Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus jadi sorotan. Nilai rupiah kini sudah menembus level Rp18.133,70 per dolar.
Di saat banyak pihak mengkhawatirkan dampaknya terhadap ekonomi nasional, Wakil Ketua Umum Partai Garuda, Teddy Gusnaidi justru menilai kepanikan tersebut berlebihan.
Menurut Teddy, narasi bahwa Indonesia akan hancur setiap kali dolar menguat bukanlah hal baru. Ia menyebut pola kritik semacam itu terus berulang dari tahun ke tahun, tanpa pernah terbukti sesuai dengan prediksi yang disampaikan.
Dolar 14 ribu, mereka bilang, kalau sampai dolar 15 ribu, hancur Indonesia! Sampai 15 ribu, ternyata gak ada masalah,”
tulis Teddy Gusnaidi di akun X pribadinya yang dikutip, Senin, 8 Juni 2026.
Ia kemudian mengingatkan, bahwa peringatan serupa juga muncul ketika kurs dolar menyentuh level Rp16.000 hingga Rp17.000 per dolar AS.
Mereka koreksi, mereka bilang, sampai dolar 16 ribu, hancur Indonesia! Sampai 16 ribu, ternyata gak ada masalah,”
lanjutnya.
Dia menyindir pihak yang menyoroti Indonesia bakal hancur jika dolar AS tembus Rp17 ribu.
Mereka koreksi lagi, sampai dolar 17 ribu, hancur Indonesia! Sampai 17 ribu, ternyata gak ada masalah,”
ujarnya.
Kini ketika dolar telah melampaui Rp18.000, Teddy menilai pola yang sama kembali dimainkan oleh pihak-pihak yang menurutnya selalu menggunakan isu kurs sebagai alat untuk menyerang pemerintah.
Lagi-lagi mereka koreksi, sampai dolar 18 ribu, hancur Indonesia! Sampai 18 ribu, ternyata gak ada masalah,”
jelasnya.
Bagi Teddy, perdebatan soal pelemahan rupiah bukan lagi persoalan ekonomi semata, melainkan sudah menjadi narasi politik yang terus diproduksi oleh kelompok yang berseberangan dengan pemerintah.
Ia bahkan menyebut cara tersebut sebagai pola lama yang terus diulang tanpa menawarkan perspektif baru.
Artinya apa? Artinya tukang nakut-nakutin templatenya begitu-begitu saja dari dulu. Gak kreatif,”
lanjut Teddy.
Pernyataan Teddy muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap pelemahan rupiah dan tekanan di pasar keuangan.


