Belakangan ini, banyak orang mulai sibuk mencari “aesthetic” mereka sendiri.
Ada yang pengen jadi clean girl. Ada yang suka soft life. Ada yang tiba-tiba pengen hidup ala dark academia, coquette, sampai chaotic energy.
Dan lucunya, kadang semuanya terasa cocok tapi juga nggak benar-benar terasa “gue banget.”
Makanya nggak sedikit orang yang akhirnya terus gonta-ganti style, feed Pinterest, playlist, sampai cara hidup karena masih bingung “Sebenernya aesthetic yang paling cocok sama diri gue tuh apa sih?”
Padahal sebenarnya, aesthetic bukan cuma soal outfit atau feeds Instagram.
Aesthetic Itu Sebenarnya Dekat Sama Identitas Diri
Dilansir dari Psychology Today, identitas diri terbentuk dari pengalaman, nilai hidup, hubungan, sampai cara seseorang melihat dirinya sendiri. Makanya aesthetic yang terasa paling nyaman biasanya bukan yang paling viral, tapi yang paling nyambung sama kepribadian dan cara hidup seseorang.
Karena pada akhirnya, manusia cenderung ingin menampilkan versi diri yang terasa autentik. Itu kenapa ada orang yang lebih nyaman dengan warna netral dan hidup teratur, ada yang suka suasana melankolis dan artsy, ada juga yang lebih suka hidup spontan, random, dan penuh warna.
Dan semuanya valid.
Kenapa Banyak Orang Gonta-Ganti Aesthetic?
Karena banyak orang sebenarnya masih dalam proses self-discovery. Dilansir dari Psychology Today tentang self-concept, self-concept atau konsep diri terus berkembang dari pengalaman, lingkungan sosial, dan bagaimana orang lain melihat kita.
Makanya wajar kalau aesthetic seseorang berubah-ubah seiring waktu. Kadang kita suka sesuatu bukan karena itu benar-benar diri kita, tapi karena lagi pengen terlihat seperti itu, lagi terpengaruh tren TikTok, atau merasa aesthetic tertentu terlihat lebih “diterima.”
Dan itu normal banget.
Cara Tahu Aesthetic yang Beneran Cocok Sama Kamu
Banyak orang salah karena langsung fokus ke “outfit apa yang cocok?” atau “feed Instagram gue harus gimana?”
Padahal aesthetic yang paling cocok biasanya justru kelihatan dari kebiasaan kecil sehari-hari. Coba lihat tempat seperti apa yang bikin kamu nyaman, warna yang selalu kamu pilih tanpa sadar, musik yang paling sering kamu putar, cara kamu menikmati waktu sendiri, sampai tipe hidup yang diam-diam kamu inginkan.
Karena aesthetic yang real biasanya terasa natural, bukan dipaksa.
Jangan Sampai Semua Cuma Jadi “Kostum”
Dilansir dari artikel The Style Imperative oleh Psychology Today, style bukan cuma soal fashion, tapi bentuk seseorang menampilkan inner self atau diri terdalamnya ke dunia luar.
Makanya ada aesthetic yang kelihatan keren di internet, tapi terasa capek saat dijalani. Karena sebenarnya itu bukan diri kita. Dan mungkin itu alasan kenapa banyak orang sekarang mulai sadar:
mereka nggak cuma pengen terlihat estetik, tapi juga pengen merasa nyaman jadi dirinya sendiri.
Aesthetic yang Cocok Biasanya Nggak Terasa Dipaksakan
Aesthetic hidup bukan soal harus masuk kategori tertentu. Kamu nggak harus jadi clean girl, soft girl, atau dark academia sepenuhnya.
Karena manusia memang kompleks. Bisa aja hari ini kamu suka suasana tenang dan minimalis, tapi besok suka hidup yang chaotic dan spontan. Dan itu nggak bikin kamu “nggak konsisten.” Justru mungkin itu versi diri kamu yang sebenarnya.
Karena aesthetic terbaik biasanya bukan yang paling viral, tapi yang paling bikin kamu merasa “iya, ini gue.”
Jangan lupa follow @sefruitmedia buat konten self-discovery, Gen Z culture, dan emotional talks lainnya yang relate banget sama kehidupan sehari-hari yaa
