ketika suhu panas dan kelembapan tinggi menjadi perhatian utama.
Sejak saat itu, penggunaannya bersifat situasional dan hanya dilakukan jika kondisi cuaca dianggap berpotensi membahayakan kesehatan pemain.
Meski demikian, FIFA mengambil langkah berbeda di Piala Dunia 2026 dengan menerapkannya secara wajib pada setiap pertandingan.
Hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai nasib hydration break pada Piala Dunia 2030. Sementara itu, UEFA disebut belum punya rencana untuk menerapkan jeda minum wajib di kompetisi besar seperti UEFA Champions League maupun UEFA Euro 2028.
FIFA diperkirakan akan melakukan evaluasi menyeluruh setelah Piala Dunia 2026 berakhir sebelum menentukan apakah aturan tersebut akan kembali digunakan pada edisi berikutnya.
























