Itulah kenapa tidur atau liburan singkat kadang terasa “enggak mempan”.
Istirahat memang membantu tubuh, tapi belum tentu memulihkan pikiran. Kalau yang membuatmu lelah adalah tekanan, overthinking, atau beban emosional, tubuh mungkin sudah diam, tetapi otakmu masih terus bekerja.
Fenomena ini juga didukung oleh penelitian Sabine Sonnentag dan Charlotte Fritz dalam jurnal Journal of Organizational Behavior (2007) berjudul The Recovery Experience Questionnaire: Development and Validation of a Measure for Assessing Recuperation and Unwinding from Work. Mereka menjelaskan bahwa pemulihan yang efektif bukan hanya soal berhenti bekerja, tetapi juga mampu benar-benar melepaskan diri secara mental dari sumber stres.
Artinya, kalau saat libur kamu masih kepikiran tugas, pekerjaan, kuliah, atau masalah yang belum selesai, otak tetap berada dalam mode siaga. Enggak heran kalau rasa lelahnya masih ikut terbawa.
Selain itu, banyak orang tanpa sadar mengisi waktu istirahat dengan aktivitas yang tetap menguras energi, seperti doomscrolling, membalas chat tanpa henti, atau merasa harus tetap produktif. Akibatnya, waktu istirahat berubah menjadi aktivitas lain yang sama-sama melelahkan.
Jadi, coba tanyakan ke diri sendiri, apakah kamu benar-benar sedang beristirahat, atau hanya berhenti bekerja?
Sesekali, coba lakukan hal yang benar-benar membuat pikiranmu “bernapas”. Jalan santai tanpa melihat ponsel, membaca buku, mendengarkan musik, atau sekadar menikmati waktu tanpa merasa harus menghasilkan sesuatu juga merupakan bentuk pemulihan yang penting.
Ingat, istirahat bukan tentang seberapa lama kamu rebahan, tapi seberapa jauh tubuh dan pikiranmu benar-benar diberi kesempatan untuk pulih.
Kalau artikel ini terasa relate, jangan lupa follow Instagram @sefruitmedia untuk membaca konten menarik lainnya seputar psikologi, self-growth, dan fenomena sehari-hari yang dekat dengan kehidupan Gen Z.