Wacana pembentukan blok politik antara Partai Nasdem dan Partai Gerindra saat menjadi sorotan. Pengamat Politik dari Citra Institute, Efriza, berpendapat upaya ini sebagai manuver cerdas Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.
Sang ketua berupaya mengunci posisi strategi partainya sejak dini, sekaligus menyiasati berbagai kemungkinan masa depan, misalnya isu kenaikan ambang batas parlemen (parliamentary threshold).
Political block, seperti yang dinarasikan, adalah kesepakatan untuk bersama. Artinya, mereka membangun kerja sama jauh-jauh hari yang berdasarkan program atau ideologi, bukan sekadar pembagian jatah kursi,”
kata Efriza Kepada Owrite.id, Rabu, 15 April 2026.
Blok politik tersebut berkaitan dengan strategi Nasdem dalam parlemen, terutama isu usulan kenaikan ambang batas parlemen menjadi 8 persen.
Dengan posisi Nasdem yang kini berada di urutan kelima, angka 8 persen menjadi tantangan besar.
Jika tidak lolos 8 persen akan direkayasa dengan cara partai-partai yang tidak lolos, bergabung dalam satu fraksi. Ini yang kemungkinan besar disiasati oleh Surya Paloh untuk ke depan. Mereka bekerja sama menjadi satu fraksi di DPR, kemungkinannya seperti itu (blok politik) dengan Gerindra,”
ujar Efriza.
Alasan lainnya ialah keinginan Nasdem kembali menjadi pemain sentral dalam pemerintahan nasional, posisi yang pernah mereka nikmati pada era Jokowi, namun sempat hilang di awal transisi rezim Presiden Prabowo.
Paloh belajar dari pengalaman ketika Nasdem sempat “tersingkir”dan baru masuk ke gerbong pemerintahan di bagian akhir, sehingga tidak memegang kendali utama. Melalui blok politik, Paloh ingin partainya sejajar dengan Gerindra.
Surya Paloh mencoba mengambil peran lebih dulu. Ketika partai lain sekadar narasi mendukung Prabowo pada (Pemilu) 2029, Paloh selangkah lebih maju dengan membangun kerja sama terstruktur. Ia berharap presiden akan membutuhkan Nasdem, termasuk dalam penentuan posisi wakil presiden,”
jelas Efriza.
Manuver ini dinilai menguntungkan lantaran pemegang kendali mutlak Gerindra adalah Prabowo. Sehingga Nasdem merasa intervensi dari tokoh partai lain (seperti yang pernah terjadi dengan Megawati di era Jokowi) dapat diminimalisasi.
Ini harus dianggap sebagai kecerdasan beliau (Surya Paloh). Beliau tidak bermain dengan narasi sederhana seperti, misalnya Golkar yang menyatakan mendukung Prabowo pada 2029 atau Jokowi mendukung dua periode. Dia membawa narasi lebih kuat. Ini patut diapresiasi karena ada niat yang menunjukkan mau mencoba membangun kerja sama berdasarkan program atau ideologi,”
papar Efriza.
Bantah Merger
Ketua DPP Nasdem Willy Aditya membantah wacana partainya dan Gerindra ingin bergabung. Penggunaan istilah “merger” ia anggap tidak tepat karena lebih relevan dalam dunia bisnis.
Ia juga menyayangkan munculnya narasi penggabungan yang bisa menyesatkan opini publik.
Bapak Surya orang yang concern terhadap situasi politik. Referensi kami berpolitik itu political block,”
kata dia.
Konsep political block, menurut Willy, merupakan bentuk rekayasa politik yang bertujuan menciptakan kerja sama berbasis visi dan kebijakan, bukan sekadar transaksi politik jangka pendek. Ia menilai selama ini kerja sama antarpartai di Indonesia cenderung pragmatis dan minim arah strategis.



