Penyerang Timnas Kolombia Jaminton Campaz dikabarkan harus bersembunyi setelah menerima ancaman pembunuhan menyusul kegagalan Kolombia melangkah ke perempat final Piala Dunia 2026.
Federasi Sepak Bola Kolombia atau Federación Colombiana de Fútbol (FCF) mengecam keras aksi intimidasi tersebut dan mendesak aparat kepolisian segera menyelidiki untuk menjamin keselamatan sang pemain.
Campaz menjadi sorotan setelah gagal memanfaatkan peluang emas pada babak perpanjangan waktu saat Kolombia menghadapi Swiss di babak 16 besar.
Laga berakhir tanpa gol selama 120 menit sebelum Swiss memastikan kemenangan melalui adu penalti dan mengamankan tiket ke perempat final Piala Dunia 2026.
Kegagalan tersebut memicu gelombang kritik hingga ancaman serius yang ditujukan kepada penyerang berusia 26 tahun itu.
Dirahasiakan
Menurut laporan, pemain Rosario Central tersebut memilih tidak ikut dalam penerbangan bersama rombongan Timnas Kolombia yang kembali ke Bogota.
Keputusan itu diambil demi alasan keamanan setelah ancaman yang diterimanya semakin mengkhawatirkan. Hingga kini, lokasi Campaz dirahasiakan untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Melalui akun Instagram pribadinya, Campaz menyampaikan permintaan maaf sekaligus mengungkapkan perasaannya usai kegagalan Kolombia di Piala Dunia 2026.
“Sejak kecil, saya selalu bermimpi untuk membela warna bendera Kolombia, mendengarkan lagu kebangsaan di lapangan, mewakili jutaan rakyat, dan mencetak gol di Piala Dunia,”
tulis Campaz, dikutip pada Senin, 13 Juli 2026.
“Saya sangat menyesal karena tidak mampu memberikan kegembiraan yang kalian semua harapkan. Namun, saya ingin kalian tahu bahwa dedikasi, komitmen, dan rasa cinta saya untuk jersi ini tidak pernah berkurang sedikit pun. Saya telah memberikan semua yang saya miliki di atas lapangan, dan saya siap melakukannya seribu kali lagi demi negara saya.”
Tragedi Andres Escobar
Situasi yang dialami Campaz mengingatkan banyak pihak pada tragedi yang menimpa legenda Kolombia, Andres Escobar, usai Piala Dunia 1994.
Saat itu, Escobar ditembak mati di Medellin beberapa hari setelah mencetak gol bunuh diri yang berujung pada tersingkirnya Kolombia dari turnamen di Amerika Serikat.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola dunia, sehingga ancaman terhadap Campaz memunculkan kekhawatiran akan terulangnya insiden serupa.
Federasi Sepak Bola Kolombia langsung mengeluarkan pernyataan resmi sebagai bentuk dukungan kepada Campaz sekaligus mengecam segala bentuk intimidasi terhadap atlet nasional.
“Tidak boleh ada satu pun atlet, maupun anggota keluarga dekat mereka, yang boleh menjadi sasaran intimidasi dan ancaman hanya karena mewakili negara mereka di atas lapangan,”
ujar FCF.
Drama Tak Hanya di Lapangan
Piala Dunia 2026 terus menghadirkan berbagai kisah yang menyita perhatian, bukan hanya dari jalannya pertandingan tetapi juga peristiwa di luar lapangan.
Kasus yang menimpa Campaz menjadi salah satu cerita paling menyedihkan sepanjang turnamen.
Perhatian publik juga sempat tertuju pada kisah inspiratif kiper Tanjung Verde, Vozinha, yang viral setelah tampil gemilang menghadapi Spanyol dan menjadi salah satu pesepak bola dengan pertumbuhan pengikut Instagram tercepat selama Piala Dunia 2026.

























