Mantan Presiden Joko Widodo alias Jokowi akan kembali aktif berkeliling daerah dalam waktu dekat.
Langkah ini memunculkan spekulasi besar mengenai arah dukungan politik menuju Pemilu 2029, termasuk potensi penguatan suara kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan jalan politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pengamat politik Arifki Chaniago berpendapat agenda keliling daerah yang akan dilakukan Jokowi bukan sekadar silaturahmi biasa. Di balik itu, ada upaya menjaga sekaligus menghidupkan kembali pengaruh politik yang telah dibangun selama dua periode ia memimpin Indonesia.
Rencana safari politik Jokowi ke berbagai daerah lebih tepat dibaca sebagai upaya untuk merekonsolidasi sekaligus memanggil kembali pengaruh politiknya di tingkat akar rumput,”
kata Arifki saat dihubungi Owrite.id, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurutnya, tantangan terbesar seorang tokoh politik setelah tidak lagi memegang jabatan adalah mempertahankan relevansi di mata publik.
Publik harus ingat bahwa setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, tantangan terbesar seorang tokoh politik adalah menjaga relevansi dan kedekatan dengan masyarakat,”
ucap dia.
Lantas, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu berujar turun langsung ke masyarakat menjadi strategi penting guna merawat jaringan politik yang telah terbentuk. Safari politik menjadi cara yang efektif untuk memastikan jaringan, simpatisan, dan modal sosial yang selama ini dibangun, tetap terawat menjelang tahapan Pemilu 2029.
Arifki menilai pengaruh Jokowi memang tidak lagi sama seperti Pemilu 2024, ketika dia masih menjabat sebagai kepala negara. Namun, Arifki menegaskan Jokowi masih memiliki modal politik yang besar.
Apakah pengaruh Jokowi masih sebesar 2024? Menurut saya masih memiliki pengaruh yang signifikan, tetapi belum tentu sebesar saat beliau masih menjadi presiden. Pada 2024, Jokowi memiliki kombinasi antara popularitas pribadi dan kekuatan jabatan,”
jelas dia.
Kini kekuatan Jokowi bertumpu pada figur personal dan kedekatannya dengan pemilih. Pada 2029, faktor jabatan sudah tidak ada, sehingga yang tersisa adalah modal ketokohan, rekam jejak, dan loyalitas pemilih yang masih merasa dekat dengannya. Namun, itu tetap merupakan aset politik yang tidak bisa dianggap kecil.
Safari politik Jokowi juga dinilai berpotensi menjadi suntikan tenaga besar bagi PSI yang selama ini kerap dikaitkan dengan lingkaran politik keluarga Jokowi.
Terkait PSI dan Gibran, safari politik tentu berpotensi memberikan tambahan energi elektoral. PSI selama ini identik dengan Jokowi dan lingkaran politiknya,”
ujar Arifki.
Lanjut Arifiki, semakin kuat hubungan emosional Jokowi dengan masyarakat, semakin besar pula peluang dukungan politik itu mengalir kepada PSI dan Gibran sebagai figur politik yang dipersepsikan sebagai penerus Jokowi.
Potensi Curi Suara
Diakui Arifki, manuver politik Jokowi di daerah berpotensi menjadi ancaman bagi PDIP yang selama ini memiliki basis pemilih nasionalis, yang juga identik dengan Jokowi.
Apakah bisa menggerus suara PDIP? Potensinya ada. Sebab selama bertahun-tahun sebagian pemilih PDIP sesungguhnya juga merupakan pemilih Jokowi,”
kata dia.
Bila Jokowi aktif membangun narasi politik sendiri dan kembali turun ke masyarakat, maka persaingan memperebutkan pemilih nasionalis akan semakin ketat menjelang Pemilu 2029. Sebab bakal terjadi perebutan basis pemilih nasionalis yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama PDIP.
Meski demikian, Arifki menegaskan besar-kecilnya dampak politik Jokowi terhadap PDIP tetap bergantung pada kemampuan partai berlambang banteng itu membangun figur dan identitas baru dalam menghadapi kontestasi 2029.
Namun besarnya pengaruh itu tetap bergantung pada bagaimana PDIP membangun kembali identitas dan figur alternatif menjelang 2029,”
tutur dia.

