Kematian lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) saat mengikuti pelatihan dasar militer (latsarmil) menuai sorotan anggota parlemen.
Anggota Komisi XIII DPR Saadiah Uluputty mendesak pemerintah menginvestigasi menyeluruh dan menghentikan pola pelatihan yang dianggap tidak sesuai bagi calon pengelola koperasi, mengusut tuntas penyelenggaraan kegiatan.
“Saya menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga para korban. Peristiwa ini harus diinvestigasi secara menyeluruh dan menjadi bahan evaluasi total agar tidak kembali memakan korban,”
kata Saadiah, Senin, 29 Juni 2026.
Ia mendesak penyelenggara transparan mengenai proses seleksi kesehatan pra-latihan fisik berat, sekaligus menyoroti keterlibatan peserta perempuan yang diduga memiliki kondisi fisik rentan.
“Jika benar terdapat kelalaian dalam memperhitungkan kondisi fisik peserta, maka hal itu harus diusut secara transparan dan seluruh pihak (yang berkelindan) dimintai pertanggungjawaban,”
ujar Saadiah.
Nyawa Bukan Berkas
Dugaan kelalaian yang berujung pada hilangnya nyawa peserta tidak bisa dipandang sebagai persoalan administratif semata.
“Peristiwa ini berpotensi menjadi persoalan HAM apabila terbukti ada pengabaian terhadap aspek keselamatan peserta. Negara wajib memastikan setiap program dilaksanakan dengan menghormati hak hidup dan keamanan warga negara,”
tegas dia.
Maka, ia meminta pemerintah menghentikan sementara latsarmil bagi calon manajer Kopdes Merah Putih hingga hasil evaluasi dan investigasi selesai dilakukan. Bahkan pembinaan harus diarahkan pada peningkatan kapasitas manajemen koperasi, tata kelola usaha, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sesuai tujuan pembentukan koperasi.
Regang
Ada lima peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal saat mengikuti (latsarmil) untuk calon manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Kementerian Pertahanan memastikan mereke meninggal akibat kondisi medis yang berbeda-beda setelah dirawat di fasilitas kesehatan satuan pendidikan maupun rumah sakit. Penyebabnya yakni sesak nafas, heat stroke, hipertensi, hingga tuberkulosis (TBC).

























