Ketidakhadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo dalam Upacara Hari Lahir Pancasila di Jakarta terus memunculkan berbagai tafsir politik. Setelah ajudan Jokowi menyebut mantan presiden itu tidak menerima undangan dari Istana, muncul dugaan bahwa hubungan politik antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto mulai memasuki fase yang tidak lagi sehangat sebelumnya.
Pengamat politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menilai, publik wajar membaca absennya Jokowi sebagai sinyal politik yang lebih besar daripada sekadar persoalan administrasi undangan.
Kehadiran Jokowi Dinggap Lazim
Menurut Emrus, kehadiran mantan presiden dalam momentum kenegaraan penting, semestinya menjadi hal yang lazim. Karena itu, ketika Jokowi tidak hadir, dan disebut tidak menerima undangan, publik tentu akan mengaitkannya dengan dinamika hubungan politik di lingkaran kekuasaan.
“Saya kira bisa saja orang mempersepsikan demikian, karena sewajarnya lah Pak Jokowi diundang,”
kata Emrus kepada Owrite.id, Rabu, 3 Juni 2026.
Ia menilai, penjelasan yang telah disampaikan pihak ajudan justru memperkuat, munculnya berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
“Mengapa tidak diundang? Berarti ketidak diundangannya itu sesuai dengan apa yang dikatakan ajudan sebagaimana sudah dirilis media, menunjukkan bahwa ada embryo keretakan hubungan itu,”
ucapnya.
Meski demikian, Emrus menegaskan bahwa hubungan antara Jokowi dan Prabowo belum bisa disebut benar-benar retak. Namun, ia melihat adanya tanda-tanda awal yang patut dicermati.
“Jadi belum terlihat retak hubungan mereka (Jokowi-Prabowo), tapi embryo atau awal dari retaknya hubungan mulai nampak,”
jelasnya.
Yang menarik, Emrus mengaitkan fenomena tersebut dengan peta politik menuju Pemilu 2029. Daikuinya, dinamika hubungan Prabowo dan Jokowi saat ini berpotensi berpengaruh terhadap posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di masa depan.
Ia melihat, kemungkinan bahwa kepentingan politik keduanya tidak lagi sepenuhnya sejalan ketika memasuki kontestasi berikutnya.
“Nah, bisa saya melihat di 2029 bahwa bisa saja Gibran menjadi kompetitor daripada Prabowo. Dan boleh jadi juga Prabowo tidak mau berpasangan lagi dengan Gibran,”
tegas Emrus.



