Awalnya mungkin kamu nggak sadar. Karena namanya teman, rasanya wajar kalau sesekali kita yang duluan chat, ngajak ketemu, atau jadi tempat curhat mereka terus.
Tapi lama-lama kamu mulai capek sendiri. Selalu kamu yang nyari. Selalu kamu yang ngertiin. Selalu kamu yang berusaha menjaga hubungan tetap jalan.
Sedangkan mereka? Kalau kamu diem duluan, hubungan itu ikut hilang.
Dan itu yang bikin banyak orang akhirnya sadar kalau ternyata friendship juga bisa jadi satu arah.
Kamu Selalu Jadi yang Reach Out Duluan
Salah satu tanda paling umum dari pertemanan yang mulai nggak seimbang adalah kalau kamu terus yang memulai semuanya.
Mulai dari ngajak ngobrol, ngajak main, nanya kabar, sampai menjaga komunikasi tetap hidup. Kalau kamu hilang sebentar aja, mereka nggak pernah benar-benar nyariin.
Dilansir dari artikel Psychology Today, hubungan pertemanan yang sehat biasanya punya reciprocity atau timbal balik emosional, dimana kedua pihak sama-sama berusaha mempertahankan hubungan.
Makanya kalau effort cuma datang dari satu pihak terus-menerus, hubungan itu lama-lama terasa melelahkan.
Mereka Datang Saat Butuh Aja
Ada juga pertemanan yang terasa dekat, tapi cuma saat mereka butuh sesuatu.
Butuh tempat cerita? Nyari kamu. Butuh ditemenin? Nyari kamu. Butuh bantuan? Nyari kamu.
Tapi saat kamu lagi capek atau butuh didengerin balik, mereka tiba-tiba sibuk. Dan yang bikin sakit biasanya bukan karena mereka jahat, tapi karena kamu mulai sadar kalau peran kamu di hidup mereka mungkin nggak sebesar peran mereka di hidup kamu.
Kamu Takut Berhenti Berusaha Karena Takut Kehilangan Mereka
Ini yang sering bikin orang bertahan di pertemanan satu arah. Karena takut kalau berhenti effort, hubungan itu benar-benar selesai.
Akhirnya kamu terus mencoba memahami mereka, memaklumi semuanya, bahkan mengecilkan rasa kecewa sendiri. Padahal hubungan yang sehat seharusnya nggak bikin satu orang terus merasa harus “menyelamatkan” hubungan sendirian.
Dilansir dari penelitian dalam Journal of Social and Personal Relationships, friendship yang sehat biasanya melibatkan mutual support, emotional validation, dan effort dari kedua sisi.
Kalau cuma satu orang yang terus memberi, lama-lama hubungan bisa terasa draining secara emosional.
Kamu Mulai Merasa Kesepian Bahkan Saat Bersama Mereka
Ini mungkin tanda yang paling menyakitkan. Karena pertemanan satu arah nggak selalu terlihat toxic dari luar. Kalian masih ngobrol. Masih ketemu. Masih ada grup chat. Tapi entah kenapa kamu tetap merasa sendirian.
Kamu mulai sadar kalau mereka tahu hal-hal kecil tentang hidup satu sama lain, tapi nggak benar-benar tahu apa yang kamu rasakan. Dan rasa “nggak dianggap” itu pelan-pelan bikin capek sendiri.
Pertemanan yang Sehat Nggak Harus Selalu Intens, Tapi Tetap Dua Arah
Bukan berarti teman harus selalu available 24/7. Semua orang punya kesibukan. Punya hidup masing-masing. Tapi pertemanan yang sehat biasanya tetap terasa saling dicari, saling dipikirkan, dan saling hadir saat dibutuhkan.
Karena hubungan yang bertahan lama biasanya bukan soal siapa yang paling banyak effort, tapi soal dua orang yang sama-sama mau menjaga hubungan itu tetap hidup.
Kadang Kamu Nggak Kehilangan Teman, Kamu Cuma Berhenti Memaksa
Dan mungkin itu hal yang paling susah diterima. Bahwa nggak semua pertemanan memang akan berjalan selamanya.
Ada hubungan yang memang mulai berubah. Ada orang yang makin jauh. Ada juga yang ternyata dekat hanya di fase tertentu hidup kita. Dan itu nggak selalu salah siapa-siapa.
Tapi kalau kamu terus merasa sendirian dalam sebuah pertemanan, mungkin yang bikin capek bukan pertemanannya, melainkan karena selama ini cuma kamu yang terus berusaha menjaganya.
Jangan lupa follow @sefruitmedia buat konten self-awareness, friendship talks, dan emotional topics lainnya yang relate banget sama kehidupan sehari-hari yaaa
