Gaya Istana dalam menyampaikan komunikasi ke publik masih jadi sorotan. Komunikasi politik yang dilakukan Istana saat ini dinilai semrawut dan anomali.
Pengamat politik Universitas Brawijaya Prof Anang Sujoko menilai adanya sejumlah badan badan atau lembaga yang berperan dalam komunikasi Presiden Prabowo Subianto tidak bekerja secara beriringan.
Bahkan, menurutnya peran lembaga seperti Badan Komunikasi (Bakom) hingga Kantor Staf Presiden (KSP) tak berjalan dan membuat jadi semrawut.
Intinya kalau kita bicara komunikasi politik Istana itu seperti komunikasi publik yang semrawut dan anomali. Banyak badan-badan atau lembaga yang berperan untuk komunikasi presiden. Tapi, semuanya tidak berjalan dengan baik,”
kata Prof Anang kepada Owrite, Selasa, 9 Juni 2026.
Teddy Anti Kritik
Dia menyoroti pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang belum lama ini dalam merespons kritik dari Dino Patti Djalal. Prof Anang mengkritisi sebaiknya Istana tak perlu memplot Seskab Teddy menyampaikan komunikasi publik.
Prof Anang menilai Teddy belum bisa mempresentasikan pemerintah dalam merespons kritik.
Teddy itu sebagai apa harusnya tidak perlu menjalankan komunikasi publik. Jadinya kacau. Dia tidak menguasai bagaimana berkomunikasi dalam mempresentasikan pemerintah,”
jelas Prof Anang.
Komitmen Prabowo
Pun, ia menyoroti gesture Teddy juga tak bisa mencerminkan seorang pejabat publik.
Kita bisa lihatlah, dia tidak bisa mencerminkan representasi pemerintah. Dari gesture, sikap sebagai seorang pejabat publik,”.
lanjut Prof Anang.
Bagi Prof Anang, Presiden Prabowo Subianto harus punya komitmen dalam menjalankan komunikasi publik yang tepat. Kata dia, penyampaian komunikasi publik bukan hanya sekadar satu pintu.
Jadi, bukan hanya satu pintu. Tapi, dalam hal ini komitmen Presiden, Istana untuk benar-benar menjalankan komunikasi publik yang mempresentasikan sikap pemerintah,”
tutur Prof Anang.
Sebelumnya, pernyataan Seskab Teddy yang menjawab kritik dan masukan dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal jadi sorotan luas. Dino Patti Djalal mengkritik kunjungan kerja Presiden Prabowo yang disebut terlalu sering sehingga menghabiskan biaya besar.
Omongan Teddy itu disampaikan dalam keterangan video yang diunggah di akun Instagram Sekretariat Kabinet, @sekretariat.kabinet, Senin, 1 Juni 2026.
Menurut dia, soal diplomasi berarti bicara hasil yang ada manfaat nyata bagi bangsa. Teddy menuturkan kritik dan masukan itu penting bagi Istana.
Tetapi jangan mengaburkan fakta dari mereka yang sedang bekerja. Mereka yang tengah berjuang bersama membawa kepentingan bangsa di panggung dunia,”
kata Teddy dalam keterangan unggahan itu.
Teddy di awal pernyataannya dengan menyampaikan terima kasih atas masukan yang disampaikan Dino Patti Djalal. Ia menyinggung Dino yang pernah jadi Wamenlu meski hanya tiga bulan.
Mohon izin menjawab masukan dari Bapak Dino. Saya mau luruskan beberapa hal. Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan,”
tutur Teddy.
Teddy pun beri penjelasan soal anggaran hingga jumlah delegasi saat Presiden Prabowo kunker ke luar negeri.
Namun, jawaban Teddy itu malah dapat kritik luas terutama dari netizen di media sosial. Teddy dinilai terlalu reaktif dan terkesan anti kritik.



