Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menilai Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mulai memberikan sinyal siap maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Doli menangkap sinyal tersebut dari cara penyampaian, gestur, dan posisi politik AHY saat berbicara mengenai demokrasi.
Hal itu disampaikan Doli untuk menanggapi pernyataan AHY yang menyebut bahwa kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya. Menurut AHY, kekuasaan memiliki batas.
Dilihat dari cara penyampaian, gestur, dan standing position-nya, AHY seperti memberi sinyal kuat bahwa beliau siap menjadi salah seorang contender dalam Pilpres mendatang,”
kata Doli di Jakarta, Senin, 7 September 2026.
AHY Masih Bagian Pemerintahan


Menurut Doli, AHY saat ini masih menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Karena itu, ia mengingatkan AHY dan seluruh elemen pemerintahan untuk tetap fokus menjalankan tanggung jawab dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat.
Padahal, kita semua saat ini, sebagai sebuah bangsa, sedang menghadapi tantangan yang luar biasa. Situasi yang dihadapi masyarakat juga tidak mudah,”
ujarnya.
Doli mengatakan, secara substansi, dirinya justru sepakat dengan pernyataan AHY mengenai pentingnya menjaga demokrasi. Termasuk mengenai tanggung jawab institusi negara, tugas pemerintah, serta hak dan kewajiban warga negara.
Secara substansi, apa yang disampaikan oleh AHY, saya setuju sepenuhnya. Tentang pertumbuhan demokrasi yang harus terus dijaga, tanggung jawab seluruh institusi negara, tugas utama pemerintah, dan hak serta kewajiban warga negara,”
kata Doli.
Tanggung Jawab AHY
Namun, posisi AHY sebagai bagian dari pemerintah membuat persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab kekuasaan yang sedang berjalan. Doli menilai kondisi masyarakat saat ini semestinya menjadi perhatian utama seluruh elite politik.
Dan AHY posisinya saat ini adalah bagian dari pemerintah yang seharusnya ikut bertanggung jawab atas situasi apa pun yang dihadapi. Kesulitan yang dihadapi rakyat adalah tanggung jawab kita semua,”
tuturnya.
Menurut Doli, tanggung jawab tersebut juga tidak hanya berada di tangan pemerintah. DPR dan partai politik memiliki posisi yang saling berkaitan dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.
Pemerintah, DPR, dan juga Partai Politik, adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,”
ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Doli melihat pembicaraan mengenai Pilpres 2029 mulai sulit dihindari. Ia menyebut sejumlah kekuatan politik mulai memasang posisi, meski pemerintahan Prabowo-Gibran masih berjalan.
Fenomena seperti itu, semakin menguatkan bahwa ternyata magnet Pilpres 2029 tak bisa terhindarkan lagi dan semakin terbuka. Sepertinya beberapa kekuatan sudah mulai pasang kuda-kuda,”
kata Doli.
Doli bahkan membandingkan sinyal AHY dengan langkah politik Budi Arie yang sebelumnya disebut telah menyatakan kesiapan. Ia menyebut Budi Arie sebagai representasi salah satu “poros politik” Solo, sedangkan AHY disebut mewakili poros Cikeas.
Bila beberapa waktu lalu, Budi Arie, yang mewakili satu ‘poros politik’ (Solo), sudah terang benderang menyatakan kesiapannya, sekarang kita menyaksikan satu lagi ‘poros politik’ (Cikeas) ikut memberikan sinyal yang kuat,”
ujarnya.


Poros Solo dan Cikeas Masih Satu Kapal
Doli menilai dinamika tersebut menjadi unik karena kedua poros tersebut saat ini masih berada dalam pemerintahan yang sama. Artinya, sinyal menuju kontestasi politik berikutnya mulai muncul ketika mereka masih menjalankan pemerintahan bersama.
Padahal kedua poros ini sedang bersama-sama berada ‘satu kapal’ di dalam pemerintahan,”
katanya.
Ia juga menyinggung poros politik lain yang disebutnya sebagai “Teuku Umar”. Doli menilai menarik jika poros tersebut tidak kunjung menyatakan kesiapan untuk bertarung pada Pilpres 2029, ketika poros lain mulai memperlihatkan sinyal.
Memang menjadi agak unik, bila dalam waktu dekat, salah satu ‘poros politik’ penting lain (Teuku Umar), tidak kunjung menyatakan siap bertarung pada Pilpres 2029,”
ujar Doli.
Golkar Fokus Dukung Prabowo-Gibran
Meski begitu, Doli memastikan Golkar tidak ingin mencampuri agenda politik partai lain. Menurut dia, setiap partai memiliki kedaulatan untuk menentukan sikap dan langkah politiknya sendiri.
Buat kami, Partai Golkar, tentu kami menghormati apa yang menjadi agenda, sikap, keputusan, dan langkah setiap partai politik. Itu adalah kedaulatan dan otoritas masing-masing partai politik,”
katanya.
Doli menegaskan Golkar masih memilih fokus mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran hingga 2029.
Ia mengatakan partainya akan mengerahkan kekuatan untuk membantu pemerintah menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Kami saat ini, hingga 2029, tetap fokus untuk membantu menyukseskan seluruh program pemerintahan Prabowo-Gibran, membantu sekuat tenaga agar rakyat bisa segera keluar dari masalah yang dihadapi,”
ujar Doli.






















