Meski gagal melangkah ke fase gugur Piala Dunia 2026, Timnas Iran punya kesan mendalam
terhadap Meksiko khususnya warga Tijuana. Team Melli menyampaikan terimakasih atas sambutan hangat warga Tijuana.
Timnas Iran menganggap Meksiko sebagai rumah kedua sekaligus tim nasional kedua yang akan mereka dukung setelah turnamen berakhir.
Catatan Timnas Iran itu disampaikan dengan tulisan menggunakan pena hitam. Iran memuji Tijuana sebagai kota yang indah.
Kalian telah menunjukkan kepada kami bahwa menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA bukan hanya tentang stadion dan tiket. Menjadi tuan rumah yang sejati adalah tentang rasa hormat, kemanusiaan, dan martabat,”
demikian pernyataan resmi Timnas Iran, dikutip dari The Sun, Kamis, 2 Juli 2026.
Timnas Iran berjanji tak akan pernah melupakan kebaikan warga Tijuana. Bagi mereka, Meksiko akan selalu jadi lebih dari sekadar negara tuan rumah.
Mulai hari ini, Meksiko akan selalu lebih dari sekadar negara tuan rumah bagi kami; ia akan menjadi rumah kedua kami dan tim kedua kami,”
lanjut pernyataan Timnas Iran.
Tijuana Jadi Markas Dadakan Iran
Awalnya Iran berencana menjadikan Tucson, Arizona, sebagai pusat latihan selama Piala Dunia 2026. Namun, situasi politik yang memanas antara Teheran dan Washington membuat rencana tersebut batal terlaksana.
Sebagai solusi, Iran memindahkan markas mereka ke Tijuana, Meksiko, hanya beberapa saat sebelum kompetisi dimulai.
Selama turnamen berlangsung, skuad Iran juga menghadapi pembatasan perjalanan. Mereka hanya diperbolehkan masuk wilayah Amerika Serikat (AS) sehari sebelum pertandingan berlangsung.
Menjelang laga terakhir fase grup di Seattle, otoritas AS akhirnya memberikan kelonggaran dengan mengizinkan Iran datang dua hari lebih awal.
Meski demikian, seluruh anggota tim tetap diwajibkan kembali ke markas mereka di Tijuana setelah pertandingan usai.
Kritik terhadap Pengaturan Selama Turnamen
Di balik ucapan terima kasih kepada masyarakat Meksiko, Timnas Iran juga menyampaikan kritik terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Pelatih Amir Ghalenoei dan kapten Mehdi Taremi sebelumnya sudah menyampaikan bahwa tim mereka merasa tidak memperoleh perlakuan yang setara dibanding peserta lainnya.
Dalam pernyataan resminya, Iran mempertanyakan seluruh negara peserta benar-benar mendapatkan kesempatan yang sama selama mengikuti turnamen.
Kami meninggalkan Piala Dunia ini dengan rasa bangga, tetapi juga dengan satu pertanyaan mendasar: apakah setiap tim benar-benar bertanding dalam kondisi yang setara dan dengan standar profesional yang sama?”
demikian bunyi pernyataan tersebut.
Meski tak secara langsung menyebut FIFA, ataupun pemerintah AS, Iran menyinggung adanya berbagai keputusan dan pengaturan logistik yang dinilai memengaruhi rasa keadilan selama turnamen.
Kekecewaan Iran semakin besar setelah gagal melaju ke babak 32 besar. Kegagalan itu akibat gol kemenangan pada masa injury time saat menghadapi Mesir dianulir karena offside yang sangat tipis.
Apabila gol tersebut dinyatakan sah, Iran dipastikan melangkah ke fase gugur. Momen itu jadi salah satu alasan yang memperkuat kritik mereka terhadap pelaksanaan turnamen.
Dalam pernyataan resminya, Timnas Iran menegaskan bahwa nilai fair play seharusnya menjadi fondasi utama dalam sepak bola.
Timnas Iran menyampaikan fair play bukanlah sekadar slogan yang tercetak di papan iklan. Sebab, fair play adalah identitas sepak bola itu sendiri.
Namun, turnamen ini mengingatkan kami bahwa masih ada jarak yang cukup besar antara kata-kata yang menginspirasi dan tindakan yang benar-benar bermakna,”
tulis pernyataan Iran.
Meski menyampaikan kritik, Iran tetap memberikan penghormatan kepada seluruh pemain yang telah berjuang sepanjang turnamen.
Bagi saya, mereka adalah dan akan selalu menjadi para pejuang di lapangan. Mereka selalu memberikan yang terbaik,”
tambah pernyataan tersebut.
Menjelang akhir pernyataannya, Timnas Iran juga mengapresiasi Mesir sebagai lawan terakhir mereka di fase grup.
Mereka menutup pesan tersebut dengan menekankan pentingnya persahabatan antarbangsa dan nilai kemanusiaan yang melampaui hasil pertandingan.
Peradaban seperti Iran, Mesir, dan Meksiko—yang dibangun di atas kebenaran, rasa hormat, dan martabat manusia—akan tetap bertahan sepanjang sejarah,”
tulis pernyataan itu lagi.
























